KORAN MERAPI – Aku bukan orang alim. Bukan pula ustaz yang fasih berdalil. Aku hanya seorang laki-laki biasa, suami dari istri yang setia, dan bapak dari anak-anak yang menjadi jantung hidupku. Tapi satu hal yang kupelajari dari perjalanan hidupku: jangan pernah remehkan kekuatan ibadah.
Suatu malam, saat kami sekeluarga duduk lesehan di ruang tamu, istriku menatapku lirih. Kami baru saja melewati bulan-bulan sulit. Usaha menurun, pemasukan tersendat, kebutuhan rumah tangga tak pernah menunggu.
Mas, kalau kita masih seperti ini bulan depan, kita harus jual motor,” bisik istriku, suaranya bergetar menahan air mata.
Aku terdiam. Tapi dalam hatiku justru menguat. “Bu, kita belum kehabisan ikhtiar. Kita belum kehabisan doa.”
Aku kemudian mengambil wudhu. Dan malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, aku memaksimalkan shalat malam. Dalam sujud panjang, aku bisikkan semua hajatku kepada Allah. Bukan dengan tangisan yang berisik, tapi dengan hati yang patah dan penuh harap.
Aku teringat satu ayat:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembah-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)
Ya, hidup ini ternyata bukan untuk kerja memburu harta, apalagi mengejar jabatan. Hidup ini tentang menyembah, beribadah. Tentang menjadi hamba yang tahu diri.
Sejak malam itu, aku ubah seluruh orientasi hidupku. Jualan bukan lagi soal untung dan rugi, tapi cara menunggu rezeki sambil berdzikir. Kalau ada pembeli, aku sambut dengan senyum dan bacaan “Bismillah”. Kalau tak ada pembeli, aku anggap Allah sedang memberiku waktu untuk lebih banyak shalawat, lebih khusyuk berdzikir.
Dalam perjalanan, aku temukan satu prinsip yang luar biasa dari para salafus shalih: Ibadah bukan cuma kewajiban, tapi rayuan halus kepada Sang Maha Pemberi.
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Thalaq: 2–3)
Suatu hari, saat aku hanya duduk di depan lapakku sambil membaca ya latif berulang kali, datang seorang pembeli dari luar kota. Tak hanya membeli, dia borong hampir semua barangku.
Sebelum pergi, dia berkata, “Mas, saya senang dengan wajah sampean. Damai sekali. Matur nuwun ya.”
Aku tertegun. Hari itu aku pulang membawa rezeki lebih dari cukup. Tapi lebih dari itu, aku bawa penguatan iman bahwa janji Allah itu nyata.
“Dan tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (QS. Hud: 6)
Sejak itu, aku ajarkan anak-anak untuk tidak bergantung pada pekerjaan sebagai sumber utama. “Sekolah yang sungguh-sungguh, Nak. Tapi jangan lupa, hidup ini bukan tentang gelar. Kerja itu penting, tapi ibadah itu utama. Kalau doa belum dikabulkan, sabar ya. Terus rayu Allah dengan shalat, dzikir, sedekah. Jangan mengeluh.”
Mereka mulai paham. Istriku pun berubah. Masakan yang ia sajikan kini dimulai dengan basmalah dan dzikir dalam hati. Saat mengelap meja, dia berucap, “Ini kan bagian dari ibadah juga, ya, Mas?”
Aku tersenyum. Kami memang bukan keluarga sempurna. Tapi kami sedang belajar menjadi keluarga yang mengabdi, bukan hanya bekerja.
Kini, kalau ada yang tanya padaku, “Mas, kerja apa sekarang?” Aku jawab: “Aku sedang kerja. Tapi kerja paling seriusku adalah merayu langit lewat ibadah. Bukan semata cari duit, tapi menjemput rezeki dari arah yang tak terduga.”
“Doa kalian akan dikabulkan selama kalian tidak tergesa-gesa dan berkata: ‘Aku sudah berdoa tapi belum dikabulkan.’” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dunia ini, kami sadari, cuma tempat singgah. Hidup sesungguhnya ada di akhirat. Dan ibadah adalah bekal terbaik dalam perjalanan menuju sana.
Aku, Sitor, hanya ingin dikenal sebagai orang yang mencoba merayu Allah dengan tulus. Kalau hari ini rezekiku datang, itu karena Allah menghendaki. Tapi kalau belum datang juga, aku tahu, Dia sedang rindu untuk lebih sering didatangi. (*)















