KORAN MERAPI – Sebanyak 25 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi ternama di Australia melakukan kunjungan edukatif ke Sekolah Sungai Code, Yogyakarta, pada Kamis (16/7/2026). Kunjungan ini menjadi momentum penting bagi para mahasiswa asing untuk mempelajari langsung inovasi pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat, salah satunya program “Mas Jos”yang tengah digencarkan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta.
Rombongan mahasiswa tersebut berasal dari lima universitas bergengsi, yaitu: The University of Melbourne, The University of Queensland, The University of Sydney, Adelaide University dan The Australian National University (ANU)
Dalam kegiatan yang mengusung topik Kesehatan Lingkungan ini, para peserta diajak melakukan jelajah kampung dan susur Sungai Code untuk melihat potret nyata resiliensi warga lokal.
Salah satu daya tarik utama dalam kunjungan ini adalah pengenalan program Mas Jos, sebuah gerakan lingkungan dengan lima langkah strategis yang saat ini sedang digencarkan oleh Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo.
Pengelola Sekolah Sungai Code, Harris Syarif Usman, mengungkapkan bahwa para mahasiswa Australia menunjukkan ketertarikan yang sangat besar terhadap program ini.
“Para mahasiswa sangat tertarik dengan program Mas Jos yang digencarkan oleh Walikota Hasto Wardoyo. Bahkan, mereka dengan penuh antusias bersama-sama meneriakkan ‘Tepuk Mas Jos’ sebagai bentuk apresiasi terhadap gerakan ini,” ujar Harris.
Selain mengenal program Mas Jos, para mahasiswa berkesempatan melihat dari dekat kiprah ibu-ibu penggiat Bank Sampah Bumi Lestari RW 10. Mereka menyaksikan langsung kesigapan warga dalam memilah sampah, yaitu Sampah Organik, diolah menjadi pupuk kompos menggunakan metode Losida (Lodong Sisa Dapur) dan ember tumpuk.

Kemudian Sampah Anorganik, sampah seperti kertas, karton, dan botol plastik disetor ke bank sampah. Sementara itu, sampah bekas sachet disulap menjadi kerajinan tangan bernilai guna seperti tas, taplak meja, dan tikar. Selanjutnya Minyak Jelantah, ini dimanfaatkan kembali untuk diproses menjadi sabun cuci.
Perjalanan edukasi berlanjut ke kawasan bersejarah perkampungan Romo Mangun. Di sana, para mahasiswa berdialog langsung dengan tokoh masyarakat setempat, Ariyanto. Mereka juga menyambangi Kebun Sayur Teras Hijau yang terintegrasi dengan budidaya perikanan lele.
Sebagai penutup, dengan dipandu oleh Totok Pratopo, rombongan berkeliling Kampung Jetisharjo Code Utara. Di wilayah ini, mereka mempelajari sistem pemrosesan air bersih yang memanfaatkan mata air Code untuk kebutuhan sehari-hari warga, sekaligus melihat langsung pengembangan budidaya madu klanceng.
Melalui kegiatan ini, para mahasiswa Australia tidak hanya membawa pulang teori akademis, tetapi juga pengalaman praktis tentang bagaimana komunitas lokal di bantaran Sungai Code mampu mengintegrasikan kelestarian lingkungan dengan kesejahteraan sosial. (Rls)




















