KORAN MERAPI – Monumen Rudal Merapi di Kinahrejo, Cangkringan, Sleman, kini dilengkapi tulisan Damai Is Peace. Peresmian kelengkapan monumen dilaksanakan melalui syukuran di Warung Rudal Merapi milik Pak Narno, Pelemsari, Kinahrejo, Rabu (28/10/2026), pukul 10.00 WIB. Kegiatan yang bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda itu juga diisi doa bersama untuk mendiang korban erupsi Merapi 2010. Acara doa dan tumpengan dipimpin Juru Kunci Gunung Merapi, Asihono (dikenal sebagai Mbah Asih atau Lurah Surakso Sihono).
Tumpeng yang disiapkan terdiri atas nasi kuning, ayam jago, gudangan, mi, tempe, dan telur dadar. Tradisi tersebut menjadi bagian dari rasa syukur atas perjalanan panjang monumen sekaligus harapan agar pesan yang dibawanya terus terjaga.
Acara ini juga dihadiri warga Kinahrejo. Diharapkan agar keberadaan Museum Rudal Merapi berkontribusi positif bagi pariwisata dan perekonomian warga setempat.
Setya Nusantara, alumni SMA Negeri 6 Yogyakarta angkatan 1982, hadir sebagai saksi sejarah pembangunan Museum Rudal Merapi. Ia menjelaskan, gagasan pembangunan monumen berangkat dari keprihatinan terhadap perang dan dampaknya bagi kehidupan. Konflik Malvinas antara Argentina dan Inggris pada 1982 menjadi salah satu latar yang mendorong para pecinta alam Yogyakarta memikirkan cara menyampaikan pesan perdamaian melalui sebuah monumen.

Gagasan tersebut kemudian diwujudkan oleh Muda Wijaya Hiking Club (MWHC), komunitas pecinta alam SMA Negeri 6 Yogyakarta. Monumen yang didirikan pada 1984 itu selanjutnya mengalami relokasi pada 2017.
Pemilihan rudal sebagai simbol mengandung ironi yang disengaja. Benda yang identik dengan persenjataan dan kehancuran itu justru dijadikan pengingat bahwa perang dapat membinasakan alam beserta seluruh kehidupan di dalamnya. Monumen ini mengajak masyarakat memandang perdamaian sebagai tanggung jawab bersama, terlebih ketika berbagai konflik masih terjadi di sejumlah belahan dunia.
Melalui peresmian kelengkapan monumen ini, MWHC berharap pesan perdamaian yang pernah digagas para pecinta alam Yogyakarta tetap hidup lintas generasi. Dari Kinahrejo, pesan itu diharapkan terus mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga perdamaian di Indonesia dan dunia. (Rls)



















