
KORAN MERAPI – Kegiatan buka puasa bersama di Masjid An-Nur yang terletak di Petung, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul kembali dilaksanakan selama bulan Ramadan dengan melibatkan masyarakat sekitar.
Tradisi ini menjadi salah satu momen penting bagi warga untuk berkumpul, tidak hanya untuk berbuka puasa, tetapi juga sebagai sarana mempererat kebersamaan dan meningkatkan nilai-nilai keagamaan.
Giyanto, Ketua RT setempat menjelaskan bahwa rangkaian acara buka bersama diawali dengan pembukaan, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan keagamaan.
“Acaranya dimulai dari pembukaan, biasanya dilanjutkan dengan tahlil atau kalimah thoyibah, lalu diisi tausiah sampai menjelang waktu berbuka,” ungkapnya.
Tausiah yang disampaikan dalam kegiatan tersebut biasanya dibawakan oleh tokoh masyarakat maupun tokoh agama di lingkungan sekitar.
Kehadiran para tokoh ini diharapkan mampu memberikan pembelajaran serta penguatan keagamaan bagi para jamaah yang hadir.
Menurut Giyanto, tradisi berbagi takjil dan buka bersama di Masjid An-Nur sudah berlangsung sejak lama dan menjadi kebiasaan turun-temurun.
Ia menyebutkan bahwa kegiatan tersebut sudah ada sejak zaman para leluhur.
“Tradisi takjilan atau buka bersama itu sudah lama sekali, dari zaman simbah-simbah. Saya juga belum tau itu mulainya kapan, tahu tahu sudah ada. Jadi itu memang tradisi dari zaman simbah-simbah dulu,” tuturnya.
Ia menambahkan, diadakannya kegiatan ini diharapkan dapat memberikan dampak yang positif bagi warga masyarakat, yakni menjadi sarana bagi masyarakat untuk memperkuat hubungan sosial sekaligus meningkatkan keimanan.
“Harapannya masyarakat bisa berkumpul bersama untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan, sekaligus menjaga kerukunan antarwarga,” katanya.
Kegiatan buka bersama di Masjid An-Nur terbuka bagi siapa saja. Namun, karena hampir setiap wilayah juga mengadakan kegiatan serupa selama Ramadan, peserta yang hadir biasanya didominasi oleh warga sekitar.
Giyanto juga menyebutkan bahwa antusiasme warga terus meningkat setiap tahunnya, terutama dari kalangan anak-anak.
Ia menyampaikan, meningkatnya kesadaran masyarakat untuk beribadah turut mendorong tingginya partisipasi warga.
“Semakin meningkatnya amal peribadahan dari warga masyarakat, semakin kesadaran untuk beribadah itu meningkat, tentunya antusias kehadiran di majelis takjil itu semakin bertambah,” ujarnya.
Sekitar 100 paket takjil disediakan setiap hari untuk jamaah yang berbuka puasa.
Takjil tersebut berasal dari sumbangan warga yang ingin bersedekah dan biasanya disiapkan oleh kelompok kecil yang terdiri dari dua keluarga.
Selain itu, tak jarang pihak luar juga turut memberikan takjil secara cuma-cuma.
Dari informasi salah satu warga, Vida Damayanti, mengungkapkan bahwa proses memasak biasanya dimulai sejak pagi hari sekitar pukul 09.00 dan diantarkan ke masjid sekitar pukul 16.00. (Rohmalia Widyaning Rengganis)



















