KORAN MERAPI – Dua lokasi, yakni Sriwedari Societeit dan SMK N 8 Surakarta menjadi destinasi tempat kunjungan Program Studi Tiru Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta selama dua hari, Senin-Selasa, 14-15 Oktober 2024. Kunjungan kali ini diikuti semua mahasiswa dari tiga prodi, dosen tenaga pendidikan dan semua staf pegawai AKN Seni dan Budaya Yogyakarta.
Program studi tiru ini, Gedhong Wayang Wong yang berada di komplek Taman Sri Wedari, Laweyan, Kota Surakarta menjadi tujuan pertama. Program ini baru pertama kali diadakan selama AKN Seni Budaya Yogyakarta beroperasional.
Drs. Kartiman, M.Sn., sebagai pencetus ide serta pelindung program ini mengungkapkan, bahwa Program Studi Tiru di Gedhong Wayang Wong Sriwedari ini adalah untuk mengenalkan secara langsung kepada mahasiswa terkait pengelolaan manajemen pertunjukan dan praktek langsung terkait seni kriya, seni tari dan seni karawitan.
Pemilihan kedua lokasi tersebut berdasarkan kebutuhan untuk meningkatkan kompentensi mahasiswa terkait dengan pengelolaan produksi seni pertunjukan untuk Prodi Seni Tari dan Karawitan, serta pengelolaan Tefa (Teaching Factory) untuk Prodi Seni Kriya.
Melalui studi tiru ini diharapkan agar mahasiswa kelak setelah lulus selain terampil dalam skill khusus juga mampu dalam pengelolaan manajemen di bidang kelompok prodi masing-masing, dimana pendidikan vokasi yang sebernarnya lebih condong ke praktek dari pada teorinya.
“Antusiasme teman-teman mahasiswa sangat tinggi, diskusi tentang manajemen seni pertunjukan dengan studi kasus perjalanan dan pengelolaan wayang orang Sriwedari. Kegiatan peningkatan kompetensi mahasiswa AKN Seni Budaya Yogyakarta melalui studi tiru ini perlu ada tindak lanjut lebih konkrit lagi,” tegas Wakil Direktur AKN Seni dan Budaya Yogyakarta, Drs. Kartiman, M.Sn.
Menurut Vania, salah seorang mahasiswa Prodi Seni Tari mengatakan bahwa hal yang bisa ditiru dan diadopsi, akan dibawa ke pertunjukkan seni Yogyakarta guna sebagai perkembangan dan motivasi menciptakan pertunjukan yang lebih baik.
“Mengenai studi tiru ini adalah ide yang sangat bagus. Dengan adanya studi tiru di Solo saya bisa mempelajari bagaimana pengelolaan pertunjukan yang mungkin belum pernah saya temui di Yogyakarta. Di kemudian hari saya bisa mengadopsi beberapa teknik pengelolaan yang bisa saya terapkan saat nanti mendapat kesempatan memproduksi pertunjukan, tanpa meninggalkan dan tidak menentang pakem gaya Yogyakarta,” ungkapnya.
Lebih lanjut Drs. Kartiman, M.Sn., menjelaskan bahwa supaya Program Studi Tiru sebagai bagian dari konsep pendidikan vokasi dapat berjalan sesuai tujuannya, maka perencanaannya harus mampun mengakomodir kebutuhan secara kuantitas dan kualitas.
Sebagaimana diketahui tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa. Secara khusus untuk meningkatkan wawasan mahasiswa terhadap pengelolaan manajemen seni pertunjukan, dan seni kriya serta memberi gambaran mahasiswa terhadap passion yang bisa diraih setelah lulus.
Meningkatkan profesionalisme mahasiwa sebagai konsekuensi dari program studi yang dipilih dan mendorong mahasiswa untuk menggali entrepreneur sebagai modal pengembangan diri. (Rls)


















