KORAN MERAPI — Sebuah fakta sejarah mengenai asal-usul penyebutan gelar “Ki” bagi para dalang terungkap dalam acara penyerahan dokumen bersejarah di Museum “Dewantara Kirti Griya” (DKG), Jalan Tamansiswa No. 25, Yogyakarta, Sabtu (27/7/2026) pagi.
Budayawan yang juga putra dalang legendaris Ki Pujosumarto, Ir. H. Yuwono Sri Suwito, M.M., menyerahkan dua lembar foto bersejarah era tahun 1938 kepada Kepala Museum DKG, Ki Murwanto, S.Pd., M.Pd. Foto tersebut mendokumentasikan momen penting pertemuan Ki Hadjar Dewantara bersama Ki Pujosumarto, Nyi Hadjar Dewantara, Ki Darmosugito, serta para niyogo (penabuh gamelan).
Dalam kesempatan tersebut, Romo Yuwono, sapaan akrab Yuwono Sri Suwito yang dianugerahi gelar KRT dari Kraton Yogyakarta, menceritakan latar belakang pemberian gelar tersebut.
Atas usulan tokoh Tamansiswa, Ki Darmosugito, Ki Pujosumarto yang berasal dari Klaten dipilih oleh Ki Hadjar Dewantara untuk menggelar pertunjukan wayang kulit pada November 1938. Pentas tersebut digelar di Pendapa Agung Tamansiswa untuk memeringati tiga peristiwa besar sekaligus: peresmian pembangunan Pendapa Agung Tamansiswa, Rapat Besar Umum Persatuan Tamansiswa, dan peringatan Pernikahan Perak Ki Hadjar Dewantara.

Membawakan lakon “Dwi Hasto” yang mengisahkan tentang pendeta murtad dan menyisipkan pesan-pesan ‘Mardiko’ (kemerdekaan/kebebasan), pertunjukan tersebut sukses memukau para tamu undangan, termasuk Wakil Gubernur DIY Sri Paduka Paku Alam VIII. Ki Hadjar Dewantara sangat terkesan dengan penampilan serta kedalaman makna kata ‘Mardiko’ yang dibawakan.
“Sebagai bentuk penghargaan, Ki Hadjar Dewantara memberikan sebutan ‘Ki’ kepada Pujosumarto. Sebelum peristiwa itu, para dalang biasanya menggunakan sebutan ‘Kiai’. Dengan demikian, untuk pertama kalinya dalam sejarah, sebutan ‘Ki’ digunakan oleh dalang, yaitu Ki Pujosumarto,” ungkap Romo Yuwono.
Kiprah Ki Pujosumarto di dunia pedalangan terus melonjak. Atas permintaan Presiden Soekarno, ia pernah mendalang di Istana Negara Jakarta, Bali, hingga Blitar. Rekam jejaknya juga mencakup panggung-panggung agung di Kraton Yogyakarta, Puro Pakualaman, Kraton Surakarta, dan Pura Mangkunegaran. Jejak seni ini turut diwarisi oleh Romo Yuwono yang tercatat pernah tiga kali mendalang di Universitas Gadjah Mada (UGM).
Kepala Museum DKG, Ki Murwanto, yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Pendidikan dan Kebudayaan Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, menyampaikan apresiasi mendalam atas hibah dua foto bersejarah tersebut guna memperkaya koleksi museum.
“Kami sangat berterima kasih atas penyerahan koleksi bernilai tinggi ini. Pada waktunya nanti, kami memohon kesediaan Ki Yuwono Sri Suwito untuk menjadi narasumber sekaligus mendalang di Pendapa Agung Tamansiswa,” tutur Ki Murwanto.
Acara penyerahan dokumen ini juga ditandai dengan aksi saling berbagi literatur sejarah. Anggota Dewan Pengawas PP PKBTS, Ki Prijo Mustiko, menyerahkan kenang-kenangan berupa Buku “Sejarah PKBTS” kepada Ki Yuwono Sri Suwito. Selain itu, Dewan Pengawas Yayasan JPBN, Ki Bambang Widodo, menyerahkan bantuan empat eksemplar buku dari Pengurus Paguyuban Wartawan Sepuh Yogyakarta untuk melengkapi fasilitas Perpustakaan Museum DKG.
Rangkaian kegiatan tersebut ditutup dengan peninjauan area Pendapa Agung Tamansiswa dan foto bersama seluruh tamu undangan. (Rls)






