KORAN MERAPI — Bulan Ruwah yang secara harafiah dimaknai sebagai ngluru arwah atau menelusuri dan mendoakan arwah leluhur, menjadi momentum penting bagi masyarakat Jawa untuk melakukan penyucian diri dan bersedekah menjelang datangnya bulan suci Ramadhan. Tradisi turun-temurun ini diyakini sebagai wujud bakti kepada para leluhur agar arwah mereka senantiasa mendapatkan pengampunan, diterima amal kebaikannya, serta memperoleh tempat mulia di sisi Allah SWT.
Nilai-nilai itulah yang melandasi Tuwanggana Kadipaten menggelar ziarah agung ke makam leluhur Mataram di kompleks Makam Raja-Raja Kotagede, khususnya makam Panembahan Senopati, pada Sabtu (24/1).
Ziarah dipimpin oleh Pinituwa Kadipaten, Haryawan Emir Nuswantoro, SS, SE, dan diikuti Ketua Kampung Ngasem, Kadipaten Wetan, Kadipaten Kidul, Kadipaten Kulon, para Ketua RW, seluruh Ketua Lembaga Kemasyarakatan Kelurahan, serta pengurus Tuwanggana Kadipaten. Rombongan berangkat bersama dari Kelurahan Kadipaten dengan mengenakan busana adat Pranakan.

Setibanya di Makam Raja-Raja Kotagede, rombongan secara resmi diterima oleh Penghageng Puralaya Kotagede, KRT. Hastono Kusumo, didampingi para abdi dalem Puralaya. Selanjutnya, Pinituwa Kadipaten dibukakan pintu cepuri dan bersama rombongan masuk secara berurutan untuk bersila di sisi nisan Ki Ageng Pemanahan dan Panembahan Senopati. Doa untuk arwah leluhur Mataram dipimpin oleh abdi dalem Puralaya Kotagede dengan suasana khidmat dan penuh penghormatan.
Usai prosesi ziarah, Drs. H. Zuliadi, M.Ag, Ir. Gardani, dan Andi Hendro Irianto, yang ketiganya merupakan Ketua Kampung, menyampaikan kesan mendalam atas kegiatan tersebut. Mereka mengaku ziarah ke Kotagede ini merupakan pengalaman pertama sekaligus kebahagiaan yang tak ternilai.
“Kami bersama Tuwanggana Kadipaten senantiasa nguri-uri tradisi adiluhung untuk selalu mengingat jejak sejarah leluhur Mataram dan mendoakan beliau para pendiri Mataram yang sudah sumare,” ujar Zuliadi.
Sementara itu, Ketua Pokdarwis Kadipaten, RM. Rahadyan Candra Ismaya, berharap tradisi ziarah Bulan Ruwah ini dapat dijadikan agenda tahunan Tuwanggana Kadipaten. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya mempererat silaturahmi antar tokoh kampung, tetapi juga menjadi sarana pelestarian budaya dan tradisi luhur bagi warga Kadipaten, bahkan dapat diperluas hingga masyarakat Njerón Beteng. (Rls)


















