KORAN MERAPI — Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menggelar Malam Tirakatan Peringatan Hari Jadi ke-196 Kabupaten Gunungkidul di Bangsal Sewoko Projo, Kapanewon Wonosari, Sabtu Malam, (03/10/2026). Perayaan tahun ini tidak hanya menjadi rutinitas seremonial, melainkan menjadi ruang kontemplasi batin, refleksi sejarah, serta momentum memperkuat kepedulian sosial dan gotong royong warga.
Malam tirakatan tersebut diwarnai dengan pemanjatan doa bersama yang dipimpin oleh para tokoh dan pembuka agama dari lima agama, yakni Islam, Katolik, Kristen, Hindu, dan Buddha dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gunungkidul. Doa bersama ini dipanjatkan sebagai wujud rasa syukur atas perjalanan panjang daerah serta memohon keberkahan, kesehatan, dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat dan para pemimpin Gunungkidul.
Pada perayaan ke-196 ini, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul mengusung tema “Gayeng Guyub Waras Ragane Tentrem Atine”. Tema tersebut mencerminkan tiga pilar keharmonisan hidup Gayeng Guyub Melambangkan semangat kebersamaan, saling merangkul, menguatkan, dan tumbuh bersama dalam suasana kekeluargaan.

“Waras Ragane merupakan perwujudan daya hidup dan kesehatan raga sebagai modal utama masyarakat untuk aktif berkarya dan membangun daerah, dan Tentrem Atine melambangkan kedamaian sosial, batin yang tenang, serta pikiran yang jernih dalam kehidupan yang selaras.” papar Kepala Dinas Sosial PPPA MH. Arkham Marsudi yang juga selaku Ketua Panitia Penyelenggara.
Peringatan hari jadi ini berakar pada sejarah panjang pembentukan legal-formal Kabupaten Gunungkidul, “Berdasarkan kajian historiografi terbaru, Kabupaten Gunungkidul secara resmi terbentuk pada Senin Legi, 16 Rabiul Akhir 1758 Jawa atau 4 Oktober 1830 Masehi, yang kini ditetapkan melalui Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 1 Tahun 2024.” papar Kepala Dinas Kebudayaan ( Kundha Kabudayan) Agung Danarto dalam pembacaan riwayat.
Meskipun sebelumnya pernah diperingati setiap 27 Mei, ditemukannya dokumen-dokumen penyerahan wilayah mempertegas bahwa titik tolak administratif daerah terjadi pasca-Perang Jawa (Perang Diponegoro 1825–1830). Peristiwa tersebut mendorong ditandatanganinya Perjanjian Klaten pada 27 September 1830 yang menyepakati pembagian wilayah Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta, dengan Mas Tumenggung Poncodirjo tercatat sebagai Bupati Gunungkidul pertama pada tahun 1830.
Dalam momentum tirakatan ini, Pemkab Gunungkidul juga menyerahkan Buku Akuisisi Arsip Tokoh Bupati Gunungkidul untuk mengenang kepemimpinan almarhum Prof. Dr. Ir. Sumpeno Putro, M.Sc. (Bupati Gunungkidul Periode 2010) dan Dr. Drs. H. Imawan Wahyudi, M.H. (Wakil Bupati periode 2011–2021). Penyerahan buku kepada para ahli waris ini ditujukan untuk menjaga memori kolektif dan meneladani sejarah kepemimpinan daerah.
Mengingat sebagian warga Gunungkidul tengah terdampak krisis air bersih akibat musim kemarau dan fenomena El Nino, panitia mengarahkan perayaan agar berfokus pada kegiatan pelayanan dan bakti sosial. Pemkab Gunungkidul menggandeng berbagai pihak mulai dari dunia usaha, BPD, BDG, PDM, hingga Ikatan Alumni Undip dan UGM/Agama untuk menyalurkan bantuan droping air bersih.
Rangkaian kegiatan peringatan telah diawali sejak 22 September melalui beragam aksi sosial dan kemasyarakatan :
*Layanan Kesehatan:* Pemeriksaan kesehatan gratis bagi penyandang disabilitas hasil kerja sama dengan Bapel Jamkesos dan Dinas Kesehatan Provinsi DIY.
*Geliat Ekonomi dan Budaya:* Pengajian Akbar, Gunungkidul Tourism Fest, pentas campursari, bazar UMKM, senam kreasi Perwosi, Kenduri Ageng, serta pasar murah di kawasan Pantai Baron.
*Pelestarian Seni:* Pelaksanaan Gaung Gamelan atau Gongso Agung yang dimainkan secara serentak oleh kelompok-kelompok seni di seluruh wilayah Kapanewon dan Kalurahan, yang dibuka secara simbolis dengan tabuhan Ladrang Kijing Miring.
Panitia juga mengonfirmasi bahwa Upacara Peringatan Hari Jadi yang sedianya dilaksanakan pada 4 Oktober mengalami penundaan menjadi tanggal 14 Oktober. Penundaan ini dilakukan untuk menyesuaikan dengan agenda Sri Sultan Hamengku Buwono X (Ngarsa Dalem) agar Gubernur DIY dapat hadir di tengah masyarakat Gunungkidul.
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih mengatakan, acara malam tirakatan ini menjadi momentum perenungan dan kontemplasi batin atas perjalanan sejarah daerah sejak tahun 1830 hingga 2026 sekaligus bentuk penghormatan atas perjuangan para pendahulu yang meletakkan fondasi pembangunan Bumi Handayani.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati mengajak seluruh jajaran untuk menyerap semangat kebangsaan proklamator Bung Karno mengenai prinsip berdiri di atas kaki sendiri (berdikari) serta pesan “jas merah” (jangan sekali-sekali melupakan sejarah). “Kemandirian daerah diyakini dapat terwujud jika pemerintah, legislatif, dan masyarakat terus memupuk persatuan, percaya pada potensi daerah, serta menjaga harmonisasi sosial.” pesan Bupati.
Rangkaian acara dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng oleh Bupati Gunungkidul yang didampingi oleh Ketua DPRD, unsur Forkopimda (termasuk Komandan Kodim 0730), Sekretaris Daerah, serta pejabat terkait, yang kemudian diserahkan secara simbolis kepada Ketua Umum Panitia Hari Jadi.
Malam Tirakatan diakhiri dengan prosesi pemukulan golong oleh Bupati Gunungkidul bersama Kepala Dinas Kebudayaan. Pemukulan golong ini menjadi tanda dimulainya penabuhan gamelan (Nuthuk gamelan) secara serentak di seluruh wilayah Kabupaten Gunungkidul yang dibuka dengan alunan ladrang Kijing Miring.
Selain upacara, Pemkab Gunungkidul juga menggelar kegiatan penggalangan dana bertajuk Konser Amal (“Ngamen Bupati”) pada 10 Oktober malam minggu diiringi Orkes Melayu Lorensa. Dalam konser tersebut, warga yang ingin ikut berjoget diwajibkan untuk berderma terlebih dahulu, di mana 100 persen hasil donasi yang terkumpul akan disalurkan seluruhnya untuk penanganan dan bantuan air bersih di Kabupaten Gunungkidul. (Rls)




















