KORAN MERAPI – Momentum Hari Kebangkitan Nasional ke-118 menjadi saksi pergerakan ekologis yang masif di Daerah Istimewa Yogyakarta. Yayasan Griya Jati Rasa menggelar rangkaian acara strategis berbasis komunitas pada Rabu, 20 Mei 2026 di Gedung DPD RI DIY, yang memadukan refleksi sejarah
ketangguhan bencana, transformasi ekonomi hijau, hingga pembekalan literasi digital bagi generasi muda dalam menghadapi ancaman Megathrust dan krisis iklim.
Acara diawali dengan sajian emosional flashback 20 tahun Gempa Yogyakarta melalui pembacaan dan pemaknaan kembali buku sejarah Perempuan dan Bencana: Pengalaman Yogyakarta. Narasi ini membuka ruang refleksi tentang bagaimana perempuan di akar rumput bangkit dari puing-puing bencana tahun 2006 silam. Peserta menonton pemutaran video yang bercerita tentang dua orang ibu penyintas, yaitu Yiwanti dari dusun Kadisoro, kalurahan
Gilangharjo, Kapenewon Pandak dan Titik Isyawatun Khasanah S.I.P yang sekarang adalah lurah kalurahan Sriharjo, Kapenewon Imogiri, Kabupaten Bantul.
Hadir sebagai pembicara utama, Dr. Ahmad Sihabul Milah, M.A., Rektor Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) An Nur Bantul, menyampaikan refleksi mendalam mengenai perjalanan satu tahun
pergerakan mitigasi perubahan iklim dan transformasi ekonomi hijau berbasis masyarakat yang dipelopori oleh Yayasan Griya Jati Rasa sejak dicanangkan pada April 2024 lalu.
“Lembaga pendidikan tinggi Islam dan pesantren memiliki tanggung jawab moral teologis dalam menghadapi krisis iklim. Transformasi ekonomi hijau berbasis masyarakat ini terbukti menjadi
oase keadilan ekologis yang menyatukan umat untuk merawat bumi. Kekuatan dari pergerakan yang dipelopori oleh Yayasan Griya Jati Rasa dengan mitra-mitranya, dijalankan lintas agama, lintas budaya, lintas daerah, lintas generasi dengan memberikan dukungan dan akses kepada masyarakat seperti petani dan masyarakat adat sebagai subyek merawat bumi sekaligus mendapat manfaat ekonomi langsung,” tegas Dr. Ahmad Milal dalam paparannya.
Sejalan dengan komitmen ekonomi hijau tersebut, Ustadz KH Beny Susanto, S.Ag., M.Si., selaku Ketua Koperasi Konsumen Griya Jati Rasa, secara resmi mendeklarasikan kesiapan kelembagaan
mereka untuk bertransformasi menjadi Koperasi Karbon pertama yang berbasis komunitas di DIY sekaligus di Indonesia. Koperasi ini berfokus pada model ekonomi sirkular ramah lingkungan, termasuk optimalisasi komoditas rendah emisi seperti tanaman penangkap karbon nyamplung dan digitalisasi hijau.
“Koperasi Konsumen Griya Jati Rasa siap melangkah lebih jauh menjadi motor penggerak perdagangan karbon berbasis kerakyatan. Kami ingin memastikan bahwa setiap aksi penanaman
pohon dan konservasi lingkungan yang dilakukan warga, memiliki dampak ekonomi langsung yang menyejahterakan mereka. Ada dua program yang sedang kami siapkan infrastruktur pelayanannya yaitu program asuh pohon dan gaji karbon dengan pilot projectnya di kalurahan Giricahyo, kapenewon Purwosari, Kabupaten Gunung Kidul,” ujar Ustadz Beny Susanto.
Program kedua, adalah paket “One Product, One Trip, One Tree” yang dilakukan oleh dan untuk anggota
dimana setiap produk yang terjual memberikan presentasi untuk donasi pohon yang akan dialokasi oleh koperasi langsung kepada petani dimana paket asuh pohon dilakukan. Program
ketiga, pembayaran paket gaji karbon kepada petani maupun pengumpulan donasi pohon dari penjualan produk anggota dilakukan langsung oleh aplikasi Semar Jati Rasa Mobile yang sudah
dioperasikan oleh koperasi.
