Kamis, 8 Oktober 2026
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan
  • Redaksi
  • Kontak
  • Login
  • Register
Koran Merapi
Advertisement
  • Home
  • News
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Ekbis
  • Olahraga
  • Kesehatan
  • Wisata
  • Kuliner
  • Budaya
  • Opini
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Ekbis
  • Olahraga
  • Kesehatan
  • Wisata
  • Kuliner
  • Budaya
  • Opini
No Result
View All Result
Koran Merapi
No Result
View All Result
Home Opini

Memelihara Harapan, Catatan Hendry Ch Bangun (FWK)

admin by admin
6 Juni 2026
in Opini
0
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

KORAN MERAPI  – Bagaimana tingkat optimisme dalam diri Anda hari ini Semangat saya sendiri kadang naik, tetapi lebih sering turun. Sebagai wartawan yang banyak bersentuhan langsung dengan masyarakat, memantau media sosial, melihat karya jurnalistik khususnya media siber, terus terang kegelisahan saya sangat tinggi.
Kalau kehidupan pers secara umum, semakin berkurangnya daya tahan perusahaan media, makin rawannya upaya mencegah kebangkrutan, semua orang sudah tahu. Sudah terjadi bertahun-tahun, tanpa terlihat ada perbaikan.

Masyarakat pers berusaha mencari jalan keluar melalui usulan kepada pemerintah yang berakhir dengan lahirnya KTP2JB (Komite Tanggung Jawab Perusahaan Platform Digital untuk Mendukung Jurnalisme Berkualitas). Lembaga di bawah Dewan Pers yang tujuannya dimaksudkan agar pers Indonesia bisa mendapat “sedikit” rezeki dari platform global, malah akhirnya seperti menemui tembok batu ketika Presiden Prabowo dan Donald Trump menandatangani Agreement on Reciprocal Trade (ART) bulan Februari 2026, hanya seminggu setelah Hari Pers Nasional. Betapa ironis. Sudah KTP2JB dianggap too little too late, eh dicuekin pula oleh pemerintah.

Ada inisiatif lain agar produk jurnalistik yang didapatkan dengan modal besar, yakni effort tenaga kerja professional yang digaji, kesulitan di lapangan, hambatan langsung dan tak langsung, ancaman kekerasan, upaya menjaga standar kode etik, yakni dengan penghargaan atas hak cipta bila karya itu diambil platform global. Tetapi sudah bisa diduga, meski dibantu Kementerian Hukum, tetap saja, rezeki yang menetes ke perusahaan pers kita akan amat sangat kecil, selain sulit diperoleh. Sulit menopang kerja organisasi yang melahirkan produk bermutu.

Yang menyedihkan, dalam kondisi seperti itu, tidak ada upaya sungguh-sungguh pemerintah untuk memelihara pers yang berperan sebagai pelita dalam kegelapan hati masyarakat. Tidak ada upaya melihat bahwa kondisi sekarang telah masuk ke tahap gawat darurat.
Yang ada hanya tuntutan-tuntutan kepada pers, yang nir subsidi. Harus membela kepentingan bangsa dan negara. Harus mendukung program pemerintah. Harus berisi pesan positif. Harus memahami kerja keras penyelenggara negara yang ingin menciptakan kemakmuran bagi rakyat.

Saya berpikir, yang berbicara ini ngerti nggak duduk persoalan? Tidak memberi tetapi meminta terus. Sudah dibatasi, dituntut pula untuk menyokong tanpa reserve. Sudah dikerjai dengan kekerasan dalam berbagai bentuk, eh diharapkan selalu melihat dengan kacamata positif. Apakah dunia mereka sudah segila itu?
Cuci muka dulu deh, kalau mau meminta pers membantu. Pandang cermin baik-baik. Pikirkan bagaimana kehidupan pekerja pers yang sekarang ini sudah seperti kata pepatah. Bagai kerakap tumbuh di batu, hidup segan mati tak mau. Masih mencoba bekerja dengan sungguh-sungguh karena menilai profesi wartawan yang disandangnya adalah mulia dan karena itu harus dipertahankan meski kepala pusing akibat gaji yang kurang dan sensor diri dan pembatasan dari pimpinan.

