KORAN MERAPI – Suasana khidmat dan meriah menyelimuti Padukuhan Jeruklegi, Kalurahan Katongan, Kapanewan Nglipar, Jumat malam, (28/8/2026) saat warga bersama Karang Taruna FORJI menggelar pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Acara ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-8, sekaligus menyongsong Hari Wayang Dunia dan Hari Wayang Nasional.
Pagelaran seni ini menghadirkan lakon “Bagong Kembar” yang dibawakan oleh kolaborasi dua dalang, yakni Ki Yusuf Anshor Ganendra dan Ki Kuat Hadi Samono. Selain sebagai sarana hiburan, acara ini menjadi simbol pelestarian budaya bangsa di tengah masyarakat modern.
Dalam sambutannya, Ketua Karang Taruna FORJI Jeruklegi, Marzocci menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada keluarga besar Masda Yusuf Anshor, para donatur, dan seluruh warga yang telah berkolaborasi menyukseskan rangkaian kegiatan selama bulan Agustus. Ia juga menyampaikan permohonan maaf atas segala kekurangan dalam penyelenggaraan acara tersebut.
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih yang hadir bersama jajaran Kepala Dinas Kebudayaan dan Panewu Nglipar, memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas terselenggaranya acara ini. Dalam sambutannya, Bupati menegaskan bahwa wayang kulit telah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia (world cultural heritage).
“Wayang kulit tidak hanya berfungsi sebagai tontonan yang menghibur, tetapi juga sebagai tuntunan hidup yang sarat akan ajaran moral dan filosofi kehidupan yang luhur,” ungkap Bupati dalam sambutannya.
Lebih lanjut, Bupati memberikan pesan khusus kepada generasi muda. Mengutip pesan Bung Karno tahun 1933, beliau mengajak para pemuda Karang Taruna untuk memiliki tekad yang kuat, “otot kawat, balung wesi” serta semangat pantang menyerah dan gotong royong dalam membangun daerah Gunungkidul.
Acara yang diawali dengan pembacaan basmalah bersama ini dihadiri oleh tokoh masyarakat, tokoh agama, serta warga yang tampak antusias mengikuti jalannya pagelaran hingga selesai. Melalui momentum ini, diharapkan semangat para pahlawan dalam mempertahankan kemerdekaan dapat terus dikenang dan diimplementasikan melalui pelestarian budaya adiluhung bangsa. (Rls)




















