KORAN MERAPI — Suasana pagi di kawasan cagar budaya Njeron Beteng terasa berbeda dan penuh semangat. Sebanyak 25 peserta yang terdiri dari jajaran pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) DIY, wartawan, serta keluarga jurnalis berkumpul untuk mengikuti agenda jalan sehat komunitas Mlaku Ora Mlayu (MOM), Sabtu pagi (20/6/2026). Mengambil tema besar “Menjelajah Jejak Sejarah & Budaya Njeron Beteng”, kegiatan ini bukan sekadar ajang olahraga, melainkan sebuah gerakan kolaboratif untuk menyelami kekayaan heritage sekaligus mendukung pengembangan potensi lokal berbasis kemitraan masyarakat.
Agenda MOM kali ini terasa istimewa dengan kehadiran Mantri Anom Kemantren Kraton, Sulasmi, serta pengurus Tuwanggana Kadipaten. Kegiatan secara resmi dilepas langsung oleh Sulasmi dari titik start di Kemantren Kraton. Dalam sambutannya sebelum melepas para peserta, Sulasmi mengungkapkan rasa apresiasi dan kehormatan yang mendalam atas dipilihnya wilayah Kelurahan Kadipaten sebagai rute jelajah sejarah dan budaya ini.

“Kami menyampaikan terima kasih sekali. Agenda pagi ini merupakan suatu kehormatan bagi kami karena menyusuri wilayah Kemantren Kraton, khususnya wilayah Kelurahan Kadipaten. Ini merupakan kegiatan wisata sekaligus lokasi refreshing yang sangat baik bagi para peserta,” ujar Sulasmi.
Lebih lanjut, Sulasmi berharap momentum kolaborasi ini mampu membawa dampak positif yang lebih luas bagi wilayahnya yang tengah berkompetisi di tingkat provinsi. “Harapan kami, kegiatan ini dapat menunjang penilaian Kelurahan Kadipaten untuk maju ke tingkat regional. Mohon doanya dari teman-teman wartawan sekalian agar Kelurahan Kadipaten mendapatkan yang terbaik dan meraih juara,” tambahnya.
Esensi dari pelaksanaan kegiatan jalan sehat ini turut ditegaskan oleh Ketua PWI DIY, Hudono, yang ikut serta menyusuri setiap sudut historis rute tersebut. Hudono menjelaskan bahwa esensi utama dari MOM, yang memiliki kepanjangan Mlaku Ora Mlayu adalah membangun kesadaran akan pentingnya kesehatan fisik bagi para pekerja media, sembari tetap menjaga kepekaan sosial terhadap realitas di sekitar mereka.
“MOM kali ini merupakan langkah nyata kita berkolaborasi dengan stakeholder dan tokoh-tokoh masyarakat untuk menelusuri wilayah yang penuh nilai sejarah. Selain bersilaturahmi, kita juga ingin sehat selalu. Berjalan kaki itu manfaatnya luar biasa banyak, seperti merawat jantung, mengontrol kolesterol, dan sebagainya,” jelas Hudono.
Ia menekankan bahwa kegiatan ini lahir dari basis kultural kebersamaan jurnalis yang cair dan non-formal. “Kegiatan ini bukan program formal melainkan inisiatif murni dari teman-teman pengurus. Yang penting wartawan itu harus sehat. Kalau tidak sehat, tentu tidak bisa menjalankan kerja-kerja jurnalistik dengan optimal. Kita membudayakan jalan sehat, tetapi tidak lari,” tegasnya.

Melalui rute yang menyentuh kawasan permukiman warga, Hudono menyebut bahwa kegiatan ini melatih kepekaan sosial para jurnalis, karena rute yang dilalui mencakup wilayah-wilayah yang secara nyata masih memerlukan uluran bantuan serta perhatian sosial dari berbagai pihak.
Kelurahan Kadipaten kini tengah gencar mengusung semboyan sekaligus branding pariwisata teranyar mereka, yaitu “Wis Kawentar” yang merupakan akronim dari Wisata Kadipaten Wahana Seni Ekonomi Kreatif Budaya dan Tradisi. Konsep ini dipaparkan langsung oleh Pinituwa Tuwanggana Kadipaten, Haryawan Emir Nuswantoro, atau yang akrab disapa Pak Emir, yang dalam kesempatan ini bertindak langsung sebagai penunjuk jalan (tour guide) bagi rombongan MOM.
Menurut Emir, branding “Wis Kawentar” lahir sebagai langkah inovatif yang komprehensif guna meningkatkan roda perekonomian warga sekaligus sebagai instrumen pengentasan kemiskinan di wilayah hilir. Strategi ini diwujudkan dengan menggarap potensi destinasi pariwisata di empat kampung utama sebagai lokomotif penggerak pembangunan di tingkat kampung dan kelurahan.
“Kampung Ngasem, Kadipaten Kulon, Kadipaten Wetan, dan Kadipaten Kidul memiliki potensi sejarah, budaya, dan ekonomi yang sangat spesifik dan unik. Karakteristik khas inilah yang layak dan kompetitif untuk dikembangkan menjadi destinasi pariwisata unggulan yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat lokal,” urai Pak Emir di sela-sela memandu rute.
Sepanjang perjalanan, rombongan diajak berjalan santai namun interaktif, singgah di berbagai situs warisan budaya (heritage) penting yang menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Ngayogyakarta Hadiningrat, di antaranya, yaitu Situs Sejarah Utama, seperti Plengkung Jagasura, Plengkung Jagabaya, Markas Gerilya, Pojok Beteng/Gardu, hingga Tamansari.
Kemudian Situs Kebudayaan Penting, seperti Pesanggrahan Garjitowati, yang memegang nilai historis tinggi sebagai lokasi Pangeran Mangkubumi mendeklarasikan berdirinya Ngayogyakarta Hadiningrat.

Tidak hanya objek wisata arus utama (mainstream), rute MOM kali ini juga menyusuri sisi humanis dan seni dari Kelurahan Kadipaten dengan melewati destinasi unik berupa hunian bersejarah para maestro tanah air, seperti rumah indekos musisi legendaris Ebiet G. Ade semasa SMA, rumah hunian sutradara kondang Hanung Bramantyo saat ini, hingga kediaman pelawak legendaris Indonesia, Atmonadi dan Joni Gudel.
Rangkaian agenda jelajah budaya ini diakhiri dengan sesi foto bersama di area destinasi wisata untuk mengabadikan momen kebersamaan. Menutup kegiatan, seluruh peserta dijamu hangat dengan sajian sarapan pagi khas lokal yang telah disediakan khusus oleh Pinituwa Tuwanggana Kadipaten, Haryawan Emir Nuswantoro. Kebersamaan yang penuh kehangatan ini menjadi pemacu semangat bagi para wartawan untuk terus konsisten berkarya dalam kondisi bugar, seraya menantikan kejutan rute bersejarah pada episode gerakan Mlaku Ora Mlayu (MOM) berikutnya. (Ags)






