KORAN MERAPI – Wali Kota Yogyakarta, Dr. dr. H. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K)., menyampaikan keprihatinan yang mendalam terkait masih banyaknya sampah yang dibuang ke sungai, khususnya Sungai Code. Hal tersebut ditegaskannya saat menghadiri acara Sosialisasi Mitigasi Bencana menuju Ekosistem Sungai yang Sehat di Graha Pandawa, Kompleks Balaikota Yogyakarta, Rabu (28/10/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta ini dihadiri oleh 150 peserta dari berbagai unsur, mulai dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Mantri Pamong Praja (MPP), Lurah, Kampung Tangguh Bencana (KTB), BBWS SO, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kota Yogyakarta, Komunitas Peduli Sungai, akademisi, hingga relawan kebencanaan.

Dalam sambutannya, Wali Kota menekankan agar Sungai Code sebagai salah satu ikon Kota Jogja menjadi prioritas utama untuk ditata menjadi lebih baik. Langkah ini penting guna menciptakan lingkungan pemukiman yang layak huni, aman, dan nyaman bagi warga.
“Diupayakan penambahan trash barrier di setiap batas kelurahan yang mengampu sungai serta pencanangan 1.000 biopori jumbo di Kota Jogja untuk mengurangi jumlah sampah yang menumpuk di sungai secara drastis,” tegas Wali Kota.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kota Yogyakarta, Drs. Nur Hidayat, M.Si., memaparkan serangkaian agenda dalam rangka Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) 2026. Beberapa di antaranya meliputi Apel Siaga Bulan PRB 2026, Launching JONET (Jogja Connect), Review KTB, Rakor Forum KTB Kota, Pelatihan Mitigasi Bencana Bangunan Cagar Budaya, Pelatihan PPGD dan TOT, Podcast JONET, Sosialisasi Mitigasi Bencana Kawasan Sumbu Filosofi dan Bantaran Sungai, Sosialisasi Komunikasi EWS Banjir, Simulasi SAR Gabungan, hingga Pusdalops Dolan OPD.

Acara dilanjutkan dengan diskusi panel menghadirkan pakar sumber daya air dan lingkungan Vokasi UGM, Prof. Dr. Ir. Ing. Agus Maryono, IPM., ASEAN Eng., GRCP., sebagai narasumber utama dengan topik “Pengelolaan Sungai Ekologis, Mencegah Bencana, dan Mensejahterakan Masyarakat”. Diskusi yang dipandu oleh Dosen UKDW sekaligus Ketua FPRB, Dr. Ing. Gregorius Sri Wuryanto Prasetyo Utomo, S.T., M.Arch., tersebut berlangsung dinamis.
Dalam paparannya, Prof. Agus menyoroti sejumlah persoalan kritis sungai saat ini, seperti pembangunan talud yang masif, penyempitan alur sungai oleh bangunan, alih fungsi sempadan menjadi hunian, ancaman longsor tebing dan bantaran, masuknya limbah dan sampah, hingga keberadaan bendung yang memutus migrasi ikan.

Menanggapi dinamika lapangan menjelang musim hujan, Ketua Forum Komunikasi Sungai Jogja sekaligus Wakil Ketua FPRB Kota Yogyakarta, Harris Syarif Usman, S.H., M.Kn., mengimbau masyarakat bantaran untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir dan longsor akibat peningkatan debit air serta sedimentasi.

“Kami sangat berharap warga bantaran tidak membuang sampah ke sungai karena tumpukan sampah plastik dari hulu dapat menyumbat aliran dan memicu luapan air ke pemukiman. Selalu pantau sirine peringatan dini (Early Warning System/EWS), informasi cuaca BMKG, dan arahan BPBD. Jika hujan deras tidak kunjung reda, warga di dekat tebing curam atau talud diimbau segera mengungsi ke tempat yang lebih aman apabila debit air naik drastis,” imbau Harris. (Rls)



















