KORAN MERAPI – Batik Kopi yang didirikan oleh Endang Tonari, Miftahudin Nur Ihsan, dan Robi Sepria Nanda berkolaborasi dengan fashion designer muda, Putri Ramadhany Amir dalam gelaran Fashion on the Street (FOS) Prawirotaman 2026. Kolaborasi ini mempertemukan dua perspektif kreatif, yaitu Batik Kopi sebagai brand baru yang membawa identitas dan inovasi batik dengan pewarna dari limbah kulit kopi dan Putri Ramadhany Amir sebagai fashion designer yang menerjemahkan konsep tersebut ke dalam karya busana.
Pada FOS kali ini, koleksi yang ditampilkan memadukan batik kopi dan tenun lurik dalam gaya streetwear modern, dengan mengangkat cerita tentang kopi Indonesia, kekayaan Nusantara, serta eksplorasi pewarnaan alam yang memanfaatkan limbah kulit kopi. CEO Batik Kopi, Endang Tonari membawa gagasan untuk menjadikan kopi bukan hanya sebagai komoditas, tetapi juga sebagai sumber inspirasi dalam pengembangan produk kreatif.
“Batik Kopi mengangkat kopi sebagai identitas visual dan cerita, salah satunya melalui motif kopi yang dipadukan dengan gambaran peta Indonesia. Motif tersebut menggambarkan Indonesia sebagai negara yang memiliki kekayaan kopi dari berbagai wilayah, mulai dari Sumatra, Jawa, Sulawesi hingga Papua,” ungkap Een.
Selain eksplorasi motif, Batik Kopi juga mengembangkan pendekatan yang mengangkat pemanfaatan limbah perkebunan kopi sebagai pewarna alami, sehingga kopi tidak hanya hadir dalam bentuk visual, tetapi juga menjadi bagian dari eksplorasi material dan proses kreatif. Melalui kolaborasi ini, gagasan mengenai Batik Kopi kemudian dibawa ke ranah fashion melalui interpretasi desain Putri Ramadhany Amir.
Sebagai fashion designer, Putri Ramadhany Amir memiliki peran dalam menerjemahkan identitas Batik Kopi ke dalam desain busana yang modern dan relevan dengan gaya hidup generasi muda. Putri mengolah batik kopi dan tenun lurik menjadi siluet streetwear yang lebih kasual, dinamis, dan urban. Lurik dipilih karena memiliki hubungan kuat dengan tradisi tekstil Jawa, sementara batik kopi membawa cerita mengenai kekayaan kopi Indonesia dan inovasi berbasis sumber daya alam.
Perpaduan keduanya menciptakan dialog antara tradisi Jawa, identitas kopi Indonesia, dan gaya fesyen kontemporer. “Bagi saya, kolaborasi ini adalah bagaimana sebuah identitas lokal bisa diterjemahkan ke dalam bahasa fashion yang lebih modern. Batik Kopi membawa cerita dan identitasnya, kemudian saya menerjemahkannya melalui siluet dan karakter streetwear yang lebih dekat dengan generasi muda,” ujar Putri Ramadhany Amir.
Koleksi ini kemudian dikenakan oleh anggota HIPMI Jogja Womenpreneur sebagai muse, yaitu Iranova, Leonita, Afee Zaenab, Alvira, Bunga, Devita, dan Sarah. Mereka merepresentasikan sosok perempuan pengusaha yang aktif, kreatif, dan berdaya. Kehadiran mereka memperkuat pesan bahwa fesyen dapat menjadi medium untuk menyuarakan pemberdayaan perempuan dan semangat kewirausahaan. (Rls)



















