Senin, 7 September 2026
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan
  • Redaksi
  • Kontak
  • Login
  • Register
Koran Merapi
Advertisement
  • Home
  • News
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Ekbis
  • Olahraga
  • Kesehatan
  • Wisata
  • Kuliner
  • Budaya
  • Opini
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Ekbis
  • Olahraga
  • Kesehatan
  • Wisata
  • Kuliner
  • Budaya
  • Opini
No Result
View All Result
Koran Merapi
No Result
View All Result
Home News

Filosofi Ketangguhan di Balik Lekuk Estetika, Catatan dari Handayani Bonsai Festival II

admin by admin
5 September 2026
in News
0
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

KORAN MERAPI – Di bawah langit Kabupaten Gunungkidul, ratusan “mahakarya hidup” berjajar rapi, menampilkan perpaduan antara keuletan manusia dan keindahan alam yang magis. Handayani Bonsai Festival II resmi dibuka, bukan sekadar sebagai ajang pameran, melainkan sebagai panggung pembuktian bahwa dari keterbatasan, bisa lahir sebuah keindahan yang luar biasa.

Sebanyak 647 pohon bonsai dari berbagai penjuru Indonesia mulai dari Jambi hingga Manado turut memadati lokasi festival di Wonosari. Pameran berskala nasional ini mempertandingkan empat kategori kelas, yaitu kelas Bahan, Pratama, Madya, hingga kelas Utama. Menariknya, putra daerah Gunungkidul menunjukkan taringnya dengan menempatkan tujuh pohon di kelas Madya dan dua pohon di kelas bergengsi, kelas Utama.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Gunungkidul, Antonius Hary Sukmono mengungkapkan bahwa pemilihan lokasi di Wonosari merupakan hasil pertimbangan matang terkait agroklimat. “Awalnya kami ingin menyelenggarakan di destinasi wisata pantai atau Nglanggeran, namun karakter bonsai yang sangat peka terhadap perubahan cuaca membuat kami memilih Wonosari yang lebih mendukung,” jelasnya dalam laporan kegiatan.

Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, dalam sambutannya memberikan refleksi mendalam mengenai hubungan antara bonsai dan jati diri masyarakatnya. Baginya, bonsai adalah simbol ketangguhan. Akar bonsai yang kuat dalam ruang yang terbatas adalah representasi dari warga Gunungkidul yang ulet menghadapi tantangan alam, termasuk kekeringan.

“Jika kita mau belajar ketangguhan dan keuletan, belajarlah dari masyarakat Gunungkidul. Seperti akar bonsai yang tetap kuat dan indah meski dalam keterbatasan, begitulah filosofi hidup kami,” ujar Bupati Endah dengan penuh semangat. Bupati juga mengenang bagaimana dahulu bonsai sering dianggap tanaman keramat yang tumbuh di batu-batu makam, namun kini telah bertransformasi menjadi komoditas ekonomi kreatif yang bernilai tinggi.

Festival ini terasa semakin istimewa karena bertepatan dengan HUT ke-47 Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI). Ketua Umum PPBI Pusat, Alex RT, yang hadir langsung setelah mengikuti konvensi bonsai dunia di Malaysia, memberikan apresiasi tinggi atas kolaborasi yang terjalin dengan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul.

Saat ini, PPBI telah memiliki 265 cabang aktif di seluruh Indonesia. Kehadiran juri-juri kelas dunia yang baru saja bertugas di luar negeri dalam festival ini diharapkan dapat meningkatkan standar kualitas bonsai lokal. Ambisi besar pun diapungkan: membawa Handayani Bonsai Festival ke level internasional atau setingkat ASEAN di masa mendatang.

Penyelenggaraan acara megah ini tak lepas dari dukungan Dana Keistimewaan DIY tahun anggaran 2024. Dukungan ini dipandang vital untuk memberikan ruang bagi komunitas kreatif lokal agar bisa naik kelas ke level nasional bahkan global.

Menutup sambutannya sebelum prosesi pemotongan tumpeng, Bupati Endah mengutip pesan inspiratif dari Bung Karno tentang keberanian dan keuletan.”Siapa yang menginginkan mutiara yang indah, harus berani terjun menyelami samudra yang dalam. Bonsai-bonsai indah ini adalah mutiara yang lahir dari keuletan batin dan kerja keras para senimannya,” tuturnya sesaat sebelum meresmikan pembukaan festival.

Berlangsung dari tanggal 29 Agustus – 9 September 2026 di Lapangan Kasatriyan, Kapanewon Wonosari, melalui Handayani Bonsai Festival II, Gunungkidul tidak hanya memamerkan tanaman kerdil yang eksotis, tetapi juga mengirimkan pesan kepada dunia tentang kemandirian, kreativitas, dan semangat untuk terus “menggelegar” di atas kaki sendiri. (Rls)

Tags: Bupati GunungkidulEndah Subekti KuntariningsihFestival BonsaiKoranmerapi.idWonosari

Related Posts

Siapkan Program Nyata, Pengurus Karang Taruna Kota Jogja Periode 2026–2031 Resmi Dikukuhkan
News

Siapkan Program Nyata, Pengurus Karang Taruna Kota Jogja Periode 2026–2031 Resmi Dikukuhkan

6 September 2026
Kolaborasi Mergangsan Expo 2026 dan Pamijo Sukses Geliatkan UMKM Lokal
News

Kolaborasi Mergangsan Expo 2026 dan Pamijo Sukses Geliatkan UMKM Lokal

6 September 2026
Amanat 5 September dan Tanggung Jawab Yogyakarta Merawat Persatuan Indonesia
News

Amanat 5 September dan Tanggung Jawab Yogyakarta Merawat Persatuan Indonesia

5 September 2026
Di Hadapan Delegasi Asia, Mujab Paparkan Aplikasi ISO dan Digitalisasi Partai dalam Merawat Demokrasi
News

Di Hadapan Delegasi Asia, Mujab Paparkan Aplikasi ISO dan Digitalisasi Partai dalam Merawat Demokrasi

5 September 2026
Bappenas Gandeng Pers yang BEJO’S Sebagai Mitra Strategis dalam Pembangunan Nasional
News

Bappenas Gandeng Pers yang BEJO’S Sebagai Mitra Strategis dalam Pembangunan Nasional

5 September 2026
Code Berdaya: Kolaborasi UGM, Pemkot Jogja, dan Pemkab Sleman Sulap Sungai Code Jadi Kawasan Asri
News

Code Berdaya: Kolaborasi UGM, Pemkot Jogja, dan Pemkab Sleman Sulap Sungai Code Jadi Kawasan Asri

4 September 2026