KORAN MERAPI – Semangat Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) bergema di Pendopo Kemantren Umbulharjo, Minggu (3/5/2026) pagi. Melalui gelaran Jam Belajar Masyarakat (JBM) Festival Umbulharjo 2026, masyarakat diajak kembali menghidupkan budaya membaca dan belajar di tengah kepungan arus digitalisasi yang kian masif.
Acara yang diikuti sekitar 100 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh masyarakat, pendamping JBM se-Umbulharjo, anak-anak panti asuhan, hingga Generasi Z, ini mengusung tema talkshow inspiratif: “Gen Z Join Volunteer dalam Upaya Penguatan JBM”.

Kepala Jawatan Sosial Kemantren Umbulharjo, Kuntoro Adiwibowo, AMd, yang hadir mewakili Mantri Pamong Praja, menekankan pentingnya peran keluarga dalam mengkondisikan lingkungan belajar. Menurutnya, tanpa pengawasan, anak-anak saat ini cenderung lebih banyak menghabiskan waktu dengan ponsel dibandingkan membaca buku.
“Dunia anak sekarang cenderung terbatas pada layar kotak ponsel dan laptop. Lewat JBM ini, kita berupaya membudayakan kembali membaca buku, apa pun jenisnya, tidak harus buku pelajaran. Di masyarakat, pelajaran toleransi, bahasa, dan agama sangat penting sebagai bekal hidup (empan papan),” ujar Kuntoro dalam sambutannya.
Ia juga mengimbau agar durasi JBM, khususnya antara pukul 18.00 hingga 21.00 WIB, benar-benar dimanfaatkan secara kreatif oleh keluarga kecil di rumah, termasuk melalui permainan edukatif.
Koordinator JBM Fest Umbulharjo, Fajar Nur Rohmad, M.Pd, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bukti nyata bahwa gerakan literasi akan semakin kuat jika dibangun di atas fondasi sinergi.

“Kolaborasi antara masyarakat, komunitas, dan lembaga pendidikan adalah kunci menciptakan ruang belajar yang inklusif dan menyenangkan. Sinergi ini tidak hanya menghadirkan acara, tetapi memperkuat ekosistem belajar agar JBM terus hidup dan relevan,” jelas Fajar.
Puncak acara menghadirkan narasumber Islamiatur Rohmah, S.H, seorang Creative Edupreneur sekaligus Miss Hijab Sosial DIY 2022. Dipandu moderator Yunita Putri Hapsari, Islamiatur membedah bagaimana karakter Gen Z yang digital native dan kreatif dapat menjadi mesin perubahan melalui jalur volunteer (relawan).
“Volunteer bukan sekadar ‘kerja gratis’, melainkan sarana untuk belajar, berdampak, dan berkembang. Gen Z punya kepedulian tinggi terhadap masalah sosial dan pendidikan, namun sering bingung harus mulai dari mana. JBM adalah wadah yang tepat untuk mereka meng-upgrade skill kepemimpinan dan empati,” paparnya.
Ia berpesan kepada anak muda untuk tidak menunggu sempurna untuk memulai. “Kenali minat, cari komunitas yang relevan, mulai dari langkah kecil, dan konsisten,” tambahnya.

Festival ini kian semarak dengan kehadiran enam tenant dari komunitas pendukung, yaitu: Mraen MIMpi, Pemuda Peduly Jogja, Sejajar Belajar, Trag Studio, Albadar Education Centre, Padepokan ASA dan Rumah Baca RM Suryowinoto.
Turut serta dalam kegiatan ini adalah mahasiswa PLK UNY 2026 yang memberikan kontribusi aktif dalam kelancaran acara. Selain diskusi interaktif, para peserta juga menikmati berbagai aktivitas di awali dengan medengarkan cerita, lalu kunjungan di tenant, mulai dari mewarnai hingga permainan tradisional bertema pendidikan. (Ags)



















