KORAN MERAPI – Seni rupa kembali menjadi ruang inklusif yang menembus batas-batas perbedaan. Berawal dari kesuksesan gelaran perdana pada Agustus 2025 lalu, pameran bertajuk STRUGGLE II kini hadir mempertemukan energi, gagasan, dan ekspresi batin dari dua dunia yang saling melengkapi. Mengusung tema “Kolaborasi Dua Sisi”, pameran ini merayakan perjuangan (struggle) nyata dalam menghadapi kesulitan, sekaligus memadukan karya-karya seniman neurodivergen (autistik) dengan para seniman neurotipikal profesional di atas satu panggung seni rupa.
Pameran STRUGGLE II resmi dibuka oleh Prof. Dr. M. Baiquni, M.A., Guru Besar UGM yang juga aktif melukis pada Sabtu, 26 September 2026 di Pendopo Area Makan Utama hotel Grand Rohan Jl. Raya Janti Jl. Gedongkuning No.336, Modalan, Banguntapan, Kapanewon Banguntapan, Kabupaten Bantul, DIY.

Pameran ini semakin solid berkat landasan akademis dan kuratorial yang kuat. Teks pengantar pameran ditulis oleh Dr. Hajar Pamadhi, M.A. (Hons), seorang akademisi, kurator, dan pakar analisis lukisan anak yang mengulas secara mendalam hubungan antara seni rupa dan dunia neurodivergen. Diskusi visual pameran ini juga dibedah oleh Dr. Muksin, M.Sn. (kurator dan pengajar FSRD ITB) sebagai Penulis I, serta Basuki Prahoro (seniman berpengalaman internasional yang pernah berkiprah di Singapura dan Beijing) sebagai Penulis II.
Di garis depan seniman neurodivergen, hadir tiga sosok muda berbakat yang membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya secara setara, yaitu Muhamad Haidar Abdullah (19 tahun): Seniman muda asal Semarang ini memiliki potensi besar meski belum lama mendalami seni rupa. Dengan gaya visual yang memikat, Haidar merekam objek alat transportasi dan keseharian secara rinci. Dalam pameran ini, ia berproses di bawah bimbingan pelukis sekaligus pengajar seni, Harry Titut.

Selanjutnya Reynaldi Christian Nugroho / Aldy (28 tahun): Berawal dari pameran tunggalnya di Hari Autisme Internasional saat masih menetap di Bontang, Kaltim, Aldy kini aktif melukis di Studio Tanjakan 98 Yogyakarta. Karya-karyanya kaya akan warna dan gagasan yang diangkat langsung dari pengalaman serta rutinitas hariannya.

Kemudian Anugrah Fadly Kreato Seniman / Uga (28 tahun): Menjadikan seni rupa sebagai terapi sejak kecil, Uga tumbuh menjadi pribadi yang mandiri. Ia merupakan lulusan S1 Seni Patung ISI Yogyakarta dan Magister Pendidikan Luar Biasa (PLB) UNY dengan fokus tesis pada seni terapi. Perupa yang pernah menyabet grant seniman muda potensial dari Balai Lelang Christie Hongkong dan berhasil menjual karyanya di sana kini tengah bersiap mengejar beasiswa studi Doktor (S3).

Ketiga perupa neurodivergen tersebut berkolaborasi erat dengan para seniman senior dan akademisi ternama, yaitu Kukuh Nuswantoro (pemenang UOB Painting of the Year 2017), Samodro, S.Sn., M.Hum. (akademisi seni), Tofan Widianto, serta Harry Titut.

Persentuhan antara imajinasi liar nan polos dari seniman neurodivergen dengan pemikiran teknis-konseptual dari para seniman neurotipikal menghadirkan kejutan visual yang unik bagi para penikmat seni. Perbedaan gaya, warna, dan medium justru melebur menjadi kontras yang harmonis.
Pameran STRUGGLE II bukan semata-mana ajang pamer keindahan estetik, melainkan sebuah tonggak budaya, edukasi, dan motivasi. Bagi Haidar, Aldy, dan Uga, seni rupa adalah media ekspresi batin sekaligus sarana pengembangan keilmuan dan terapi. Lebih jauh lagi, pameran ini memperlihatkan perjuangan nyata para individu neurodivergen untuk mensejajarkan posisi dan kualitas karya mereka dengan para perupa profesional di kancah nasional maupun internasional. (Ags)




















