KORAN MERAPI – Genza Education memperkenalkan metode pembelajaran G-Mind Mastery yang dirancang untuk membantu siswa mengatasi berbagai hambatan belajar, mulai dari stres, rasa malas, hingga kecanduan gawai akibat tekanan akademik.
Founder dan konseptor G-Mind yang juga Branch Manager, Owner Mitra Genza Education Godean , Ratih Puspasari, menjelaskan bahwa keberhasilan belajar tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga kondisi mental siswa. Dalam kegiatan Sertifikasi Nasional Fasilitator G-Mind Genza Education, ia mengatakan menjejalkan rumus matematika dan materi ujian saat otak anak sedang jenuh atau stres adalah kesia-siaan.
“Karena itu kami fokus membenahi kondisi pikiran siswa terlebih dahulu agar proses belajar menjadi lebih efektif,” ujar Ratih Puspasari di di Kantor Genza Training Center, Jl. AM Sangaji Yogyakarta, Sabtu (11/7/26) pagi.
Menurutnya, metode G-Mind Mastery menggunakan pendekatan regulasi kondisi pikiran (mind-state regulation) untuk membantu siswa masuk ke kondisi rileks dan fokus sehingga lebih mudah menyerap materi pelajaran.
“Kami ingin siswa mencapai kondisi puncak atau peak performance secara sukarela, bukan karena tekanan. Ketika kondisi mentalnya siap, materi akan lebih mudah dipahami dan prestasi dapat meningkat,” kata Ratih.
Program ini dijalankan melalui empat layanan utama, yakni G-Mind Mapping sebagai asesmen awal, G-Mind Class yang diterapkan dalam kegiatan belajar harian, G-Mind Refresh & Recharge setiap bulan, serta G-Mind Lounge yang menyediakan layanan konsultasi dan relaksasi bagi siswa.

Direktur Utama Genza Education, M. Syamsul Maarif, mengatakan bahwa selama ini lembaga bimbingan belajar umumnya masih berfokus pada pengembangan aspek kognitif siswa, sementara kesiapan mental dalam belajar sering kali terabaikan. Padahal, banyak siswa datang dengan kondisi stres, lelah, bahkan memiliki trauma terhadap mata pelajaran tertentu.
“Melalui program G-Mind Mastery, kami ingin memberikan pondasi agar anak bisa belajar secara optimal. Fokusnya adalah memperbaiki mental belajar anak, mulai dari menciptakan rasa aman dan rasa senang ketika belajar. Ketika dua hal itu sudah terbentuk, maka proses belajar pada aspek kognitif akan berjalan lebih optimal,” ujar Syamsul.
Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi pembeda Genza dibandingkan bimbingan belajar pada umumnya karena tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga mempersiapkan kondisi psikologis siswa sebelum memasuki proses pembelajaran.
“Kami melihat bahwa kesiapan mental adalah kunci. Analogi sederhananya seperti rumah tiga lantai. Lantai pertama adalah otak reptil yang berkaitan dengan rasa aman, lantai kedua adalah otak mamalia yang berhubungan dengan emosi dan rasa senang, sedangkan lantai ketiga adalah neokorteks, tempat proses berpikir, menganalisis, dan belajar berlangsung. Anak tidak akan bisa mencapai proses belajar yang optimal di lantai ketiga jika lantai pertama dan kedua belum siap. Karena itu, kami menciptakan rasa aman terlebih dahulu, kemudian rasa senang, baru proses belajarnya berjalan,” jelasnya.
Peningkatan kualitas tutor dan pendekatan psikologis terhadap siswa menjadi materi yang dinilai paling berkesan dalam pelatihan Genza Education. Hal tersebut disampaikan Alfi Nugraha, salah satu peserta pelatihan yang juga merupakan tutor dan Branch Manager Genza Serpong
Menurut Alfi, hari pertama pelatihan berfokus pada peningkatan kompetensi tutor, mulai dari kemampuan mengajar hingga metode pembelajaran yang lebih sesuai dengan karakter siswa saat ini.
“Tutor adalah ujung tombak pembelajaran. Karena itu, kualitas mengajar, performa, dan kompetensinya harus terus ditingkatkan. Metode mengajar juga harus menyesuaikan dengan karakter siswa yang sekarang terbiasa menerima informasi secara cepat,” ujarnya.
Sementara pada hari kedua, peserta mendapatkan materi mengenai G-Mind Mastery, yang menekankan pentingnya memahami kondisi psikologis siswa sebelum berfokus pada aspek akademik.
“Sering kali yang menghambat siswa bukan kemampuan belajarnya, tetapi adanya mental block, luka batin, atau tekanan dari lingkungan. Pendekatan ini membantu memetakan kondisi psikologis siswa sehingga mereka lebih siap untuk berkembang,” kata Alfi. (Ags)






