KORAN MERAPI — Deru napas industri fashion modern seringkali menggilas yang tradisional. Namun, di sebuah bangunan berlantai dua di Gang Menur, Kampung Gandekan, Maguwoharjo, Sleman D.I Yogyakarta, cerita yang berbeda sedang ditulis. Rumah sekaligus galeri tersebut menjadi saksi bisu bagaimana selembar kain batik mampu bertransformasi menjadi media edukasi, teknologi, bahkan simbol keramahan lingkungan.
Di sanalah CV. Smart Batik Indonesia bernaung. Sebuah usaha inovatif yang dimotori oleh R. Miftahudin Nur Ihsan, SPd, MBA, yang biasa disapa Ihsan, seorang pemuda kelahiran 11 Agustus 1993 yang kini dikenal sebagai Tokoh Muda Inovator UKM. Bersama sang istri, Dinar Indah Lufita Sari, dan putra kecil mereka, Muhammad Al Fatih Hafidzulhaq, Ihsan membangun kerajaan kreativitas ini sejak tahun 2018.
Ihsan bukanlah perajin batik biasa. Latar belakang pendidikannya adalah perpaduan sarat prestasi antara sains dan bisnis: lulusan Pendidikan Kimia Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan peraih gelar Magister Manajemen (MBA) dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan IPK nyaris sempurna, 3,97.
Ilmu kimia yang digenggamnya tidak menguap begitu saja. Di tangan Ihsan, batik tidak lagi sekadar urusan motif klasik bercorak gelap. Ia membawa gebrakan ramah lingkungan dengan beralih ke malam sawit (lilin sawit).
“Kami bersama para perajin binaan sekarang memakai malam sawit dalam membatik. Malam ini jauh lebih sehat untuk pernapasan para pembatik karena mengganti sebagian bahan parafin yang berasal dari minyak bumi,” ujar Ihsan saat ditemui Koranmerapi.id di galerinya, Senin (8/6/2026).
Langkah inovatif ini tidak hanya menyehatkan, tetapi juga membawa dampak sosial yang masif. Hingga saat ini, Smart Batik Indonesia telah membina 70 pengrajin batik yang tersebar di wilayah DIY dan Jawa Tengah, di mana mayoritas dari mereka memproduksi batik cap malam biasa serta batik tulis menggunakan inovasi berbasis sawit ini.
Jika berkunjung ke galeri Smart Batik, bersiaplah untuk terkesima. Di sini, kain batik bercerita tentang ilmu pengetahuan. Lebih dari 100 motif cap dan 200 motif batik tulis telah lahir dari tangan dingin Ihsan dan timnya.
Koleksi motif tematik mereka mencakup berbagai bidang yang tak biasa di dunia perbatikan, yaitu Sains dan Akademik, dengan Motif Matematika, Biologi, dan Bahasa.
Kemudian Sektoral dan Industri, seperti Musik, Olahraga, Pertanian, hingga motif Kelapa Sawit yang kini menjadi salah satu pilar bisnisnya melalui payung Batik Sawit. Lebih membanggakan lagi, karya batiknya telah dikenalkan kepada Presiden, Wakil Presiden, Menteri Keuangan, Menteri Perindustrian, dan Pejabat tinggi lainnya.
“Kami ada batik motif matematika, biologi, pertanian, musik, olahraga, dan bahasa serta dari semua bidang itu kita punya. Tapi tetap, yang menjadi favorit adalah batik yang bukan sekadar karya seni, melainkan punya filosofi yang sangat tinggi. Ini adalah warisan budaya yang benar-benar luar biasa karena terbukti bisa bertahan ratusan tahun,” pungkas pria yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Rumah Kreatif Perkebunan Indonesia tersebut.
Kerja keras Ihsan sejak 2018 tidak hanya membuahkan hasil secara materiil, yang terbukti dari berdirinya rumah dan galeri dua lantai hasil jerih payahnya membatik, tetapi juga pengakuan nasional hingga internasional.
Rekam jejak prestasi dan kontribusi strategis Miftahudin Nur Ihsan beberapa tahun terakhir, di tahun 2025, sebagai Pemenang Indonesia Halal Industry Awards Kategori Industri Tekstil dan Apparel Halal Terbaik (Kemenperin) dan Penghargaan Tokoh Muda Inovator UKM Sawit (Majalah Sawit Indonesia).
Di tahun 2024 mendapatkan Penghargaan Pemuda Berprestasi dari Gubernur DIY, Delegasi Indonesia pada Innovation Festival NUS RI di Suzhou, China dan Top 10 Anugerah Bangga Buatan Indonesia Kategori Modest Fashion.
Sebagai sosok yang kerap diundang sebagai narasumber kewirausahaan di ratusan forum nasional, Ihsan menaruh harapan besar pada pundak generasi muda, khususnya Generasi Z dan Alfa.
Bagi Ihsan, masa depan pelestarian batik terletak pada keberanian mengubah cara pandang kaku terhadap warisan nusantara ini.
“Saya berharap kita bisa bersama-sama melestarikan batik dengan cara yang sesuai dengan karakter dari teman-teman generasi Alfa. Jadi batik itu tidak melulu terkait dengan motif-motif klasik warna-warna gelap. Batik itu adalah proses, karya seni yang diproduksi menggunakan lilin panas atau malam yang dicairkan,” urai Ihsan penuh semangat.
Ia menambahkan bahwa anak muda zaman sekarang bebas berkreasi, baik dari segi modifikasi motif maupun tabrakan warna yang lebih berani. Ketika masuk ke dalam industri fashion, batik dapat dijahit menjadi model baju modern yang sesuai dengan jiwa muda, sehingga tidak lagi diidentikkan sebagai “pakaian orang tua”.
“Dan syukur lagi kalau teman-teman generasi Z dan Alfa juga bisa memulai mengisi peran sebagai wirausaha di bidang batik ini. Ini akan sangat membantu pelestarian batik Indonesia. Pesan pentingnya “Batik Harus Dijaga!”, tegas Ihsan menutup perbincangan. (Ags)




















