KORAN MERAPI — Mengawali rangkaian peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026, ratusan santri bersama jajaran instansi Pemkot Yogyakarta dan komunitas lingkungan menggelar aksi gotong royong “Reresik Kali Code” pada Jumat (16/10/2026). Berlokasi di Taman Perwira Prawirodirjan, Kemantren Gondomanan, aksi ini diwarnai antusiasme para santri yang langsung “nyemplung” ke aliran sungai demi membersihkan sampah.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Yogyakarta ini dibuka secara resmi oleh Pj Wali Kota Yogyakarta yang diwakili Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta, Rajwan Taufik, S.I.P., M.Si.
Aksi Reresik Kali Code ini melibatkan elemen luas, mulai dari santri madrasah dan pondok pesantren se-Kota Yogyakarta, jajaran Kemenag, personel dari 14 KUA se-Kota Yogyakarta, Satgas Sungai, Komunitas Pemerti Code, hingga warga masyarakat sekitar.
Dalam sambutannya, Kepala DLH Kota Yogyakarta Rajwan Taufik menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Kemenag Kota Yogyakarta. Ia menilai kegiatan ini sejalan dan mendukung penuh program Mas Jos (Masyarakat Jogja Olah Sampah).
“Kebersihan lingkungan merupakan bagian dari keimanan kita. Setelah konsentrasi penanganan sampah di depo dan titik sampah liar mulai terkondisikan, kini Pemkot fokus pada gerakan reresik sungai serta program M3K (Mundur, Munggah, Madhep Kali). Harapannya, ke depan Sungai Code dapat menjadi destinasi wisata unggulan di Kota Jogja,” ujar Rajwan.
Sementara itu, Kepala Kantor Kemenag Kota Yogyakarta, H. Ahmad Sidqi, S.Psi., M.Eng., menjelaskan bahwa peringatan Hari Santri rutin digelar untuk meneladani dan merawat semangat perjuangan para santri dalam merebut kemerdekaan. Salah satu bentuk merawat perjuangan tersebut di era sekarang adalah dengan menjaga keberlanjutan lingkungan.
“Reresik Kali Code ini mengajak santri dari madrasah dan ponpes se-Kota Jogja untuk peduli lingkungan agar Kota Yogyakarta tetap layak dan nyaman dihuni. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian HSN, dan puncak acaranya nanti adalah Apel Hari Santri yang digelar pada 22 Oktober mendatang di Balai Kota Yogyakarta,” terang Ahmad Sidqi.
Di lapangan, kesadaran menjaga sungai dirasakan langsung oleh para peserta. Fathurohman, salah satu relawan penyuluh, mengungkapkan bahwa limbah sampah plastik masih dominan ditemukan di aliran sungai. Hal senada diungkapkan Syaiful, santri dari salah satu ponpes di Jogja, yang mengaku prihatin melihat masih banyaknya sampah yang dibuang ke Kali Code.
Dukungan juga mengalir dari tokoh masyarakat dan pemerhati lingkungan. Penasehat Komunitas Bendung Surokarsan sekaligus sesepuh Kali Code, Harris Syarif Usman, menyampaikan terima kasih atas kepedulian Kemenag dan DLH Kota Yogyakarta. Ia mendorong agar aksi semacam ini dijadikan agenda rutin bertajuk Jumat Bersih secara periodik untuk sekolah, madrasah, dan pesantren.

“Kali Code adalah ikon Kota Jogja yang membelah tengah kota sekaligus penyangga Sumbu Filosofi. Jika para pelajar dan santri secara berkala diajak gotong royong, mereka akan tumbuh dengan rasa memiliki dan ikut merawatnya. Saya yakin Kali Code akan bersih dan berseri dengan keterlibatan generasi muda Jogja,” tegas Harris.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh sejumlah pejabat penting, antara lain Kabag Kesra Sekda Kota Yogyakarta Helmi Arifin, Kabid Pengendalian DLH Very Tri Jatmiko, S.Si., M.M., Kabid RTHP Andityo Bagus Baskoro, S.T., M.Eng., Mantri Pamong Praja (MPP) Mergangsan Drs. Suradi, M.Si., Cahya Wijayanta, S.Sos., Lurah Prawirodirjan Purnomo, S.E., serta Lurah Wirogunan Wahyu Madyaning Ratri, S.I.P. (Ags)



















