KORAN MERAPI – Di tengah laju dinamika sosial yang kian kompetitif, ungkapan “ojo kesel dadi wong apik” (jangan lelah menjadi orang baik) yang disampaikan Nashrul Mu’minin menawarkan sebuah jeda reflektif yang mendalam. Teks tersebut tidak sekadar menyajikan ceramah keagamaan normatif, melainkan berhasil membedah salah satu krisis eksistensial paling nyata yang dihadapi masyarakat modern: kelelahan moral (moral fatigue).
Penulis secara jujur memotret realitas sosial di Sambelegi Lor, sebuah cerminan mikro dari masyarakat kita secara umum. Adanya kecenderungan spiritualitas musiman, di mana masjid mendadak penuh saat gelaran acara besar namun kembali sepi di kala Subuh, mengindikasikan bahwa praktik keagamaan kita masih sering terjebak dalam aspek seremonial dan komunal semata. Kebaikan kerap diaktifkan oleh dorongan eksternal atau keramaian, bukan oleh kesadaran internal yang konstan (istiqomah).
Pertanyaan kunci yang diangkat, “mengapa jadi orang baik itu terasa lelah?”, menemukan jawaban yang sangat logis sekaligus menohok. Kelelahan psikologis dan emosional saat berbuat baik terjadi karena seseorang menggantungkan standar keberhasilan kebaikannya pada respons manusia—seperti pujian, pengakuan, atau balasan setimpal.
Ketika kebaikan dibalas dengan kepasifan, ketidakpedulian, atau bahkan pengkhianatan, muncul rasa kecewa yang menumpuk. Di sinilah konsep ikhlas hadir bukan sekadar sebagai doktrin teologis, melainkan sebagai mekanisme pertahanan jiwa (mental resilience). Ikhlas memutus ketergantungan individu terhadap ekspektasi sosial. Ketika standar penilai dialihkan dari manusia ke Tuhan, kalkulasi untung-rugi dalam berbuat baik secara otomatis runtuh.
Di era serba digital dan serba kompetitif seperti wilayah Maguwoharjo hari ini, kebaikan sering kali dikomodifikasi. Ada dorongan subliminal bahwa kebaikan baru dianggap valid jika berdampak besar, dapat diukur, atau menjadi viral.
Perspektif yang dihadirkan melalui Kutipan Surah Az-Zalzalah ayat 7 (seberat dzarrah) menjadi penawar yang krusial. Penulis mengembalikan hakekat kebaikan pada tindakan-tindakan mikro yang otentik: menyapa tetangga, jujur dalam keseharian, atau sekadar konsistensi beribadah secara sunyi. Kebaikan kecil yang dilakukan secara konsisten jauh lebih bernilai daripada aksi besar yang terfragmentasi dan sarat dorongan citra diri.
Teks opini tersebut pada akhirnya memberikan penyikapan yang realistis terhadap kehidupan. Pengakuan bahwa “dunia memang tempatnya lelah” menunjukkan empati pada realitas bahwa mempertahankan integritas moral di dunia yang pragmatis memang membutuhkan energi yang besar. Namun, dengan menggeser orientasi dari validasi manusia ke ridho Ilahi, kelelahan itu berubah menjadi ketenangan jiwa.
Menjadi orang baik tidak seharusnya melelahkan, selama kita berhenti menjadikan manusia sebagai juri atas kebaikan yang kita lakukan. (*)






