Rabu, 24 Juni 2026
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan
  • Redaksi
  • Kontak
  • Login
  • Register
Koran Merapi
Advertisement
  • Home
  • News
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Ekbis
  • Olahraga
  • Kesehatan
  • Wisata
  • Kuliner
  • Budaya
  • Opini
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Ekbis
  • Olahraga
  • Kesehatan
  • Wisata
  • Kuliner
  • Budaya
  • Opini
No Result
View All Result
Koran Merapi
No Result
View All Result
Home News

Refleksi 200 Tahun Perang Jawa: Seruan Bangkit Melawan Oligarki

admin by admin
18 Juli 2025
in News
0
0
SHARES
29
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

KORAN MERAPI – Dua abad setelah Perang Diponegoro (1825–1830), semangat perlawanan terhadap ketidakadilan kembali menggema dari Tanah Jawa. Dalam forum reflektif bertajuk “200 Tahun Perang Jawa: Saatnya Revolusi Melawan Oligarki Penjajah Gaya Baru” yang digelar di Jawa Village Resort, Sleman, Kamis malam (17/7/25) para budayawan, seniman, aktivis 80-an dan 98, serta tokoh nasional menyerukan pentingnya membangkitkan kembali karakter bangsa di tengah krisis arah dan dominasi kekuasaan elitis.

Forum ini dihadiri oleh sejumlah tokoh seperti Dr. Untoro Hariadi, Dr. Arie Sujito (UGM), budayawan Taufik Rahzen, Evi Idawati, Ketua Patra Padi Rahadi Saptata Abra, serta Wakil Menteri Sosial RI Agus Jabo Priyono. Dalam sambutannya, Agus Jabo menegaskan bahwa peringatan ini bukan seremoni historis semata, melainkan momentum membangkitkan kembali visi kemerdekaan sejati.
“Diponegoro bukan hanya tokoh perang. Ia adalah simbol perlawanan terhadap dominasi asing dan pengkhianatan elite lokal. Jika ia hidup hari ini, ia pasti melawan oligarki yang mencabut akar kedaulatan,” tegas Agus Jabo, seraya menyebut bahwa pemerintahan baru di bawah Prabowo Subianto membawa harapan untuk membangun kemandirian bangsa.
Wakil Menteri Sosial RI Agus Jabo Priyono memberikan sambutannya. (Foto: Istimewa)
Ketua Panitia, Sigit Sugito, menekankan bahwa karakter Jawa yang diwariskan Diponegoro bukan ‘nrimo’ pasrah, melainkan keras kepala terhadap ketidakadilan dan teguh secara spiritual.
“Diponegoro bukan sekadar panglima, tapi sufi pejuang. Ia memilih hidup bersama rakyat, meninggalkan istana demi perjuangan,” ujarnya.
Forum ini menyerukan pentingnya membangun kembali kepemimpinan berbasis moral, bukan warisan. Melawan feodalisme gaya baru, membela wong cilik, dan menghidupkan kembali gotong royong sebagai fondasi kebangsaan.
“Bangsa ini butuh arah. Bukan sekadar ganti rezim, tapi ganti cara berpikir. Diponegoro mengajarkan: keberanian moral adalah kunci merdeka sejati,” tutup Sigit. (Ags)

 

Tags: 200 tahun Perang DiponegoroAgus Jabo PriyonoKoranmerapi.idWakil Menteri Sosial RI

Related Posts

Menjaga Renyahnya Bisnis Mahioka Frozen: Dari Singkong Hotelan hingga Tembus Supermarket. Ini Buktinya!
News

Menjaga Renyahnya Bisnis Mahioka Frozen: Dari Singkong Hotelan hingga Tembus Supermarket. Ini Buktinya!

24 Juni 2026
DePA-RI Desak Revisi UU Advokat Berorientasi Pada Kualitas Profesi Dan Kepentingan Pencari Keadilan 
News

DePA-RI Desak Revisi UU Advokat Berorientasi Pada Kualitas Profesi Dan Kepentingan Pencari Keadilan 

23 Juni 2026
Usulkan Udin Pahlawan Nasional Bidang Jurnalistik, PWI DIY Bentuk Tim Adhoc dan Gelar Rakor
News

Usulkan Udin Pahlawan Nasional Bidang Jurnalistik, PWI DIY Bentuk Tim Adhoc dan Gelar Rakor

23 Juni 2026
UPN Veteran Yogyakarta Dampingi Louby Batik, Perkuat Branding dan Daya Saing Digital
News

UPN Veteran Yogyakarta Dampingi Louby Batik, Perkuat Branding dan Daya Saing Digital

23 Juni 2026
Menakar Manisnya Sukses Bakpia Jogkem di Bawah Komando Ariyanto
News

Menakar Manisnya Sukses Bakpia Jogkem di Bawah Komando Ariyanto

22 Juni 2026
Langkah Sehat MOM Berkolaborasi dengan Stakeholder di Kelurahan Kadipaten
News

Langkah Sehat MOM Berkolaborasi dengan Stakeholder di Kelurahan Kadipaten

20 Juni 2026