Sabtu, 10 Oktober 2026
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan
  • Redaksi
  • Kontak
  • Login
  • Register
Koran Merapi
Advertisement
  • Home
  • News
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Ekbis
  • Olahraga
  • Kesehatan
  • Wisata
  • Kuliner
  • Budaya
  • Opini
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Ekbis
  • Olahraga
  • Kesehatan
  • Wisata
  • Kuliner
  • Budaya
  • Opini
No Result
View All Result
Koran Merapi
No Result
View All Result
Home News

​Menjaga Denyut Peradaban Mataram Islam lewat Keris dan Panahan di Peken Klangenan Kotagede

admin by admin
1 Juni 2026
in News
0
0
SHARES
28
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

KORAN MERAPI — Di bawah naungan rindang pohon-pohon tua yang menjaga keheningan Situs Pusaka Beteng Cepuri, Kotagede. Aroma harum dupa, dan rontokan bunga mawar menguar lembut, berbaur dengan riuh rendah tawa pengunjung yang memadati Situs Pusaka Beteng Cepuri. Akhir pekan ini, situs bersejarah yang menjadi saksi bisu berdirinya Kerajaan Mataram Islam itu kembali hidup, merayakan satu tahun perjalanan sebuah ruang temu budaya bernama Peken Klangenan Kotagede (PKK), yang di gelar setiap hari Sabtu dan Minggu.

​Mengusung tema besar #kembalikeakar, helatan yang berlangsung pada 30-31 Mei 2026 ini bukan sekadar pasar biasa. Ia menjelma menjadi sebuah mesin waktu yang mempertemukan romantisme masa lalu dengan dinamika masa kini. Fokus perayaan tahun pertama ini begitu magis dan mendalam: Pameran & Edukasi “Keris Pusaka Kotagede” serta pengenalan kembali tradisi jemparingan melalui mini workshop panahan tradisional.

​”Peken Klangenan Kotagede lahir dari sebuah gelisah sekaligus kerinduan,” ungkap Awang Kagunan, kreator sekaligus pendiri (founder) Peken Klangenan Kotagede saat ditemui di sela-sela acara. “Tempat ini kami rancang sebagai pasar wisata berbasis budaya yang berfungsi sebagai ruang temu antargenerasi. Selama satu tahun ini, kami konsisten bergerak agar warisan leluhur tidak berakhir di etalase museum yang dingin, melainkan hidup, bernapas, dan menghidupi masyarakatnya. Melalui tagar #kembalikeakar, kami mengajak generasi muda untuk kembali menengok identitas asli mereka, salah satunya lewat mahakarya keris dan ketangkasan panahan,” jelasnya.

​Sejak dibuka pada Sabtu pagi, 30 Mei 2026, atmosfer sakral sudah terasa kuat. Rangkaian acara diawali tepat pukul 10.00 WIB dengan Pembukaan Pameran Keris yang diiringi ritual Umbul Dungo JAPA ASTRA MANTRA. Rapalan mantra yang dibawakan oleh Ki E. Hendi Wiratirta dan Ki Supriyadi Sapta mengalun khidmat di tengah iringan musik magis Nanang Garuda, sementara penari Widi Clepret bergerak gemulai, menerjemahkan doa-doa keselamatan ke dalam bahasa gerak tubuh.

​Tak kalah memikat, sudut lain dari Pasar Klangenan Kotagede oleh para pencinta literasi dan sejarah dalam sesi Cerita di Kebon #3: Nitik Lampah Kotagede. Dipantik .oleh Madha Soentoro bersama narasumber M. Yaser Arafat dan Ki Supriyadi Sapta, diskusi ini mengupas tuntas jalinan sejarah Kotagede yang berlapis. Eksplorasi estetika pun berlanjut lewat penampakan monolog emosional dari Syamsu Setiaji, aksi teatrikal Lukis on the Spot oleh pelukis Koko, hingga keanggunan gerak Tari Manuk Dadali dan Tari Klasik Golek Ayun-Ayun yang dibawakan manis oleh penari-penari Sanggar Sekarjati Pleret Bantul.

