KORAN MERAPI – CV Smart Batik Indonesia, pelaku usaha batik inovatif mitra Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) asal Yogyakarta, memperkenalkan inovasi wastra berbasis potensi komoditas perkebunan Indonesia kepada Menteri Republik Indonesia, Budi Santoso, dalam gelaran Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 yang berlangsung pada 14-18 Oktober 2026 di ICE BSD, Tangerang. Pada kesempatan ini, CEO Smart Batik, Miftahudin Nur Ihsan, langsung menunjukkan hasil inovasi karya wastranya yang mengombinasikan teknik batik dengan lilin batik sawit dan teknik ecoprint dengan memanfaatkan daun kakao dan pewarna alami dari kulit kakao.
“Ini merupakan inovasi wastra terbaru kami, mengombinasikan batik sawit yang kami kembangkan selama ini dengan teknik ecoprint yang memanfaatkan daun kakao, yang kemudian diwarnai dengan pewarna alami dari kakao,” ungkap Miftahudin Nur Ihsan, alumni penerima beasiswa LPDP tersebut.
Inovasi ini mendapatkan apresiasi positif dari Menteri Perdagangan khususnya berkaitan dengan pewarna alami yang digunakan. Melalui pengembangan Batik Sawit dan eksplorasi bahan berbasis komoditas perkebunan, Smart Batik Indonesia menunjukkan bahwa sumber daya alam Indonesia dapat dikembangkan menjadi produk wastra dan fesyen bernilai tambah melalui kreativitas, inovasi material, serta pelestarian warisan budaya.
Kehadiran Smart Batik Indonesia membawa pesan bahwa inovasi batik tidak hanya dapat dilakukan melalui pengembangan motif dan desain, tetapi juga melalui eksplorasi material, proses produksi, serta pemanfaatan produk turunan komoditas Perkebunan, seperti sawit, kelapa, dan kakao.
Inovasi tersebut sejalan dengan upaya hilirisasi komoditas perkebunan, yaitu mendorong pemanfaatan sumber daya alam menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi. Dalam konteks industri batik, pendekatan ini sekaligus memperluas kemungkinan kolaborasi antara pelaku usaha wastra, industri perkebunan, peneliti, dan lembaga pendukung usaha.
Bagi Smart Batik Indonesia, inovasi bukan sekadar menghasilkan produk baru, melainkan membangun nilai tambah dengan tetap mempertahankan identitas batik sebagai warisan budaya Indonesia. Pengembangan motif tematik, eksplorasi bahan baku alternatif, dan penciptaan produk yang relevan dengan kebutuhan pasar menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam memperkuat daya saing wastra.
Partisipasi Smart Batik Indonesia dalam TEI 2026 menjadi bagian dari upaya memperkenalkan wastra inovatif kepada pasar yang lebih luas. Dengan mengangkat potensi sawit, kelapa, dan kakao, perusahaan berupaya menghadirkan perspektif baru bahwa
komoditas perkebunan Indonesia tidak hanya memiliki nilai ekonomi sebagai bahan mentah, tetapi juga berpotensi menjadi bagian dari ekosistem industri kreatif.
Ke depan, pengembangan wastra berbasis komoditas perkebunan membutuhkan penguatan riset material, konsistensi mutu, desain yang kompetitif, serta strategi pemasaran yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Kolaborasi lintas sektor juga diperlukan agar inovasi dapat berkembang dari tahap pengenalan menjadi produk yang memiliki keberlanjutan bisnis. (Rls)