Sebelum dilanjutkan oleh narasumber berikutnya, dilakukan pengumuman pemenang call for innovation yang disampaikan pada tanggal 13 Maret 2026 terkait dengan inovasi olahan
turunan dari eco enzyme. Pada saat itu, ada 8 kelompok pemuda/i Griya Jati Rasa yang menghadiri pelatihan eco enzyme di Pendopo Yayasan Griya Jati Rasa, di Pendopo Tali Rasa. Mereka menerima paket eco enzyme yang sudah siap pakai untuk melakukan riset terkait
dengan turunan olahannya. Paper penelitian mereka dikirimkan kembali kepada Yayasan Griya Jati Rasa dua bulan kemudian.
Jadi pada hari Kebangkitan Nasional ke-118 ini, Yayasan Griya Jati Rasa mengumumkan kelompok-kelompok yang mendapat peringkat juara satu, dua dan tiga. Kophi Yogyakarta memborong peringkat juara 1 dan 2, dan juara 3 diberikan kepada Lembaga AKAR. Hadiah yang diterima oleh para juara adalah uang pembinaan berjumlah di antara Rp 1,5 juta sampai Rp 500 ribu Rupiah. Juara pertama, diwakili oleh Rifka Agnes diundang untuk memberikan presentasi tentang mengapa topik olahan eco enzyme ramah lingkungan
digagaskan oleh mereka.
Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi krusial bersama ibu Farsijana Adeney-Risakotta, Ph.D., pendiri Yayasan Griya Jati Rasa. Beliau memimpin workshop kilat bertajuk “Bangkit dari Tapak
Bumi” bagi puluhan pemuda-pemudi pioner digital. Dr. Farsijana menekankan pentingnya anak muda mengambil tongkat estafet kepemimpinan mitigasi dengan memanfaatkan teknologi
informasi untuk menyalakan alarm kesiapsiagaan terhadap potensi bencana Megathrust laut selatan dan dampak krisis iklim global secara bersamaan.
Mereka dibimbing tentang bagaimana
menggunakan AI pada telepon gengamnya, dengan membuat pertanyaan untuk menghadirkan
data tentang persoalan krisis iklim yang ada di daerah di mana mereka berasal dan dihubungkan dengan tempat saat mereka sedang bermukim. Melalui workshop ini mereka menjadi corong
pengetahuan kepada publik dengan menghadirkan data-data yang akurat.
Workshop 30 menit tersebut ditutup dengan aksi “Gedor Digital Serentak”, di mana para pemuda secara bersama-sama mengunggah pesan siaga bencana berbasis kearifan lokal seperti Sambatan dan Gugur Gunung. Melalui gerakan ini, pemuda pioner didorong bukan sekadar menjadi pembuat konten, melainkan agen sosial yang siap mengorganisir dan
menyatukan masyarakat ketika situasi darurat melanda.
Kegiatan perayaan ini ditutup setelah dua pemuda dan pemudi dari kalurahan Giricahyo memimpin deklarasi pergerakan mitigasi perubahan iklim dan transformasi ekonomi hijau berbagai Masyarakat yang telah dinyatakan bersama pada tanggal 22 April 2025 di Institute Ilmu Al Quran An Nur. Seluruh peserta mengikuti mereka dalam mengulangi bait-bait dari deklarasi
hijau untuk menegaskan Kembali tentang kebangkitan ekologis Nusantara yang sedang dilakukan bersama pada perayaan hari kebangkitan nasional ke-118.
Rangkaian acara ini menegaskan posisi Yayasan Griya Jati Rasa dan mitra strategisnya sebagai pelopor gerakan keadilan ekologis di Yogyakarta, membuktikan bahwa ketangguhan sejati lahir dari kesatuan antara sejarah, ekonomi hijau, spiritualitas, dan aksi nyata generasi muda. (Rls)








