KORAN MERAPI – Kementerian Kebudayaan menggelar Kenduri Nusantara di halaman Museum Serangan Umum 1 Maret, Kompleks Benteng Vredeburg, Yogyakarta, Jumat 16 Oktober 2026. Kegiatan yang digagas Tim 9 Garuda Plus ini menjadi bagian dari peringatan Hari Kebudayaan Nasional 2026 sekaligus refleksi pentingnya kebudayaan sebagai salah satu sarana pemajuan kebudayaan Indonesia.
Budayawan sekaligus filosof, Achmad Charris Zubair, dalam orasi budayanya menegaskan bahwa kebudayaan tidak semestinya hanya dipandang dari sisi kesenian. Menurutnya, kebudayaan memiliki cakupan yang luas, meliputi tatanan sosial, pergaulan, etika, moral, hingga berbagai aspek kehidupan sehari-hari yang membentuk karakter masyarakat.
“Kita paham bahwa budaya itu bukan hanya soal kesenian, akan tetapi jauh lebih mendalam adalah keseharian yang ada dalam kehidupan ini,” jelasnya.
Agenda Kenduri Nusantara diawali sejak sore hari dengan sajian tarian nusantara persembahan pemuda-pemudi di Yogyakarta. Acara dilanjutkan pada malam harinya dengan prosesi doa Nusantara yang dipimpin tokoh-tokoh agama dari berbagai agama yang diakui di Indonesia.
Prosesi tersebut dilanjutkan dengan doa dan mantra tradisi oleh spiritualis Eko Han, Ketua Taman Sesaji Nusantara, sebagai wujud penghormatan terhadap keberagaman tradisi spiritual yang hidup di tengah masyarakat.
Puncak acara ditandai dengan pemotongan tumpeng dan arak-arakan gunungan yang tersusun dari beragam makanan tradisional. Setelah didoakan, makanan tersebut dibagikan kepada masyarakat yang hadir sebagai simbol rasa syukur kepada Tuhan sekaligus merepresentasikan semangat kebersamaan dan gotong royong dalam kehidupan berbangsa.
Ketua Panitia Hari Kebudayaan Nasional di Yogyakarta sekaligus perwakilan Tim 9 Garuda Plus, Rahadi Saptata Abra, dalam pernyataannya mengajak seluruh elemen bangsa untuk memperkuat kolaborasi dalam menjaga dan mengembangkan kebudayaan Indonesia.
Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk menjembatani peran pemerintah dan masyarakat, generasi tua dan generasi muda, serta tradisi dan inovasi di tengah perkembangan zaman.
“Atas nama Tim 9 Garuda Plus, saya mengajak kita semua untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, antara generasi tua dan generasi muda, antara tradisi dan inovasi, serta antara kekayaan lokal dan pergaulan global,” kata Rahadi.
Ia juga menekankan, keberagaman ekspresi budaya dan tradisi di Indonesia harus menjadi kekuatan untuk memperkokoh persatuan, dengan berlandaskan nilai kemanusiaan, gotong royong, dan semangat Bhinneka Tunggal Ika.
“Kita boleh berbeda dalam ekspresi budaya dan memiliki tradisi yang beragam, tetapi kita harus tetap satu dalam komitmen kebangsaan, nilai kemanusiaan, gotong royong, dan semangat Bhinneka Tunggal Ika,” ujarnya.
Rahadi berharap peringatan Hari Kebudayaan Nasional tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi momentum untuk terus merawat warisan budaya, menghidupkan praktik kebudayaan dalam kehidupan masa kini, serta mempersiapkan peradaban Indonesia bagi generasi mendatang.
“Mari kita rawat warisan masa lalu, kita hidupkan kebudayaan hari ini, dan kita siapkan peradaban Indonesia untuk generasi mendatang,” ucapnya.
Kegiatan Kenduri Nusantara ditutup dengan beragam pertunjukan seni yang melibatkan sejumlah sanggar kesenian dan seniman. Penampilan Endah Laras dengan sajian musik keroncong menjadi penutup rangkaian acara yang menghadirkan perpaduan tradisi, ekspresi seni, dan semangat kebinekaan.
Melalui Kenduri Nusantara, Hari Kebudayaan Nasional 2026 di Yogyakarta diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bahwa kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan bagian hidup masyarakat yang perlu terus dirawat, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Budaya Hidup, Indonesia Berdaya!” menjadi pesan yang menegaskan bahwa keberagaman budaya merupakan kekuatan bangsa dalam melangkah menuju masa depan. (Rls)






