KORANMERAPI.ID – Upaya meningkatkan produktivitas dan daya saing pekebun kelapa sawit swadaya terus diperkuat melalui Program Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Perkebunan Kelapa Sawit.
Program yang setiap tahun dijalankan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian tersebut menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat kapasitas pekebun sawit di Indonesia.
Dalam pelaksanaannya, BPDP dan Ditjenbun menggandeng berbagai lembaga pelatihan, termasuk LPP Agro Nusantara. Program ini menyasar pekebun sawit swadaya yang tersebar di 26 provinsi penghasil kelapa sawit.
Peningkatan produktivitas menjadi salah satu fokus utama. Sebab, pekebun swadaya masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari pemahaman praktik budidaya yang baik, akses terhadap bibit unggul dan tersertifikasi, hingga tuntutan pemenuhan regulasi keberlanjutan.
Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir BPDP, Mohammad Alfansyah, mengatakan BPDP berperan dalam menyediakan pendanaan sekaligus memastikan penerima manfaat program terus bertambah.
“Harapannya akan semakin banyak penerima manfaat dan semakin besar dampak yang bisa dihasilkan,” ujar Alfansyah.
Menurut dia, pengembangan SDM pekebun sawit merupakan investasi jangka panjang. Hal itu sejalan dengan karakteristik tanaman kelapa sawit yang memiliki masa produktif hingga sekitar 25 tahun.
Karena itu, peningkatan kompetensi pekebun saat ini diharapkan memberikan dampak terhadap keberlanjutan usaha perkebunan dalam beberapa tahun mendatang.
“Apa yang kita lakukan sekarang itu juga berbicara 5 atau 10 tahun mendatang. Hari ini menjadi awalan untuk menciptakan ekosistem bisnis bagi pekebun swadaya yang lebih berdaya saing,” katanya.
Pekebun Swadaya Punya Peran Penting
Pekebun swadaya memiliki posisi penting dalam industri kelapa sawit nasional. Dengan luas lahan sawit yang mencapai hampir 7 juta hektare dan jumlah pekebun sekitar 2,6 juta orang, peningkatan kapasitas mereka menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas perkebunan nasional.
Namun, sejumlah persoalan masih menjadi tantangan di tingkat lapangan. Selain pemahaman mengenai Good Agriculture Practices (GAP) atau praktik budidaya pertanian yang baik, pekebun juga menghadapi persoalan akses terhadap bahan tanam berkualitas dan tersertifikasi.
Di sisi lain, perkembangan regulasi nasional maupun tuntutan pasar global membuat pekebun perlu terus memperbarui pengetahuan agar mampu mengikuti perubahan dalam industri kelapa sawit.
Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma, Dr. Iim Mucharam, S.P., M.P., mengatakan Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan teknis.
Program tersebut juga menjadi jembatan bagi pekebun untuk memperoleh informasi mengenai berbagai kebijakan dan program strategis pemerintah.
“Selain menyasar pengetahuan, program ini menjadi penghubung pekebun untuk mengikuti isu maupun peraturan terbaru dalam bisnis kelapa sawit,” kata Iim dalam pers conference di LPP Agro Nusantara, Yogyakarta, Kamis (24/9/2026)
Menurut dia, peningkatan kapasitas tersebut juga membuka peluang bagi pekebun untuk memahami dan mengakses berbagai program pemerintah, termasuk Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).
Pekebun juga dapat memperoleh informasi mengenai kewajiban dan penerapan sertifikasi keberlanjutan, termasuk Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).
LPP Agro Nusantara Dorong Pelatihan yang Praktikal
Dalam program tersebut, LPP Agro Nusantara menjadi salah satu lembaga yang turut dipercaya untuk menyelenggarakan pelatihan bagi pekebun sawit swadaya.
Direktur LPP Agro Nusantara, Pranoto Hadi Raharjo, mengatakan pihaknya memahami bahwa program pengembangan SDM tersebut memiliki tujuan yang lebih besar dibandingkan sekadar memberikan pelatihan.
“Ini bukan hanya sekadar pelatihan untuk menambah pengetahuan. Ini adalah langkah yang kita harap bisa membawa dampak besar bagi pekebun,” ujarnya.
Menurut Pranoto, pelatihan harus mampu menjadi sarana transfer pengetahuan sekaligus keterampilan yang dapat diterapkan langsung oleh pekebun di lapangan.
Karena itu, keberhasilan pelatihan tidak hanya diukur dari seberapa banyak materi yang disampaikan pemateri. Hal yang lebih penting adalah adanya perubahan perilaku kerja dan penerapan praktik budidaya yang lebih baik.
Dengan demikian, kompetensi yang diperoleh selama pelatihan diharapkan benar-benar memberikan kontribusi terhadap peningkatan produktivitas dan efisiensi usaha perkebunan.
Dalam tiga tahun terakhir, LPP Agro Nusantara telah dipercaya menyelenggarakan 211 kelas pelatihan dengan total 6.439 peserta.
“Angka ini tentu bukan hanya sekadar capaian, tapi kepercayaan atas kemampuan kami menyampaikan materi yang praktikal dan sesuai dengan kebutuhan pekebun swadaya,” kata Pranoto.
Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit yang kembali digelar tahun ini sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat kualitas sumber daya manusia di sektor perkebunan.
Penguatan SDM dinilai menjadi fondasi penting untuk membangun perkebunan kelapa sawit yang lebih produktif, berkelanjutan, dan memiliki daya saing.
Melalui kolaborasi BPDP, Ditjenbun, lembaga pelatihan, dan para pekebun, peningkatan kapasitas manusia di sektor sawit diharapkan dapat memberikan dampak yang tidak hanya dirasakan saat program berlangsung, tetapi juga dalam keberlanjutan usaha perkebunan pada tahun-tahun mendatang. (Aja)




















