KORAN MERAPI – Di bawah naungan atap Balai RW 39.01 Santren, Caturtunggal, Depok, Sleman, Minggu pagi (29/3/26) terasa berbeda. Tidak ada sekat pembatas antara profesor dan pedagang, tidak ada jarak antara yang muda dan yang tua. Semuanya melebur dalam satu gema yang sama: persaudaraan.
RW 39.01 Santren bukanlah lingkungan yang seragam. Wilayah ini adalah miniatur Indonesia, sebuah hunian heterogen yang dihuni oleh warga dengan latar belakang etnis, agama, pendidikan, hingga profesi yang sangat beragam. Namun, keberagaman itulah yang justru menjadi warna indah dalam perhelatan Syawalan tahun ini.
Mengusung tema “Rekatkan Persaudaraan Dalam Kesederhanaan”, acara ini dihadiri lebih dari 250 warga. Mulai dari balita yang berlarian ceria hingga lansia yang duduk bersahaja, semuanya berkumpul mempertegas semangat gotong royong dan tenggang rasa dari lima RT yang ada.

Ketua RW 39.01, Wienar Aditya, ST, dalam sambutannya tak mampu menyembunyikan rasa bangganya. Ia memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas antusiasme warga yang luar biasa.
“Acara ini adalah warisan nilai yang sudah berlangsung puluhan tahun. Meski sempat ada jeda karena satu dan lain hal di masa lalu, semangatnya tidak pernah padam,” ujar Wienar.
Bagi Wienar, Syawalan kali ini terasa emosional mengingat masa jabatannya sebagai Ketua RW akan berakhir tahun ini. Ia menitipkan harapan besar agar tradisi pemersatu ini terus dijaga oleh generasi penerus.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Dukuh Santren, Yanuar Eko Hartanto, SE, menekankan bahwa agenda tahunan ini memiliki esensi yang lebih dalam dari sekadar seremoni. “Syawalan bukan hanya tradisi semata, tapi merupakan bentuk nyata silaturahmi dan penguat fondasi kebersamaan antarwarga di Padukuhan Santren,” tegasnya.
Momen paling khidmat terasa saat Suwarno, SPd memimpin pembacaan ikrar Syawalan. Suasana hening seketika; hanya suara ikrar yang diikuti dengan mantap oleh seluruh hadirin, menandakan ketulusan hati untuk saling memaafkan.

Menghapus Sekat di Garis Jabat Tangan
Puncak acara ditutup dengan tradisi salam-salaman. Seluruh warga berdiri, membentuk barisan yang menyambung tanpa putus. Di sinilah “keajaiban” Syawalan terjadi: sekat-sekat perbedaan status sosial dan pandangan luntur seketika melalui jabat tangan dan senyum yang tulus.
Acara diakhiri dengan ramah tamah dan sesi foto bersama yang penuh tawa. Melalui kegiatan ini, warga RW 39.01 Santren kembali membuktikan bahwa dalam kesederhanaan, persatuan justru bisa tumbuh paling kokoh. Toleransi bukan lagi sekadar slogan di sini, melainkan napas kehidupan sehari-hari. (Mty)







