KORAN MERAPI – Gemericik air dan riak gelombang memecah keheningan Sabtu pagi (22/8/2026) di bantaran Kali Code, Yogyakarta. Sembilan perahu karet berwarna mencolok tampak membelah arus, menyusuri sudut-sudut pemukiman padat yang eksotik. Hari itu, sebuah sejarah baru diukir: uji coba urban rafting kota pertama resmi melintasi jantung Kota Gudeg.
Inisiatif ini lahir dari kolaborasi Pemerti Code, Thetrekker (Feri Iskandar), dan Jogja Adventure Kids (Zaeni Mansyur). Melibatkan warga komunitas, Kampung Tangguh Bencana (KTB), hingga perwakilan pelajar SMA, rombongan mengarungi sungai selama satu jam. Rute membentang dari titik awal di belakang Hotel Tentrem Cokrodiningratan hingga berakhir di Jembatan Kewek, Kotabaru, Kota Yogyakarta.
Meski debit air di puncak musim kemarau Agustus cenderung tipis, tantangan tetap terasa seru. Di sela pengarungan, para peserta juga melarung bibit pohon gayam dan keben sebagai simbol komitmen konservasi.

Bagi masyarakat lokal, momen ini bukan sekadar simulasi olahraga ekstrem, melainkan puncak dari perjuangan panjang. Sesepuh Pemerti Code, Harris Syarif Usman, tak mampu menahan haru saat perahu mendarat.
“Hari ini kami menangis. Dua puluh enam tahun sejak tahun 2000 kami berjuang agar sungai ini bersih. Kali Code bukan lagi ‘got raksasa’, tetapi aset berharga yang siap jadi destinasi wisata unggulan setelah Malioboro,” ujar Harris.
Pencapaian ini tak lepas dari program normalisasi sungai yang digencarkan Pemkot Yogyakarta di bawah arahan Walikota Hasto Wardoyo bersama lintas OPD (DLH, PUPR, Pariwisata, Satpol PP, Kominfo, Bappeda) serta BBWS SO.
Berdasarkan data BPS Kota Yogyakarta, terdapat sekitar 4.237 KK yang tinggal di bantaran Code, dengan 32 persen di antaranya masuk kategori masyarakat berpenghasilan rendah. *Urban rafting* menjadi bagian dari penataan bantaran berbasis ekonomi warga sesuai kerangka KLHS RTRW.
Selain mendongkrak pariwisata, pengarungan rutin ini berfungsi sebagai metode pemantauan ekosistem yang efektif, yaitu dengan Pengawasan Kebersihan, ini memastikan aliran bebas dari tumpukan sampah liar. Selanjutnya melalui Deteksi Dini, disini mengidentifikasi titik sedimentasi dangkal dan potensi longsor di tebing sungai.

Jika fase uji coba ini sukses, urban rafting Kali Code diproyeksikan menjadi percontohan (pilot project) nasional untuk penataan sungai perkotaan.
“Yogyakarta adalah laboratorium. Dari Code, kita buktikan bahwa pemulihan lingkungan dan pertumbuhan ekonomi warga bisa berjalan berdampingan, sejalan dengan filsafat Hamemayu Hayuning Buwono,” pungkas Harris. (Rls)






