KORAN MERAPI – Bulan Peringatan Keistimewaan DIY yang diperingati pada setiap 31 Agustus, dirayakan oleh warga Kelurahan Kadipaten dengan menggelar 3 event besar dalam bulan Agustus 2026. Pinituwa Tuwanggana Kadipaten, Haryawan Emir Nuswantoro, SS, SE merangkul seluruh elemen warga masyarakat, komunitas dan lembaga kemasyarakatan kelurahan (LKK) merangkai agenda besar bulan Peringatan Keistimewaan DIY menjadi gelaran bernuansa seni, ekonomi kreatif, budaya dan tradisi.
Festival Jagasura dan Jagabaya yang digelar 8 Agustus mengkolaborasikan kekuatan seni dan budaya 4 kampung, Kadipaten Wetan, Kadipaten Kulon, Kadipaten Kidul dan Kampung Ngasem unjuk kebolehan melakukan kirab budaya pasukan bregada. Perjalanan route kirab budaya dimulai dari Plegkung Jagabaya (plengkung Tamansari) melewati Pojok Beteng Lor Kulon selanjutnya Plengkung Jagasura (plengkung Ngasem) dan diakhiri di nDalem Pakuningratan Jalan Polowijan. Cucuk lampah kirab budaya adalah Mantri Pamong Praja Sumargandi, Lurah Suparman, dan Pinituwa Haryawan Emir Nuswantoro, ketiganya menunggang kuda memerankan sosok manggalayudha dengan pakaian kebesaran pangeranan.
Bregada Jagabaya Kadipaten Kidul, Bregada Sura Manggala Kadipaten Kulon, Bregada Jagasura Kadipaten Wetan dan Bregada Rata Wijaya Kampung Ngasem tampil surprise dengan pakaian kebesaran masing-masing dilengkapai persenjataan pasukan dan iringan music khas Bregada Rakyat.
Warga masyarakat Kadipaten memadati Jalan Ngasem dan Jalan Polowijan untuk menyaksikan dari dekat iring-iringan bregada yang melibatkan 300 personil warga Kadipaten.
Rotowijayan Festival lebih popular disebut ROTFEST, tahun 2026 memasuki gelaran ke #5. Agenda tahunan yang awalnya diprakarsai ibu-ibu Dasawisma di RW 12 Jalan Rotowijayan ini tahun ini menjadi agenda warga se-Kelurahan Kadipaten yang ditunggu-tunggu.
Rotfest mengkolaborasikan produk ekonomi kreatif busana, seni tari, seni karawitan dan berbagai kreatifitas warga. Busana-busana berciri khas Wastra Nusantara yang disupport Batik Luwes Putra diperagakan para warga masyarakat dan tokoh masyarakat dengan bergaya bak peragawan peragawati professional. Aksi, gaya dan ulah peragawan peragawati dari tokoh masyarakat ini seringkali mengundang gelak tawa penonton dan wisatawan yang menyaksikan langsung di sepanjang Jalan Rotowijayan, Kraton Yogyakarta.

Fashion Show on the Street menjadi icon jalan Rotowijayan yang selama ini dikenal sebagai kawasan pariwisata Ring 1 di Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Mantri Pamong Praja Sumargandi dan isteri, Lurah Suparman dan istri, Pinituwa Tuwanggana Haryawan Emir Nuswantoro dan isteri didaulat tampil memeriahkan Rotfest#5 2026. Tak ketinggalan owner Batik Luwes Putra, Hepi Hapsoro da Iin Hapsoro serta Tim Kadipaten Kidul yang menampilkan busana profesi, Tim Kadipaten Kulon dengan busana Pesta Kondangan, Tim Kadipaten Wetan membawakan busana Piknik dan paling kocak Tim Kampung Ngasem membawakan Pakaian Sehari-Hari, dengan cosplay Pakaian Tidur dan Pakaian Ibu Rumah Tangga.
Pada kesempatan ini Sumargani, Suparman dan Haryawan Emir Nuswantoro menerima bingkisan berupa gambar karikatur wajah dari Panitia Rotfest. Sebagai puncak dan penutup gelaran sore hingga petang ini, seluruh warga, tamu dan partisipan melakukan Flashmob tarian Sumbu Filosofi, warisan budaya dunia.
Sebagai event pamungkas dalam memperingati Keistimewaan DIY, para tokoh masyarakat Kadipaten & Ketua Lembaga Kemasyarakatan Kelurahan se-Kadipaten berkumpul di Batik Luwes-Luwes Jalan Sidomukti (28/8) untuk mendengarkan materi tentang Sumbu Filosofi sebagai Warisan Budaya Dunia. Ir. Yuwono Sri Suwito, MM sosok budayawan dibalik pengusulan Sumbu Filosofi ke UNESCO bercerita panjang lebar mengenai sejarah, seni dan budaya yang mendasari konsep Pangeran Mangkubumi atau Sri Sultan HB I dalam memadukan tatanan arsitektural dan landskap Kota Yogyakarta dan konsep budaya Sangkan Paraning Dumadi.
Tata letak Tugu Golong Gilig, Kraton Ngayogyakarta dan Panggung Krapyak dibuat sedemikian karena mengandung filosofi yang dalam akan sejarah, seni, dan budaya adiluhung.
Hadir memberikan sambutan Ketua Komisi A DPRD Kota Yogyakarta, Susanto Dwi Antoro, SE yang berharap adanya tindak lanjut di tahun anggaran berikutnya. “Supaya ada manfaat dari keberlanjutan sebuah kegiatan sarashan ini,” tutur Antoro.
“Saya sudah tua, tentu sangat berharap kepada para tokoh masyarakat untuk dapat menyerap dan mewarisi ilmu saya, supaya kelak pengetahuan budaya dan sejarah Yogyakarta ini ada yang meneruskan,” pungkas Romo Yu panggilan arab Yuwono Sri Suwito
Secara keseluruhan, 3 event yang digelar Kelurahan Kadipaten berkolaborasi dengan Tuwanggana Kadipaten ini mencerminkan sinergitas yang harmonis dan meneguhkan inovasi WIS KAWENTAR (Wisata Kadipaten Wahana Seni Ekonomi Kreatif Budaya dan Tradisi), sebuah strategi jitu memunculkan branding Kadipaten dan daya traiknya dengan memadukan kolaborasi masyarakat Kadipaten yang ergerak diseni, ekonomi kreatif, budaya dan tradisi untuk menjadikan Kadipaten sebagai destinasi kampung wisata yang unik dan layak dikunjungi wisatawan Nusantara maupun wisatawan mancanegara.
Menjadikan pariwisata sebagai lokomotif pembangunan, adalah upaya kolaborasi meningkatkan derajat perekonomian warga masyarakat dan perekonomian pemerintah Kota Yogyakarta secara luas.
Sebagaimana diungkapkan oleh Pinituwa Kadipaten, Haryawan Emir Nuswantoro, SS, SE, “ke depan setiap kampung Kadipaten wajib memiliki event unggulan, yang memadukan ekonomi, seni, budaya dan pariwisata, karena Kadipaten Wis Kawentar (sudah terkenal),” paparnya. (Rls)




