Mereka yang putus asa, dan itu banyak, akhirnya terjerumus pada kondisi mental yang pasrah. Daripada melawan dan mendapat kesulitan, ya nikmati saja fasilitas yang disediakan. Tidak usah dipikirkan apa dan bagaimana ke depan.
Padahal ini ancaman nyata bagi bangsa Indonesia. Kalau para professional sudah pragmatis dan kehilangan idealisme, maka inisiatif, dan keinginan untuk menjadi pers yang kritis dan meluruskan yang bengkok, mengingatkan penyelenggara yang lupa dan seenaknya, akan mati. Dan setelah itu tidak perlu lagi bicara soal pers sebagai pilar keempat demokrasi.

Pesimisme di tengah masyarakat juga sangat tinggi. Silakan pantau media sosial, itu akan tercermin dengan sendirinya. Ada banyak hal yang menimbulkan kesan bahwa pemerintah berjalan sendiri ke arah yang tidak sesuai dengan harapan masyarakat, apparat pemerintah bekerja semaunya dan tidak peduli kepekaan sosial. Penuh berita negative.

Contohnya, vonis ringan yang dijatuhkan kepada Anggota TNI yang membunuh seorang kepala cabang bank pemerintah, begitu pula tuntutan terhadap Anggota TNI yang menyiram air keras ke tubuh Andry Yunus, dan mahkamah militer di Medan yang hanya memvonis 10 bulan Sertu Riza Pahlevi yang membunuh pelajar. Ini kok seperti kembali ke zaman Orde Barunya Soeharto padahal kita telah menjalankan Reformasi?

Yang juga ramai tentu penangkapan Kepala BGN Dadan Hindayana dan dua wakilnya Irjen Purnawirawan Sonny Sanjaya dan Letjen TNI Purnawirawan Lodewiyk Pusung, yang sudah lama dikritik masyarakat karena banyaknya kejanggalan program MBG. Terbongkar betapa bobroknya orang BGN dan negara sudah mengalami kerugian puluhan trilyun rupiah. Kok begitu lama dibiarkan?
Begitu pula dengan ditangkapnya Wakil Menteri Imnipas Silmy Karim karena korupsinya saat menjabat Dirjen Imigrasi, yang ternyata bersama anak buahnya mendapat uang haram secara bersama-sama mencapai ratusan milyar.

Belum lagi berita vonis beberapa tahun atas Wakil Menteri Tenaga Kerja Imanuel Ebenezer yang terkesan petantang petenteng meski jelas korupsi, seperti tidak merasa bersalah, atau karena dia merasa orang dekat kekuasaan? Mau muntah kita melihat sikapnya.
Silakan cek ke pasar-pasar, warung sembako, tempat makan rakyat seperti warteg. Terjadi kemerosotan daya beli yang konkret. Ditambah lagi dengan kurs rupiah yang makin depresiasi, terjadi pelambatan ekonomi.

Menteri Keuangan Purbaya yang asal bunyi, mengatakan warteg yang kekurangan pembeli itu yang kalah bersaing, jadi kurang laku. Silakan keliling, ambil contoh di 5 daerah ibukota, khususnya yang dekat dengan kegiatan masyarakat seperti pasar, atau pangkalan ojek, sekolah, biar Anda tahu kebenarannya.

Kalau pejabat asal ngomong, makan kredibilitas Anda akan jatuh. Tipe pejabat seperti ini juga membuat kepercayaan masyarakat kepada pemerintah ikut turun. Pilih kosa kata yang baik dan juga cek fakta. Termasuk mereka yang mencari berbagai dalih untuk “membenarkan” pembelian daging kurban Presiden yang menggunakan ABPN, dengan argumentasi masing-masing.

Apakah lalu kita putus asa?
Kepada beberapa teman saya kerap mengatakan, dalam kondisi seperti itu, kita harus tetap memelihara harapan, mempertahankan optimism.
Para pekerja pers, anggap saja apa yang dilakukan saat ini meskipun dalam kondisi buruk dan seperti menggarami air laut, perlu untuk menenangkan hati sendiri. Bekerja tulus untuk nama baik dan kehormatan keluarga, dan institusi kita bekerja, seburuh apapun keadaannya. Ada baiknya kita mengenang jalan terjal dan penuh duri yang dialami tokoh pers seperti HOS Tjokro Aminoto, Burhanudin M Diah, Tirto Adhi Suryo, dll yang mempertaruhkan nyawa demi menyebarkan berita bagi rakyat.

