
KORAN MERAPI – Ruang merah memenuhi layar. Kamera menyorot Bina (Andini Anggraeni) yang menangis dalam tekanan batin.
Suara penolakan dari orang tuanya bergema, memenuhi ruang dan pikirannya.
Di tengah suasana yang menekan, penuh depresi dan kebingungan, film pendek Cukup membuka cerita tentang mimpi seorang perempuan yang perlahan dipatahkan oleh tradisi.
Film pendek berjudul Cukup merupakan karya mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang dirilis secara daring melalui platform YouTube pada 14 September 2025.
Film berdurasi 4 menit 18 detik ini diproduksi sebagai salah satu syarat pemenuhan program Lomba Inovasi Digital Mahasiswa (LIDM).
Dipimpin oleh Muhammad Haidar Attarbahi, tim produksi juga melibatkan Bunga Faizati Hudianna, Talent Unggul Wijaya, dan Faizah Lutfiana.
Melalui cerita yang singkat namun padat, Cukup membawa penonton masuk ke ruang domestik sebuah keluarga patriarki.
Di ruang itulah mimpi Bina dipersempit oleh pandangan lama bahwa perempuan tidak perlu mengenyam pendidikan tinggi karena hidupnya kelak akan berhenti di dapur.
Tekanan tersebut datang dari orang-orang terdekatnya sendiri, kedua orang tuanya yang memintanya menarik diri dan “cukup” menerima peran yang telah diwariskan.
Ketua tim produksi Haidar Attarbahi menjelaskan bahwa film Cukup lahir dari kegelisahan melihat realitas pelajar perempuan yang masih kerap mendapat tekanan dari lingkungan terdekatnya sendiri.
Mimpi banyak perempuan, menurutnya, sering kali dibatasi atas nama tradisi dan kewajaran, terutama dalam lingkup keluarga.
Isu patriarki dan pendidikan perempuan pun dipilih karena masih relevan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, sekaligus sejalan dengan semangat LIDM yang mendorong mahasiswa mengangkat persoalan pendidikan melalui medium digital.
Tokoh Bina tidak digambarkan sebagai sosok yang melakukan perlawanan besar atau konflik terbuka.
Sebaliknya, perjuangannya hadir secara sunyi melalui kelelahan, kebingungan, dan keteguhan menjaga mimpi agar tidak padam.
Bina menjadi representasi banyak pelajar perempuan yang harus memendam keinginan mereka di tengah tekanan keluarga dan lingkungan.
Dengan durasi yang singkat, tim produksi menghadapi tantangan untuk menyampaikan pesan secara efektif tanpa kehilangan makna.
Film ini lebih mengandalkan kekuatan visual, ekspresi, dan suasana, alih-alih dialog panjang, untuk menyampaikan pesan kepada penonton.
Melalui medium film pendek, Cukup menyuarakan isu yang masih relevan di tengah masyarakat: stigma terhadap pendidikan perempuan.
Nasib pelajar perempuan di Indonesia dalam banyak kasus bahkan masih lebih berat dari yang dialami Bina.
Faktor tradisi, pandangan masyarakat yang kaku, kurangnya kesadaran akan pentingnya pendidikan, hingga persoalan ekonomi masih menjadi penghalang bagi banyak perempuan untuk mengakses pendidikan tinggi.
Sebagai karya mahasiswa, Cukup tidak hanya hadir sebagai produk kreatif, tetapi juga sebagai refleksi sosial.
Film ini menunjukkan bagaimana medium digital dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan pendidikan dan kesetaraan gender secara dekat dan mudah diakses publik.
Di tengah arus konten digital yang cepat dan sering kali dangkal, Cukup menawarkan jeda mengajak penonton berhenti sejenak dan bertanya: apakah mimpi perempuan memang harus “cukup” sampai di sana? (Hari Setyo Nur Pamungkas)



