​Kekuatan utama dari perayaan ini terletak pada kolaborasi erat antarkomunitas. Peken Klangenan Kotagede berhasil menggandeng Kasatriyan Galeri, KKKK, Besalen Bulkiyo (Kasatriyan Dalem Suryenglagan), dan Perkumpulan Panahan Berkuda Indonesia (KPBI). Sinergi ini melahirkan sebuah ekosistem edukasi yang hidup. Pengunjung tidak hanya melihat keris yang sudah jadi, tetapi juga bisa memahami filosofi pembuatannya langsung dari para empu dan pelestari budaya seperti Zainal Arifin, Tedjo Moertopo, Alexandri Luthfi, Uni Yutta, Ki Sabda Carita, dan seniman lainnya.

​Keunikan lain yang menjadi magnet bagi anak-anak muda dan dewasa adalah Mini Workshop: Mengenal Panahan yang dipandu oleh Roy dari KPBI. Hanya dengan biaya terjangkau sebesar 25 ribu rupiah, pengunjung mendapatkan lima kali kesempatan memanah yang dipandu langsung oleh mentor profesional. Di sini, mereka belajar bahwa memanah tradisional bukan sekadar olahraga ketangkasan fisik, melainkan latihan spiritual untuk melatih kefokusan, ketenangan, dan keselarasan rasa.

​”Kotagede adalah akar peradaban besar. Ketika kita bicara tentang keris pusaka atau panahan, kita sedang membicarakan teknologi, seni, dan falsafah hidup manusia Jawa tempo dulu,” tambah Awang Kagunan dengan mata berbinar. “Di Peken Klangenan, tradisi ini berdialog dengan modernitas.

Lihat saja bagaimana malam harinya kami menutup acara dengan Parade DJ & Live Music Coding dalam pembukaan Sabandalu Kotagede. Ini bukti bahwa tradisi tidak kaku; ia fleksibel dan bisa selaras dengan tren masa kini tanpa kehilangan jiwanya.”.

​Saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat Beteng Cepuri, suasana berganti rupa namun tetap memikat. Mulai pukul 16.00 hingga 21.00 WIB, musik elektronik modern lewat Parade DJ & Live Music Coding berdentum di antara pilar-pilar bangunan kuno. Ini merupakan penanda diresmikannya Sabandalu Kotagede oleh Peken Klangenan Kotagedesebuah ruang kreatif baru yang, nantinya akan beroperasi rutin setiap hari Selasa hingga Minggu, mulai pukul 15.00 hingga 22.00 WIB.

​Melalui perayaan satu tahun ini, Peken Klangenan Kotagede menegaskan posisinya bukan sekadar destinasi wisata musiman. Ia adalah sebuah gerakan kebudayaan yang konsisten menjaga api tradisi agar tetap menyala di dada generasi masa kini, memastikan bahwa langkah kaki menuju masa depan tidak pernah melupakan tanah tempat mereka berakar. (Ags)

Tags: Beteng CepuriKerisKoranmerapi.idPanahanPeken Klangenan Kotagede

Related Posts

Kontingen Rayon Mergangsan Siap Berlaga di FASI Kota 2026, Kirimkan 133 Santri Terbaik
News

Kontingen Rayon Mergangsan Siap Berlaga di FASI Kota 2026, Kirimkan 133 Santri Terbaik

10 Oktober 2026
Politisi PDIP Eko Suwanto Desak Pemerintah Tingkatkan Dana Keistimewaan DIY & Dana Desa dalam APBN 2027
News

Politisi PDIP Eko Suwanto Desak Pemerintah Tingkatkan Dana Keistimewaan DIY & Dana Desa dalam APBN 2027

9 Oktober 2026
Calon Tunggal, Dessy Arfianto Ditetapkan Sebagai Ketua PSSI Provinsi DIY Periode 2026-2030
News

Calon Tunggal, Dessy Arfianto Ditetapkan Sebagai Ketua PSSI Provinsi DIY Periode 2026-2030

9 Oktober 2026
Bupati Gunungkidul Tekankan Integritas ASN dan Pamong, Rencanakan Pembangunan Berbasis Dusun pada 2027
News

Bupati Gunungkidul Tekankan Integritas ASN dan Pamong, Rencanakan Pembangunan Berbasis Dusun pada 2027

9 Oktober 2026
Timor Leste Buka Jalan ke Asia Championship 2027 di Sentul
News

Timor Leste Buka Jalan ke Asia Championship 2027 di Sentul

9 Oktober 2026
KAI Daop 6 Yogyakarta Raih Prestasi Gemilang di Ajang Anugerah Humas Indonesia 2026
News

KAI Daop 6 Yogyakarta Raih Prestasi Gemilang di Ajang Anugerah Humas Indonesia 2026

9 Oktober 2026