KORAN MERAPI – Dahulu R.A. Kartini berjuang melawan ketertindasan dan kebodohan melalui pendidikan, “Kartini Jaman Sekarang” telah memperluas medan perjuangannya ke ranah yang sangat krusial: ketahanan pangan.
Di tengah fluktuasi harga kebutuhan pokok dan tantangan perubahan iklim, sosok perempuan masa kini hadir sebagai penentu agar dapur keluarga tetap mengepul dan masyarakat tetap berdaya.
Semangat inilah yang terpancar nyata dari Kelompok Wanita Tani (KWT) Jengger yang berlokasi di RT 03, Paduluhan Kruwet, Sumberagung, Moyudan, Sleman. Dipimpin oleh Sri Subekti, kelompok ini membuktikan bahwa tangan dingin perempuan mampu mengelola lahan menjadi sumber kehidupan.
Pada Minggu pagi (19/4/2026), suasana di Paduluhan Kruwet tampak berbeda. Di bawah sinar matahari pagi, para anggota KWT Jengger berkumpul dengan wajah ceria. Meski peluh membasahi wajah, kekompakan mereka tak luntur saat memanen kacang tanah dari demplot seluas 400 meter persegi.
Ibu-ibu tampak berjajar rapi di tepi jalan, mengumpulkan hasil cabutan kacang yang melimpah. Panen ini menjadi bukti otentik bahwa lahan yang terbatas, jika dikelola dengan optimal dan sungguh-sungguh, mampu menghasilkan pangan berkualitas tinggi bagi masyarakat.
Ketua KWT Jengger, Sri Subekti, menegaskan bahwa fokus kelompoknya tidak hanya pada satu komoditas. Lahan KWT Jengger juga disulap menjadi kebun sayur mayur yang variatif.
“Demi memenuhi kebutuhan pangan keluarga dan menambah pendapatan, kami juga menanam berbagai jenis sayuran. Kami ingin menunjukkan bahwa wanita tidak hanya berperan di dapur, tetapi juga mampu berdaya dan produktif di lahan pertanian,” ujar Sri Subekti di sela-sela kegiatan panen.
Ia menambahkan bahwa KWT Jengger menjadi wadah bagi kaum perempuan untuk: Belajar & Berbagi Ilmu, dimana meningkatkan kapasitas teknik pertanian rumahan.
Selanjutnya Menjaga Stabilitas Pangan, yang memastikan ketersediaan bahan pangan sehat dari tingkat rumah tangga hingga lingkungan sekitar.
Munculnya Kemandirian Ekonomi, untuk menambah penghasilan keluarga melalui hasil tani dan Menginspirasi Lewat Gotong Royong, disini aksi nyata KWT Jengger bukan sekadar kegiatan bercocok tanam biasa, melainkan sebuah gerakan sosial.
Dengan semangat gotong royong yang kental, mereka berharap dapat menjadi pemantik bagi kelompok perempuan lain untuk mulai memanfaatkan pekarangan rumah atau lahan kosong di sekitar mereka.
KWT Jengger telah membuktikan bahwa di tangan perempuan yang berdaya, ketahanan pangan bukan lagi sekadar wacana, melainkan realitas yang menghidupi bangsa. (Rls)








