KORAN MERAPI – Dalam rangka memperingati tiga momen besar nasional, Pendhopo Agung Royal Ambarrukmo Yogyakarta, Minggu, (26/7/2026) menjadi saksi penyelenggaraan Hari Kebaya Nasional ke-3, Hari Anak Nasional ke-42, dan Hari Puisi Indonesia ke-2 tahun 2026. Acara yang berlangsung khidmat ini mengusung tema “Kebaya Menjadikan Generasi Budaya Mewahakan Bangsa”, yang bertujuan untuk mempererat persaudaraan sekaligus memperkenalkan nilai-nilai luhur budaya kepada generasi muda.
Ketua Panitia, Rusmawati, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kolaborasi tiga peringatan ini dirancang untuk menghadirkan kegiatan yang edukatif, inspiratif, dan menyenangkan. Rangkaian acara meliputi parade kebaya, penampilan panggung anak, edukasi budaya, hingga pembacaan puisi.

“Kehadiran berbagai elemen masyarakat, mulai dari pejabat daerah hingga komunitas budaya, dinilai sebagai wujud nyata kecintaan terhadap kebaya sebagai warisan budaya yang harus diwariskan kepada generasi penerus.” ujar Ketua Penyelenggara.
Nuriawati, selaku Ketua Umum Forum Komunikasi Perempuan Pelestari Budaya Nusantara sekaligus Ketua Perempuan Indonesia Maju DPD DIY, menegaskan bahwa kebaya bukan sekadar pakaian, melainkan simbol keanggunan, keteguhan, dan jati diri perempuan Indonesia. Ia juga menyampaikan pesan dari GKR Hemas yang menekankan pentingnya peran keluarga dan pendidikan dalam menjaga budaya agar tidak kehilangan maknanya di tengah perkembangan zaman.
“Sebagai bentuk apresiasi, diberikan penghargaan bagi para peserta melalui kategori Putri Kebaya Anak, Putri Kebaya Dewasa, Putri Kebaya Keterangan (Ibu dan Anak), serta Putri Kebaya Favorit.” kata Nuriawati.
Senada dengan hal tersebut, Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, menyatakan bahwa pelestarian kebaya merupakan implementasi dari konsep Trisakti Bung Karno, khususnya dalam aspek berkepribadian di bidang kebudayaan. Bupati juga menyoroti kebijakan di Daerah Istimewa Yogyakarta yang mewajibkan penggunaan pakaian adat setiap Kamis Pon sebagai langkah konkret menjaga keistimewaan budaya.
Gubernur DIY, dalam sambutannya yang dibacakan oleh Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti menekankan bahwa pertemuan antara kebaya, anak-anak, dan puisi adalah pertemuan tiga kekuatan bangsa.
“Kebaya menghubungkan masyarakat dengan akar sejarah dan pengalaman perempuan Indonesia, Anak-anak dipandang sebagai pemilik masa depan yang memiliki hak untuk dilindungi dari kekerasan dan eksploitasi, serta mendapatkan pendidikan yang memerdekakan pikiran, dan Puisi yang berperan memelihara kejernihan rasa dan kepekaan sosial di tengah derasnya arus teknologi digital.” ujar Ni Made Dwipanti membacakan sambutan.

Dalam sambutannya, Gubernur mengingatkan bahwa melalui puisi, generasi muda belajar untuk berekspresi secara jujur dan bertanggung jawab, yang sejalan dengan nilai moral Jawa “ajining diri soko ing lati”.
Diharapkan, dengan diselenggarakan kegiatan tersebut dapat memberikan pesan kuat bahwa budaya tidak akan punah karena perubahan zaman, melainkan karena orang-orang berhenti memperjuangkannya. Melalui kolaborasi ini, Yogyakarta meneguhkan tekadnya untuk terus merawat jati diri bangsa dan mewariskan Indonesia yang berbudaya kepada anak cucu mendatang. (Rls)




















