KORAN MERAPI – Di tengah pesatnya perkembangan bisnis kuliner di Daerah Istimewa Yogyakarta, hadir sebuah warung makan yang membawa sentuhan berbeda: Waroenk Mas Fatih. Terletak di RT 01/RW, Padukuhan 3, Ngebel, Tamantirto,Kasihan, Bantul, Yogyakarta, warung ini menghadirkan menu andalan berupa Bakso 100% daging sapi, Mie Sapi Chili Oil, dan Mie Ayam Charsiu yang dibuat dengan resep otentik oriental.
Didirikan oleh Budiyanto Subagya, seorang putra daerah kelahiran Purwo Kinanti, Pakualaman, Yogyakarta, yang lama merantau dan berkarier di Jakarta sejak tahun 1993 hingga 2021. Setelah pensiun dini pada usia 47 tahun, Budiyanto memutuskan kembali ke Yogyakarta dan membuka usaha kuliner yang ia dedikasikan untuk cucu pertamanya bernama Fatih, ini disampaikan saat bincang-bincang dengan koranmerapi.id, Senin siang (26/5/2025).

Nama Fatih dipilih bukan karena arti historisnya, melainkan sebagai simbol “pembuka jalan”, harapan agar warung ini menjadi pembuka bagi ratusan cabang lainnya di masa depan.
Salah satu menu spesial yang menjadi daya tarik adalah Mie Sapi Chili Oil, dibuat dengan resep dan teknik otentik yang diperoleh langsung dari Tiongkok saat Budiyanto melakukan perjalanan bisnis. Chili oil yang digunakan terbuat dari minyak kedelai berkualitas dan racikan rempah asli, tanpa bahan pengawet atau pewarna buatan, menciptakan sensasi pedas yang seimbang dan kaya aroma.
“Untuk para penggemar bakmi, tersedia beberapa varian seperti Bakmi Chili Oil, Bakmi Jebret dengan level pedas 1–5, hingga Bakmi Ayam Gedor ala Wonogiri. Mienya dibuat sendiri tanpa bahan pengembang, hanya dari campuran telur dan tepung berkualitas,” jelas Budiyanto, yang juga sebagai Ketua Bidang Energi Terbarukan, Sumber Daya Mineral di kepengurusan DPC HIPPI Kota Yogyakarta.
Waroenk Mas Fatih juga unggul dengan produk Bakso Sapi 100% yang dibuat dari daging sapi lokal, khususnya sapi Bali, tanpa campuran daging ayam, pewarna, pengawet, atau pengembang. Komposisi bakso dijaga dengan rasio 91% daging dan hanya 9% bahan tambahan alami. Bakso disimpan dalam kondisi beku untuk menjaga kesegaran, bukan dipajang di etalase.
Selain itu, tersedia juga Tahu Bakso istimewa hasil kolaborasi dengan produsen tahu lokal berkualitas dari Kota Yogyakarta, tepatnya di daerah Kadipiro.
“Warung yang telah berdiri selama dua tahun ini menyediakan fasilitas memadai seperti area parkir untuk 8 mobil, area motor, ruang limasan berkapasitas 50 hingga 80 orang, dan ruang meeting ber-AC dengan kapasitas hingga 40 orang. Ruang ini dilengkapi smartboard screen, audio lengkap, dan bisa digunakan untuk pertemuan atau acara pribadi. Minimum order hanya Rp600.000 untuk penggunaan fasilitas secara eksklusif,” tambah Budi.

“Waroenk Mas Fatih juga telah membuka cabang dengan konsep berbeda di Jogja National Museum (dengan nama Dandan Noodle Bar) dan Stasiun Lempuyangan. Ke depan, rencana ekspansi akan dilakukan di Bali, tepatnya di Ubud dan Denpasar, pada Juli 2025 akan datang, dengan misi mengembangkan cabang-cabang luar kota dan menjadikan cabang utama di UMY sebagai pusat pelatihan dan produksi,” ungkap Budiyanto Subagya suami dari Nurhayati ini.
“Dengan konsep “makanan abadi” yang selalu relevan sepanjang zaman, yakni bakso dan bakmi, Waroenk Mas Fatih mengedepankan rasa, kebersihan, dan pengalaman kuliner yang menyenangkan bagi semua kalangan, khususnya mahasiswa dan pekerja yang mendambakan cita rasa autentik dan berbeda dari sajian lokal Jogja yang cenderung manis,” pungkas Budiyanto Subagya. (Ags)



















