KORAN MERAPI – Langkah kaki Alfa Pratomo (47) tampak mantap menyusuri rute Bethesda Heritage Run 2026 pada Minggu pagi (17/05/2026). Di sampingnya, ikut berlari sang dokter spesialis saraf yang selama ini merawatnya, Prof. Dr. Rizaldy T. Pinzon, Sp.S.
Keduanya bahu-membahu menuntaskan jarak 5 kilometer, bukan demi mengejar podium, melainkan untuk membawa sebuah misi besar: menyebarkan optimisme kesembuhan bagi para penyintas stroke lumpuh.
Penyintas stroke lumpuh bisakah kembali berlari? Stigma jamak di masyarakat itulah yang berhasil dipatahkan oleh Alfa. Pria berkacamata yang memang menggemari olahraga lari sejak tahun 2012 ini, sempat berada di titik nadir ketika divonis mengalami stroke pendarahan di otak kanan sebesar 600 ml. Serangan itu membuatnya lumpuh dan harus berjuang di ruang ICU selama tiga minggu.
“Awalnya dulu saya mendapatkan afirmasi negatif yang mematahkan semangat saya. Ada yang bilang kalau sudah lumpuh karena stroke, sulit untuk bisa lari lagi, bahkan untuk sekadar berjalan,” kenang Alfa saat mengisahkan kembali perjuangannya.
Namun, Alfa menolak menyerah pada vonis lingkungan. Dukungan tak bertepi dari istri, orang tua, hingga lingkaran pertemanan di komunitas Alumni De Britto Yogyakarta menjadi bahan bakar utama baginya untuk bangkit. Alfa mulai merajut kembali mimpi yang sempat terkoyak: merasakan lagi atmosfer riuh dan haru saat menginjak garis finish di sebuah ajang lari resmi.
Keajaiban medis yang dibarengi tekad baja itu berbuah manis. “Puji syukur, tahun 2023 saya bisa comeback lari lagi di kategori 10 Km di Borobudur Marathon usai pulih dari kelumpuhan,” ujar Alfa melalui sambungan telepon seluler dengan nada penuh rasa syukur.

Aksi Alfa berlari berdampingan dengan Prof. Rizaldy di ajang Bethesda Heritage Run menjadi pemandangan yang menyentuh sekaligus sarat pesan edukatif. Kehadiran sang dokter di samping pasiennya menegaskan bahwa pemulihan total dari stroke bukanlah hal yang mustahil jika ditangani dengan tepat dan diikuti semangat juang pasien.
Melalui momen ini, Prof. Rizaldy turut memberikan edukasi langsung kepada masyarakat bahwa berolahraga pasca-stroke adalah hal yang aman, tentunya dengan beberapa catatan medis yang wajib diperhatikan.
“Yang pasti saat berolahraga tidak boleh berlebihan dan terlalu capek. Selain itu, harap selalu diperhatikan detak jantungnya,” ujar Prof. Dr. Rizaldy T. Pinzon, Sp.S, sebagaimana disampaikan ulang oleh Alfa.
Prof. Rizaldy menambahkan, jenis olahraga yang dapat dilakoni oleh para penyintas stroke sangat beragam, mulai dari jalan kaki, berenang, bersepeda, hingga olahraga lari seperti yang ditekuni oleh Alfa.
Bagi Alfa, jarak 5 kilometer yang ditempuhnya hari ini barulah awal dari langkah-langkah panjang berikutnya. Ke depan, ia memendam harapan besar untuk bisa berolahraga bersama dengan sesama penyintas stroke. Ia ingin energi positif dan semangat kesembuhan yang dimilikinya bisa menular luas, memberikan harapan baru bagi mereka yang saat ini masih berjuang di ranjang pemulihan.
Menutup perbincangan, Alfa menitipkan sebuah pesan kuat bagi siapa saja yang sedang berhadapan dengan penyakit ini: “Stroke lumpuh itu bukan akhir dari segalanya. Jangan menyerah pada keadaan, karena harapan dan kesembuhan itu selalu ada.” (Ags)








