KORAN MERAPI — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) menyelenggarakan kegiatan Pertunjukan Rakyat (Pertunra) / Pendidikan Rakyat dan Pameran Batik “Gayeng Guyub Sidomukti” di Bangsal Sewokoprojo, Kapanewon Wonosari, Kamis, (08/10/2026). Acara yang melibatkan perwakilan dari 11 sekolah ini menjadi ruang komunikasi publik untuk mengintegrasikan pendidikan, kreativitas seni budaya, serta pengembangan karakter generasi muda sejak usia dini.
Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-196 Kabupaten Gunungkidul sekaligus menindaklanjuti Surat Edaran (SE) Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengenai imbauan penggunaan pakaian batik selama satu bulan penuh.
Kepala Diskominfo Kabupaten Gunungkidul, Setiyo Hartato, menjelaskan bahwa Pertunjukan Rakyat ini dirancang sebagai wahana interaksi, ruang ekspresi, dan sarana komunikasi publik antara pemerintah daerah dan masyarakat. Langkah ini merupakan bagian dari strategi komunikasi dalam mendukung program prioritas Bupati Gunungkidul, yaitu “Gunungkidul Berdikari” dan “Bocah Pinter”.
“Melalui kegiatan ini, para siswa diharapkan dapat memahami bahwa kreativitas dapat dimulai dari rumah dan sekolah, sehingga nilai kemandirian serta semangat berdikari terwujud di Kabupaten Gunungkidul,” terang Setiyo.
Pameran batik ini menghadirkan 14 meja peragaan yang dikelola oleh perwakilan 11 sekolah. Para siswa mempraktikkan langsung proses pembuatan batik mulai dari teknik batik cap, batik tulis, hingga pewarnaan dengan pendampingan dari mitra organisasi seperti Dompet Dhuafa. Mengangkat tema Gayeng Guyub Sidomukti, ajang ini diharapkan mampu memperkuat komunikasi publik, melestarikan budaya, serta memacu semangat berkarya anak muda.
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, memberikan apresiasi tinggi kepada Diskominfo Gunungkidul, jajaran pendidik, serta para siswa yang terlibat. Menurutnya, partisipasi aktif sekolah-sekolah ini merupakan pilar awal (from zero to hero) dalam menumbuhkan kemandirian berbasis kearifan lokal.
Bupati menegaskan bahwa batik tidak sekadar warisan fisik berupa kain atau motif semata, melainkan media transfer pengetahuan, keterampilan, ketelitian, dan kesabaran.

“Saat anak-anak belajar membatik, mereka diajarkan ketelitian, kesabaran, dan rasa menghargai proses. Kita ingin generasi Gunungkidul tumbuh menjadi pribadi yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, namun tetap bangga dan mengakar pada budayanya,” tutur Bupati.
Bupati secara khusus menyoroti keberagaman motif batik karya para siswa yang kaya akan filosofi kehidupan serta identitas lingkungan sekolah masing-masing. Beberapa contoh motif khas yang ditampilkan antara lain seperti Motif Daun Klumpit Terinspirasi dari keberadaan pohon klumpit besar di area sekolah yang berfungsi sebagai tempat berteduh, penahan air tanah, dan penjaga ekosistem.
Selain itu juga ada Motif Daun Pepaya yang menggambarkan dinamika awal berdirinya sekolah yang penuh keterbatasan dan keprihatinan. Rasa pahit daun pepaya disimbolkan sebagai obat yang menguatkan dan menyehatkan.
Guna melindungi karya-karya inovatif tersebut, Bupati menginstruksikan agar motif batik khas sekolah segera didaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) agar memiliki kepastian hukum dan tidak diakui oleh pihak lain. Selain itu, Pemkab Gunungkidul mendorong sinergi dengan Dinas Perindustrian untuk mendampingi tata kelola pemasaran produk batik sekolah, baik sebagai seragam internal maupun produk ekonomi kreatif bernilai tambah (UMKM/BLUD Sekolah).
Merujuk pada nilai sejarah dan pidato Bung Karno tahun 1960 tentang Membangun Dunia Kembali, Bupati mengingatkan bahwa pembangunan daerah tidak hanya berfokus pada fisik dan pertumbuhan ekonomi semata, melainkan juga pembangunan manusia dan penguatan persaudaraan.
“Seni dan budaya harus kita tempatkan sebagai kekuatan pembangunan. Kita tidak ingin anak-anak Gunungkidul hanya menjadi penonton kebudayaan, melainkan harus hadir sebagai pelaku, penjaga, sekaligus pencipta kebudayaan itu sendiri,” pungkas Bupati. (Rls)



















