KORAN MERAPI — Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, menyampaikan arahan strategis terkait arah pembangunan Kabupaten Gunungkidul dalam momentum peringatan hari jadi daerah tersebut, Rabu, (14/10/2026). Sultan menegaskan pentingnya memfokuskan pertumbuhan ekonomi pada penguatan sektor pertanian, peternakan, dan UMKM ketimbang menggantungkan masa depan daerah pada sektor industrialisasi.
Dalam pengamatannya, kondisi kehidupan masyarakat Gunungkidul saat ini telah mengalami transformasi dan peningkatan kesejahteraan yang signifikan secara bertahap. Masalah kerawanan pangan masa lalu, seperti keterpaksaan mengonsumsi tiwul akibat kekurangan beras, kini sudah tidak terjadi lagi karena ketersediaan dan produksi beras telah memadai. Singkong yang dahulu menjadi makanan pokok pengganti kini bernilai ekonomis untuk dijual.

Peningkatan taraf hidup warga juga tercermin dari pola pemilikan aset tabungan non-bank, seperti hewan ternak dan kayu jati di pekarangan (pohon jati kebon), yang relatif tidak dipotong atau dijual kecuali dalam keadaan terdesak.
Terkait strategi ekonomi daerah, Sri Sultan meminta agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul tidak berharap pada industrialisasi besar, mengingat keberlangsungan industri sangat bergantung pada minat dan kemauan investor. Sri Sultan mengarahkan agar Pemkab merancang kebijakan yang berfokus pada efisiensi dan optimalisasi produk-produk sektor pertanian guna mendongkrak pendapatan petani secara langsung.
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul merespons positif arahan tersebut dan berkomitmen untuk memberikan pendampingan intensif kepada para petani, peternak, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Pembelajaran dari masa pandemi COVID-19 membuktikan bahwa sektor usaha mikro dan pertanian menjadi tumpuan utama penopang pertumbuhan ekonomi daerah. Selain pertanian dan UMKM, Pemkab juga terus mendampingi pengelolaan potensi perikanan serta pariwisata lokal.” ujar Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih saat ditemui seusai upacara Peringatan Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul.

Guna mengoptimalkan pemanfaatan lahan, Sultan mendorong masyarakat menerapkan sistem tumpang sari. Para pemilik kebon jati diimbau untuk membersihkan guguran daun jati kering yang rawan memicu kebakaran hutan saat musim kemarau. Lahan di bawah tegakan jati tersebut didorong untuk ditanami tanaman berumur pendek, seperti kacang tanah atau kacang hijau. Pemanfaatan sela-sela lahan ini terbukti mampu memberikan penghasilan tambahan bagi warga tanpa merusak kualitas kayu jati itu sendiri.
Melalui sinergi antara pemerintah daerah dan masyarakat dalam mengelola potensi lokal secara lestari, Kabupaten Gunungkidul diharapkan dapat melangkah menuju kawasan yang adil, makmur, lestari, dan berkeadaban. (Rls)

















