KORAN MERAPI – Tidak terasa, kalender waktu kembali membawa kita mendekati bulan yang paling dirindukan. Di tengah hiruk-pikuk dunia tahun 2026 yang serba cepat dan penuh distraksi digital, Ramadhan hadir bukan sekadar sebagai ritual tahunan menahan lapar, melainkan sebagai titik jeda (pause button) untuk mengkalibrasi ulang hati kita.
Dua kata kunci yang harus menjadi fondasi kita tahun ini adalah: Ikhlas dan Bahagia.
Pertama: Ikhlas, yaitu Memurnikan Niat di Tengah Kebisingan. Ikhlas adalah ruh dari setiap amal. Tanpa keikhlasan, puasa hanya akan menjadi rutinitas biologis yang melelahkan. Di era di mana semua hal sering kali dipamerkan (flexing), menjaga niat agar tetap “hanya karena Allah” adalah tantangan sekaligus prestasi spiritual yang luar biasa.
Allah SWT berfirman mengenai perintah untuk memurnikan ketaatan: ”Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama…” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Kedua: Bahagia, dimana Menang Sebelum Berjuang. Mengapa kita harus bahagia? Karena Ramadhan adalah bentuk kasih sayang Tuhan. Jika kita menyambut tamu agung dengan cemberut, kita akan kehilangan keberkahannya. Kegembiraan dalam menyambut Ramadhan adalah tanda keimanan.
Bahagia di sini bukan berarti pesta pora saat berbuka, melainkan rasa syukur karena masih diberi umur untuk bertaubat.
Rasulullah SAW bersabda tentang kabar gembira ini: ”Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa di dalamnya; pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup…” (HR. Ahmad).
Untuk mewujudkan “Ikhlas dan Bahagia” tersebut, ada beberapa hal yang bisa kita siapkan, yaitu Pembersihan Jiwa (Tazkiyatun Nafs), selesaikan urusan dengan sesama manusia. Maafkan kesalahan orang lain agar hati kita ringan saat memasuki malam pertama tarawih.
Jangan hanya ikut-ikutan. Pelajari kembali fiqih puasa agar ibadah kita berdasar ilmu, bukan sekadar tradisi.
Selanjutnya Manajemen Ekspektasi, ini fokuslah pada kualitas ibadah, bukan sekadar kuantitas. Satu ayat yang dipahami maknanya jauh lebih membahagiakan jiwa daripada satu juz yang dibaca terburu-buru tanpa perenungan.
Ramadhan 2026 adalah kesempatan bagi kita untuk “pulang” ke jati diri kita yang asli sebagai hamba. Mari kita jalani dengan hati yang lapang (ikhlas) dan wajah yang berseri (bahagia). Sebab, siapa yang tahu apakah ini akan menjadi Ramadhan terakhir kita? Bagaimana menurutmu?. (*)



















