KORAN MERAPI – Lembaran panjang pengabdian seorang aparatur sipil negara (ASN) kerap kali hanya tercatat dalam tumpukan dokumen resmi. Namun, bagi Mikael Mitang Kasi, waktu 28 tahun 3 bulan pengabdiannya di Pemerintah Kota Yogyakarta tersimpan rapi didalam dan bidikan lensa kamera.
Menandai masa purna tugasnya sebagai ASN di Dinas Komunikasi Informatika dan Persandian (Diskominfosan) Kota Yogyakarta per 31 Juli 2026, pria yang akrab disapa Mike atau Bang Mik tersebut menggelar pameran foto tunggal bertajuk “Karyamu Abadi” di Mal Pelayanan Publik (MPP) Kota Yogyakarta pada Jumat (31/7/2026) siang.
Sebanyak 16 karya foto pilihan terpajang anggun, memperlihatkan denyut nadi dan wajah Kota Yogyakarta dari masa ke masa. Mulai dari ragam peristiwa perkotaan, kebencanaan, potret humanis pedagang pecel, hingga deretan wajah para pimpinan daerah melintasi lintas era kepemimpinan: R. Widagdo, Herry Zudianto, Haryadi Suyuti, hingga Hasto Wardoyo.

Mengawali pengabdian di Bagian Humas dan Informasi pada tahun 1996 (cikal bakal Diskominfosan), Mike mengenang bagaimana tantangan meliput di era kamera analog. Usai berburu momen di lapangan, ia harus berkutat di dalam kamar gelap, meracik kimia cuci cetak, hingga mengoperasikan alat enlarge demi selembar foto berita.
Hampir tiga dekade memegang kamera dinas, Mike mengaku kecintaannya pada profesi membuat seluruh kejadian lapangan bermakna positif. Ia bahkan mengenang momen tak terlupakan ketika harus berdesakan meliput agenda kepresidenan hingga tak sengaja terkena tendangan pengawal presiden (Paspampres).
Tak hanya itu, ia juga pernah mendapat teguran keras dari Adipati Pakualaman yang juga Wakil Gubernur DIY kala itu, Sri Paduka Paku Alam VIII, di hadapan ribuan pasang mata.
“Bagi orang lain mungkin tertekan, tapi buat saya itu motivasi. Dari situ saya belajar bahwa menjalankan tugas itu harus penuh dedikasi dan kecintaan,” ungkap Mike.
Dedikasi dan totalitas itu pula yang membawanya meraih penghargaan tingkat nasional melalui lomba foto “Jogja Dalam Lensa”. Momen ikonik itu lahir saat ia nekat memanjat crane Dinas Pemadam Kebakaran demi mendapatkan sudut pandang bird’s-eye view agenda Serangan Umum Sepeda di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta pada 2008 silam.
Uniknya, kepiawaian Mike dalam menangkap ekspresi alami (candid) membuat sejumlah pejabat sangat bergantung pada bidikannya. Mantan Wali Kota Haryadi Suyuti, misalnya, dikenal hanya mau difoto oleh Mike untuk berbagai agenda penting kedinasan maupun keluarga.
Pameran purna tugas ini dibuka secara resmi oleh Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, S.E., M.M. Dalam sambutannya, Wawan mengapresiasi tinggi dedikasi Mikael yang dinilainya mampu menyajikan foto yang berbicara tanpa kata-kata.
“Hari ini saya membuka pameran sebagai bentuk penghormatan sekaligus perpisahan kepada Pak Mikael Mitang Kasi yang telah mengabdi selama 28 tahun 3 bulan. Foto-fotonya sangat mengekspresikan situasi, baik mengenai peristiwa kota maupun potret para tokoh. Dedikasi beliau merupakan teladan penting bagi generasi penerus di Pemkot Yogyakarta,” ujar Wawan.
Dari 16 karya yang dipamerkan, Wawan mengaku paling terkesan dengan foto seorang pedagang perempuan yang sedang berjualan pecel, karena dinilai sangat kuat menggambarkan denyut ekonomi akar rumput Kota Jogja.

Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Persandian Kota Yogyakarta, Ignatius Trihastono, menyebut Mikael sebagai sosok istimewa yang setia pada satu jalur pelayanan sebagai jurnalis dan fotografer “plat merah” Pemkot Yogyakarta tanpa pernah berpindah tugas.
“Kami mengantarkan Bang Mik memasuki fase baru kehidupannya dengan rasa bangga dan bahagia. Pameran ini adalah wujud cinta dan penghormatan kami atas pengabdian beliau,” pungkas Trihastono.
Melalui pameran “Karyamu Abadi”, rekam jejak visual yang ditinggalkan Mikael Mitang Kasi di sudut-sudut Kota Yogyakarta akan tetap abadi sebagai warisan sejarah yang menceritakan kisah tentang seorang fotografer yang bekerja dengan sepenuh hati. (Ags)



