Menghadapi kondisi sosial masyarakat yang tidak kondusif karena hanya ingin mendapatkan berita gratis dari media sosial dan platform global, kita harus yakin bahwa produk jurnalistik yang setia pada etika, menjunjung tinggi norma-norma, akurat dan tidak berprasangka, akan tetap menjadi acuan ketika jutaan informasi berlimpah hanya membuat bingung.

Tentu kita berharap masyarakat sipil semakin tergerak untuk menghidup-hidupi (memakai istilah pendiri Muhammadyah, KH Ahmad Dahlan) pers yang masih sekarat. Berharap kepada pemerintah dan parlemen, ya boleh saja, tetapi anggap itu sebagai keajaiban yang bisa datang dan bisa juga tidak. Banyak tantangan tetapi juga masih ada banyak harapan kalau semua yakin bahwa pers adalah betul-betul pilar sebuah negara demokrasi.

Rasa optimisma penting untuk memelihara kesehatan jiwa wartawan dan pekerja pers terkait. Hanya dengan demikian kita akan melihat kehidupan akan berakhir dengan baik meskipun waktu akan berhenti pada saatnya. Dan hanya dengan demikian agar harapan masyarakat bahwa pers ada untuk mengawal, membantu, menyuarakan aspirasi mereka masih bisa kita lakukan.
Saya ingat salah satu kalimat yang disampaikan Khatib ketika salat Jumat di kantor PBB di New York, di sela meliput turnamen grandslam AS Terbuka tahun bulan Agustus tahun 1991. “Tanamlah pohon meski besok akan kiamat,” katanya mengutip habis Nabi Muhammad SAW, yang menunjukkan optimisme apapun yang akan terjadi.
Wallahu a’lam bhisawab.

Ciputat, 5 Juni 2026.

Tags: FWKHendry Ch BangunJurnalistikKoranmerapi.idKTP2JB

Related Posts

Rocky Gerung Masuk Istana, Kritik Masihkah Berjarak?
Opini

Rocky Gerung Masuk Istana, Kritik Masihkah Berjarak?

7 Oktober 2026
Dengan Olahraga Kita Bersatu
Opini

Dengan Olahraga Kita Bersatu

6 Oktober 2026
Kumpulan Cerpen Artificial Intelligence (AI) Eksperimen dan Adaptasi Kemajuan
Opini

Kumpulan Cerpen Artificial Intelligence (AI) Eksperimen dan Adaptasi Kemajuan

3 Oktober 2026
Pembangunan Blue Economy Menuju Indonesia Emas 2045
Opini

Kesaktian Pancasila dalam Ancaman Ekonomi Konglomerasi dan Oligarki

2 Oktober 2026
Menolak Lupa G30S 1965: Tragedi Lubang Buaya dan Warisan untuk Generasi Muda
Opini

Menolak Lupa G30S 1965: Tragedi Lubang Buaya dan Warisan untuk Generasi Muda

30 September 2026
Korupsi Tak Pernah Kehabisan Pelaku
Opini

Korupsi Tak Pernah Kehabisan Pelaku

29 September 2026

Stay Connected

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Penutupan Plengkung Nirboyo (Plengkung Gading) untuk Konservasi dan Keselamatan

Penutupan Plengkung Nirboyo (Plengkung Gading) untuk Konservasi dan Keselamatan

15 Maret 2025
Bukber Alumni SMPN 1 Jogja Tahun 1983: Ayo Reuni & Bernostalgia!

Bukber Alumni SMPN 1 Jogja Tahun 1983: Ayo Reuni & Bernostalgia!

15 Maret 2025
Mematahkan Stigma, Penyintas Stroke Lumpuh dan Dokternya Berlari Bersama di Bethesda Heritage Run 2026: “Stroke Bukan Akhir Segalanya”

Mematahkan Stigma, Penyintas Stroke Lumpuh dan Dokternya Berlari Bersama di Bethesda Heritage Run 2026: “Stroke Bukan Akhir Segalanya”

17 Mei 2026
Retno Soetarto : Dunia Hiburan dapat Memberikan Manfaat Dalam Hidupnya.

Retno Soetarto : Dunia Hiburan dapat Memberikan Manfaat Dalam Hidupnya.

