KORAN MERAPI — Kawasan Malioboro kembali menjadi ruang bertemunya budaya, kreativitas, dan masyarakat melalui kegiatan “Malioboro Membatik”, bagian dari program Setu Sinau Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta yang berkolaborasi dengan BPC HIPMI Kota Jogja dan HIPMI Jogja Womenpreneur. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 29 Agustus 2026 pagi tersebut digelar di area depan Benteng Vredeburg, Yogyakarta. Mengusung konsep live workshop, kegiatan ini memberikan kesempatan kepada masyarakat dan wisatawan untuk belajar serta mencoba membatik secara langsung di ruang publik secara gratis.
Antusiasme masyarakat yang melintas di kawasan Malioboro terlihat sangat tinggi. Peserta tidak hanya berasal dari masyarakat Yogyakarta, tetapi juga wisatawan mancanegara, wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia yang sedang berkunjung ke Yogyakarta, hingga anak-anak yang tengah menikmati libur sekolah. Selama dua jam kegiatan berlangsung, lebih dari 50 orang secara bergantian ikut mencoba pengalaman membatik menggunakan canting dan malam di atas kain. Kehadiran peserta dari berbagai latar belakang menunjukkan bahwa batik dapat menjadi media budaya yang inklusif dan dapat dinikmati oleh siapa saja.
Kegiatan ini menghadirkan dua mentor, yaitu Fitri Andono Warih dan Putri Ramadhany Amir. Keduanya merupakan pelaku yang aktif menekuni dunia batik dan memberikan pendampingan langsung kepada peserta. Dengan pengalaman sebagai pelaku batik, kedua mentor mendampingi peserta mulai dari pengenalan alat dan bahan, cara menggunakan canting, hingga mencoba mengaplikasikan malam pada kain. Kehadiran mentor praktisi batik ini menjadikan kegiatan tidak sekadar sebagai aktivitas rekreasi, tetapi juga menjadi ruang transfer pengetahuan, pengalaman, dan apresiasi terhadap proses di balik sebuah karya batik.
“Kami ingin membatik tidak hanya dikenal sebagai sebuah karya, tetapi juga bisa dirasakan secara langsung oleh siapa pun. Ketika kegiatan ini dilakukan di ruang publik seperti Malioboro, masyarakat dan wisatawan bisa spontan ikut belajar dan mengenal budaya Yogyakarta. Antusiasme masyarakat hari ini juga menunjukkan bahwa budaya, khususnya batik, masih memiliki daya tarik yang kuat ketika dikemas secara terbuka, interaktif, dan mudah diakses oleh semua kalangan,” ujar Putri Ramadhany Amir, mentor sekaligus penyelenggara kegiatan Malioboro Membatik.
Salah satu hal yang membedakan Malioboro Membatik dari workshop membatik pada umumnya adalah penggunaan malam/lilin berbasis produk turunan kelapa sawit. Malam yang digunakan dalam kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan pemanfaatan produk turunan sawit ke dalam industri kreatif, khususnya batik.
Hal ini memberikan perspektif baru bahwa kelapa sawit tidak hanya dapat dimanfaatkan untuk produk pangan, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi berbagai produk turunan bernilai tambah. Penggunaan malam berbasis produk turunan sawit sekaligus menjadi sarana edukasi bagi peserta mengenai keterkaitan antara inovasi bahan, industri, budaya, dan ekonomi kreatif.
Founder Batik Sawit (CV. Smart Batik Indonesia), Miftahudin Nur Ihsan, menyatakan dukungannya terhadap kegiatan positif semacam ini.
“Kami senang dapat ikut ambil bagian dalam kegiatan Malioboro membatik kali ini. Kami berkomitmen untuk terus mendukung upaya-upaya untuk mengenalkan inovasi batik kepada masyarakat. Kehadiran Batik Sawit pada kegiatan ini juga memperkuat pesan bahwa inovasi bahan dapat berjalan berdampingan dengan pelestarian budaya. Batik tetap menjadi warisan budaya yang dipelajari dan diwariskan, sekaligus terus membuka ruang bagi pengembangan material dan kreativitas baru,” ungkap pemenang Championship Inovasi Wastra Nusantara (Citra Nusa) Bank Indonesia 2026 tersebut. (Rls)



















