KORAN MERAPI — Sungai Code kembali menjadi simbol gerakan pelestarian lingkungan berbasis kolaborasi lintas wilayah. Melalui program Inspiring Bulaksumur Urban Community, Universitas Gadjah Mada (UGM) mendorong penataan kawasan bantaran sungai yang diharapkan mampu menginspirasi gerakan serupa di seluruh Indonesia.
Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, menegaskan bahwa peran perguruan tinggi tidak terbatas pada edukasi di dalam ruang kelas, melainkan harus memberi contoh konkret di lapangan.

“UGM ingin memberikan contoh nyata mengenai pentingnya menjaga kelestarian sungai, khususnya Sungai Code yang bersebelahan langsung dengan kampus,” ujar Prof. Ova Emilia.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara penandatanganan kesepakatan penguatan kolaborasi multi-pihak yang mengusung tema
“Bersinergi, Mengabdi di Batas Kota: Kali Code Berdaya, Rekonstruksi Sosial di Kali Code”. Acara ini berlangsung di Pasar Minggon Jetisharjo, tepat di bawah Jembatan Sardjito, Sabtu (5/9/2026).
Kerja sama ini melibatkan empat pilar utama yakni UGM, Pemerintah Kota Yogyakarta, Pemerintah Kabupaten Sleman dan Komunitas Pemerti Code.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyampaikan bahwa kawasan Sungai Code memiliki potensi wisata yang sangat besar jika dikelola dengan baik. Salah satu potensi yang dilirik adalah pengembangan aktivitas urban rafting yang didukung panorama asri dan tertata.
“Penataan kawasan perbatasan membutuhkan komitmen bersama. Salah satu kunci utamanya adalah membangun kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah dan menjaga ekosistem sungai,” kata Hasto.

Senada dengan hal tersebut, Sekda Sleman menegaskan pentingnya tanggung jawab kolektif. Pemkab Sleman berkomitmen penuh menjaga kondisi hulu dan aliran Sungai Code yang masuk dalam wilayah administrasinya.
“Upaya menjaga kelestarian Sungai Code adalah tanggung jawab bersama. Pemkab Sleman siap bahu-membahu dengan Pemkot Jogja dan UGM,” tegasnya.
Rangkaian acara Code Berdaya diawali dengan aksi bersih sungai (reresik) di belakang Hotel Tentrem bersama Dandim Yogyakarta dan ratusan relawan. Para peserta juga melakukan penyusuran sungai menggunakan perahu karet dari Blimbingsari hingga Jembatan Sardjito.
Selain aksi kebersihan, dilakukan pula sejumlah kegiatan konservasi ekosistem, diantaranya pelepasan burung dan penebaran benih ikan, penuangan cairan eco-enzyme ke aliran sungai, penanaman tanaman air mata pengantin di bantaran dan pemasangan papan edukasi batas sempadan sungai serta pelepasan jangkrik.
Acara dilanjutkan dengan Bincang Code yang menghadirkan sejumlah pakar dan praktisi, antara lain Dekan Sekolah Vokasi UGM (Prof. Agus Maryono), Dekan Sekolah Pascasarjana UGM (Prof. Siti Malkhamah), Dr. Sulaiman (Ketua HATHI DIY), Dr. Vicki Ariyanti (BBWS Serayu Opak), Dr. Dicky Sofjan (Peneliti Code), Ferry Iskandar, serta Totok Pratopo.

Sesepuh Kali Code, Harris Syarif Usman, menyampaikan harapannya agar gerakan kolaboratif ini mampu mengembalikan kejernihan dan kebersihan Sungai Code secara berkelanjutan hingga mencapai target nol sampah.
“Sungai yang sehat adalah hak dasar warga. Satu orang membuang sampah, dampaknya dirasakan oleh ribuan warga di hilir. Ke depan, Code harus bebas dari sampah dan limbah sehingga aman untuk kawasan wisata,” pungkas Harris. (Rls)




















