KORAN MERAPI – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggelar Seminar Nasional bertema “Menelusuri Jejak Perjuangan dan Pengabdian Wartawan Fuad Muhammad Syafruddin (Udin)”, Kamis (29/10/2026), di Gedung Induk Lantai 3, Parasamya, Pemerintah Kabupaten Bantul.
Seminar yang berlangsung pukul 09.00–13.00 WIB ini menjadi bagian dari perjuangan PWI DIY untuk mengusulkan wartawan Harian Bernas Yogyakarta, Fuad Muhammad Syafruddin atau Udin, sebagai Pahlawan Nasional di bidang jurnalistik.
Kegiatan diikuti lebih dari 100 peserta secara luring dan daring. Mereka berasal dari berbagai kalangan, meliputi sejarawan, akademisi, unsur pemerintahan, budayawan, pemuka agama, organisasi kemasyarakatan (ormas), serta pengurus PWI dari berbagai daerah di Indonesia yang mengikuti kegiatan melalui Zoom.
Wakil Menteri Sosial RI Agus Jabo Priyono dijadwalkan menjadi pembicara utama (keynote speaker). Narasumber lainnya yakni Prof. Dr. Muhammad Najib Azca, S.Sos., M.A., Ph.D., Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN); Putut Wiryawan, anggota Tim Pencari Fakta (TPF) PWI terkait kasus Udin 1998; serta Drs. Ahmad Subagya dan Bambang Wahyu Nugroho, yang terlibat dalam Pansus Kasus Udin DPRD Kabupaten Bantul pada 1998. Diskusi dimoderatori Dr. Drs. Octo Lampito, M.Pd.
Ketua PWI DIY Drs. Hudono, S.H. menegaskan, perjuangan mengusulkan Udin sebagai Pahlawan Nasional merupakan upaya memberikan arti bagi pengorbanan seorang wartawan yang berani memperjuangkan kebenaran dan kepentingan masyarakat.
Udin bukan sekadar bagian dari sejarah pers, melainkan simbol keberanian, integritas, dan perjuangan kebebasan pers. Pengabdiannya menjadi pengingat bahwa wartawan memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan kebenaran, sekalipun harus menghadapi risiko besar.
“Seberat apa pun, kebenaran harus diungkap,” demikian pesan yang ditekankan Hudono dalam pembahasan mengenai perjuangan Udin dan pentingnya menjaga kemerdekaan pers.
Menurut Hudono, pengusulan Udin sebagai Pahlawan Nasional diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran publik tentang pentingnya perlindungan terhadap wartawan serta penghormatan terhadap kebebasan pers dalam kehidupan demokrasi.
Sementara itu, Ketua Tim Ad Hoc Pengusulan Udin sebagai Pahlawan Nasional, Ki R. Bambang Widodo, S.Pd., M.Pd., mengatakan, seminar nasional menjadi bagian penting dalam menghimpun pandangan, kajian, dan dukungan berbagai kalangan untuk memperkuat proses pengusulan tersebut.
“Mas Udin adalah pahlawan, tetapi bukan dengan senjata. Senjatanya adalah tulisan,” demikian pesan Bambang dalam menggambarkan perjuangan Udin sebagai wartawan.
Tim Ad Hoc, lanjutnya, terus bekerja mengumpulkan dokumen, arsip, dan berbagai bahan sejarah yang berkaitan dengan kiprah serta pengabdian Udin. Upaya tersebut dilakukan bersamaan dengan sosialisasi kepada masyarakat dan penyelenggaraan forum ilmiah untuk memperkuat landasan pengusulan.
Bambang menegaskan, perjuangan ini tidak boleh berhenti di tengah jalan. PWI DIY bersama Tim Ad Hoc berupaya menempuh tahapan yang diperlukan, termasuk membangun dukungan dan rekomendasi dari pemerintah daerah hingga pemerintah pusat.
Seminar diharapkan menghasilkan masukan dari perspektif sejarah, hukum, demokrasi, politik, dan jurnalistik. Pandangan sejarawan, akademisi, pemuka agama, budayawan, organisasi kemasyarakatan, serta unsur pemerintahan akan menjadi bahan penting dalam penyusunan argumentasi pengusulan Udin sebagai Pahlawan Nasional.
Udin merupakan wartawan Harian Bernas Yogyakarta, anggota PWI yang dikenal berani mengungkap persoalan pemerintahan dan kepentingan publik pada masa Orde Baru. Ia dianiaya di depan rumahnya Kalurahan Patalan, Jetis, Bantul Bantul, pada 13 Agustus 1996. Setelah menjalani perawatan, Udin meninggal dunia pada 16 Agustus 1996. Hingga kini, kasus pembunuhannya belum terungkap secara tuntas.
PWI DIY telah melakukan berbagai upaya untuk memperjuangkan keadilan bagi Udin, termasuk menghimpun dokumen dan arsip pemberitaan serta menempuh langkah hukum melalui praperadilan di Pengadilan Negeri Sleman pada 2013.
Melalui seminar nasional ini, PWI DIY ingin menegaskan bahwa pengabdian Udin melampaui batas profesi jurnalistik. Perjuangannya berkaitan erat dengan kepentingan publik, demokrasi, keadilan, dan kemerdekaan pers Indonesia.
Pengusulan Udin sebagai Pahlawan Nasional diharapkan tidak hanya menjadi bentuk penghormatan atas pengorbanannya, tetapi juga meneguhkan nilai keberanian dan integritas jurnalistik bagi generasi wartawan berikutnya. (Rls)




















