KORAN MERAPI – PSBK (Padepokan Seni Bagong Kussudiardja) kembali mempersembahkan pertunjukan Jagongan Wagen (JW), Jumat malam (30/10/26) lalu, sebuah platform pertunjukan yang kali ini menghadirkan karya tari kontemporer berjudul Kipa-ku Gagalai karya koreografer Achmad Ghozali (Indonesia), Dwi Asti Wulanjani (Indonesia) sebagai produser karya, dan Rofri Hendri (Indonesia) sebagai komposer.
Memasuki episode ke-157, Jagongan Wagen menghadirkan co-production antara PSBK dengan seniman dari Sumatera (Mentawai, Jambi, dan Padang Panjang) yang juga aktif bergiat dalam Jambi Cultural Festival (JCF) untuk membuka peluang pertukaran yang bermakna antara seniman daerah, penonton, dan komunitas.
“Tahun in, PSBK membuka open call Jagongan Wagen bagi seniman dan produser dari seluruh Indonesia untuk memperluas jejaring dan membuka ruang kolaborasi lintas daerah,” ujar Jeannie Park selaku Ketua Pengurus Yayasan PSBK, kepada Wartawan, Sabtu siang (31/10/26) lalu.
Ia menambahkan bahwa pihaknya merasa senang dan bangga melalui perjumpaan ini dapat menemukan kesamaan nilai dan semangat untuk saling mendukung serta bertumbuh bersama, sembari menyampaikan apresiasi kepada seluruh seniman yang telah berkolaborasi menghadirkan Kipa-ku Gagalai dengan baik.

Senada dengan hal tersebut, Dwi Asti Wulanjani selaku produser karya menyatakan bahwa dirinya ingin memfasilitasi agar memori tidak hanya dipajang, tetapi bisa berdialog secara setara dengan ekosistem seni Indonesia, khususnya di Yogyakarta, di PSBK sekarang.
Perjumpaan ini adalah tentang bagaimana melakukan co-production yaitu tim dari Jambi Cultural Festival (JCF) dan PSBK sebagai platform pertunjukan saling membantu bertumbuh dalam skema produksi yang saling menyenangkan.
Achmad Ghozali, atau yang akrab dipanggil Jali, berangkat dari kebimbangan personal ketika menghadapi ketidakpastian dalam kehidupan hari ini. Berakar pada kehidupan masyarakat Mentawai dan pengalamannya sebagai keturunan Sikerei, Kipa-ku Gagalai menelusuri bagaimana identitas terbentuk dan terus bernegosiasi di antara warisan leluhur, perubahan sosial, serta berbagai pengaruh yang hadir dalam kehidupan.
“Seringkali saya merasa ada dalam situasi harus memilih antara meneruskan untuk menjaga adat atau melanjutkan karir dalam pendidikan, namun saya menikmati keduanya,” ungkap Jali.
Karya tari ini berangkat dari kehidupan masyarakat Mentawai, di mana dalam bahasa Mentawai, Kipa-ku Gagalai merupakan ungkapan yang menggambarkan keadaan ketika seseorang berada di tengah ketidakpastian. Berpijak pada filosofi Arat Sabulungan yang memandang alam sebagai subjek kehidupan, karya ini menghadirkan tubuh sebagai ruang yang menyimpan jejak ritus, sejarah, trauma, dan harapan.
Melalui pengalaman personal sebagai pewaris adat Mentawai, karya ini menggunakan pemaknaan Ruang Ambang sebagai refleksi bahwa kehidupan tidak selalu hadir dalam pilihan hitam atau putih.
Episode ini lahir dari Open Call Jagongan Wagen PSBK tahun 2026 yang dibuka pada bulan Agustus lalu bagi seniman dan produser seni pertunjukan untuk memperkenalkan karya serta gagasan artistik mereka kepada publik. Selama lebih dari 18 tahun, Jagongan Wagen tumbuh sebagai laboratorium kreasi, ruang apresiasi, dan jendela refleksi di ekosistem seni budaya Indonesia.
Sepanjang 2026, PSBK merencanakan empat episode Jagongan Wagen terselenggara untuk mempertemukan beragam praktik dan perspektif artistik setelah sebelumnya dibuka melalui episode ke-155 (Panjat Hujan) dan episode ke-156 (Gusti, Paringono Waras!).
Bagi PSBK, pengalaman menikmati pertunjukan tak hanya dimulai ketika karya tersaji di panggung, tetapi sejak pengunjung melangkah memasuki kawasan pertunjukan melalui program “Ruang nJagong di Selatan”. Ruang jeda ini menemani pengunjung baik sebelum maupun sesudah pertunjukan untuk menikmati sajian, bercengkrama, dan menghabiskan waktu bersama sebelum kembali menyelami pengalaman artistik.
Rangkaian JW kali ini dimeriahkan oleh pilihan kudapan ringan hingga sajian mengenyangkan seperti nasi jinggo dari Bali, ramen hangat, serta ragam minuman khas dari para kolaborator kuliner.

Dari sisi para penampil dan kreator, karya ini didukung oleh profil seniman yang kuat seperti Achmad Ghozali (Koreografer & Penampil), Dwi Asti Wulanjani (Produser), Rofri Hendri (Komposer), Dewi Safitri (Penampil), hingga Ichalago (Publisis).
Para seniman ini memiliki rekam jejak panjang dalam mengolah tradisi dan isu ekologis lokal Sumatera, seperti tradisi Sikerei Mentawai dan nilai-nilai budaya Minangkabau, ke dalam bentuk seni pertunjukan kontemporer yang berakar kuat pada kearifan lokal.
Melanjutkan spirit Bagong Kussudiardja, PSBK terus menyelaraskan visi misi sebagai pusat seni berbasis tempat (venue based art center) untuk menjaga kualitas dan aksesibilitas ruang seni.
Dengan kekuatan presentasi, literasi, perekaman, dokumentasi, dan konservasi, PSBK meneguhkan posisinya sebagai pusat pengetahuan (resource center) yang berkontribusi pada ekosistem seni global serta menjaga relevansi seni sebagai kebutuhan hidup. (Ags)

















