KORAN MERAPI — Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan artifisial (AI), SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta mengambil langkah progresif dengan mengusung gagasan “Polymath di Era AI”. Pendekatan ini dihadirkan untuk mencetak kader yang tidak hanya fasih memanfaatkan teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir lintas disiplin.
Kepala SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta, Fitri Sari Sukmawati, M.Pd., menjelaskan bahwa seorang polymath adalah pembelajar yang menguasai berbagai bidang ilmu sekaligus mampu mengintegrasikannya untuk melahirkan solusi kontekstual.
“AI bisa membantu mencari data dan membuat karya. Namun, manusialah yang harus menentukan pertanyaan, nilai, dan maknanya. Karena itu, kita butuh generasi yang multiperspektif, bukan sekadar multitalenta,” ujar Fitri, Kamis (10/9/2026) di Kantor Kepala Sekolah, SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta, Jl. Kapten Piere Tendean No.58, Wirobrajan, Kota Yogyakarta.

Fitri menambahkan bahwa konsep polymath sejalan dengan pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning). Sebagai contoh, saat mendalami isu perubahan iklim, siswa tidak hanya belajar sains dan matematika, tetapi juga mengkaji kebijakan sosial, menyusun kampanye digital, hingga menelaah nilai-nilai Islam terkait pelestarian lingkungan (khalifah fil ardh).
Bagi ekosistem Sekolah Muhammadiyah, gagasan ini berakar pada nilai Islam Berkemajuan untuk melahirkan insan yang berilmu, beramal, berakhlak, serta bermanfaat bagi masyarakat. Sekolah tidak lagi memotret ilmu secara parsial atau mempertentangkan dikotomi sains dan agama. Sebaliknya, seluruh disiplin ilmu didialogkan, matematika berpadu dengan seni, dan sains bersinergi dengan AI.
Penerapan konsep ini mendorong transformasi peran pendidik di SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta, yaitu Guru; disini bisa bertransformasi dari sekadar sumber informasi menjadi learning designer, mentor, dan pembangun karakter.
Selanjutnya peran Kepala Sekolah, yaitu berperan sebagai learning leader yang mendorong budaya eksperimen serta kolaborasi antarmata pelajaran.

Implementasi nyata telah berjalan melalui pembelajaran STEAM berbasis project-based learning, sistem moving class sesuai orientasi studi lanjut, hingga penggabungan mata pelajaran lewat lesson study dan kegiatan kokurikuler.
Tantangan utama pendidikan di era AI bukanlah bersaing dengan mesin, melainkan menjaga sisi kemanusiaan, melahirkan generasi yang cerdas secara akademik, berempati, berintegritas, dan kreatif.
“Visi kami menuju 2045, dimana siswa meneliti, membuat proyek, menggunakan AI secara etis, dan berkolaborasi secara global, namun tetap berakar kuat pada nilai lokal dan keislaman. Masa depan bukan milik yang paling banyak tahu, melainkan milik mereka yang mampu menghubungkan pengetahuan, menciptakan makna, dan mengubahnya menjadi manfaat,” pungkas Fitri. (Ags)




