18 April 2024
Inovasi Biodrying RDF Antar Solusi Bangun Indonesia Raih ASEAN Energy Awards 2026 di Filipina

Inovasi Biodrying RDF Antar Solusi Bangun Indonesia Raih ASEAN Energy Awards 2026 di Filipina

0
Dampak Exit Tol di Maguwoharjo Dipetakan, Dishub DIY Wacanakan Bundaran Besar

Dampak Exit Tol di Maguwoharjo Dipetakan, Dishub DIY Wacanakan Bundaran Besar

0
Pelatih Fisik PSS Sleman Anel Hidic Benahi Fisik Pemain Secara Bertahap Hingga Capai Peak Performance Saat BRI Liga 1 Kembali Bergulir

Pelatih Fisik PSS Sleman Anel Hidic Benahi Fisik Pemain Secara Bertahap Hingga Capai Peak Performance Saat BRI Liga 1 Kembali Bergulir

0
Begini ritual tahunan di Jogja, pelaku wisata untung

Begini ritual tahunan di Jogja, pelaku wisata untung

0
Inovasi Biodrying RDF Antar Solusi Bangun Indonesia Raih ASEAN Energy Awards 2026 di Filipina

Inovasi Biodrying RDF Antar Solusi Bangun Indonesia Raih ASEAN Energy Awards 2026 di Filipina

8 Oktober 2026
Gelar Pertunjukan Rakyat dan Pameran Batik Gayeng Guyub Sidomukti, Pemkab Gunungkidul Dorong Kreativitas dan Kemandirian Sekolah

Gelar Pertunjukan Rakyat dan Pameran Batik Gayeng Guyub Sidomukti, Pemkab Gunungkidul Dorong Kreativitas dan Kemandirian Sekolah

8 Oktober 2026
STIKES Bethesda Wujudkan Sekolah Lansia di Ngampilan Yogyakarta

STIKES Bethesda Wujudkan Sekolah Lansia di Ngampilan Yogyakarta

8 Oktober 2026
Bicara di Komite 4 PBNB, Teguh Santosa Beberkan Keberhasilan Pembangunan di Sahara

Bicara di Komite 4 PBNB, Teguh Santosa Beberkan Keberhasilan Pembangunan di Sahara

7 Oktober 2026
Inovasi Biodrying RDF Antar Solusi Bangun Indonesia Raih ASEAN Energy Awards 2026 di Filipina

Inovasi Biodrying RDF Antar Solusi Bangun Indonesia Raih ASEAN Energy Awards 2026 di Filipina

8 Oktober 2026
Gelar Pertunjukan Rakyat dan Pameran Batik Gayeng Guyub Sidomukti, Pemkab Gunungkidul Dorong Kreativitas dan Kemandirian Sekolah

Gelar Pertunjukan Rakyat dan Pameran Batik Gayeng Guyub Sidomukti, Pemkab Gunungkidul Dorong Kreativitas dan Kemandirian Sekolah

8 Oktober 2026
STIKES Bethesda Wujudkan Sekolah Lansia di Ngampilan Yogyakarta

STIKES Bethesda Wujudkan Sekolah Lansia di Ngampilan Yogyakarta

8 Oktober 2026
Bicara di Komite 4 PBNB, Teguh Santosa Beberkan Keberhasilan Pembangunan di Sahara

Bicara di Komite 4 PBNB, Teguh Santosa Beberkan Keberhasilan Pembangunan di Sahara

7 Oktober 2026
Eko Suwanto Ucapkan Selamat HUT 270 Kota Jogja, Dorong Pemkot Tingkatkan Anggaran Pendukung 5 Program Prioritas Atasi Kemiskinan

Eko Suwanto Ucapkan Selamat HUT 270 Kota Jogja, Dorong Pemkot Tingkatkan Anggaran Pendukung 5 Program Prioritas Atasi Kemiskinan

7 Oktober 2026
Penanganan Terpadu Dik Aji, BAZNAS Bangun Rumah Layak Huni dan Tim Medis Berikan Pengobatan Rutin di Karangmojo

Penanganan Terpadu Dik Aji, BAZNAS Bangun Rumah Layak Huni dan Tim Medis Berikan Pengobatan Rutin di Karangmojo

7 Oktober 2026