KORAN MERAPI – Peluang kewirausahaan dapat lahir dari kemampuan mengolah potensi lokal menjadi produk inovatif yang memiliki nilai tambah. Hal inilah yang diperkenalkan Miftahudin Nur Ihsan (Ihsan), pendiri CV Smart Batik Indonesia, kepada mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) dalam kuliah tamu kewirausahaan bertema Business Opportunity and Innovation, Senin, 7 September 2026, di Ruang U-212, Kampus Program Sarjana (S1) FEB UGM, Yogyakarta.
Dalam kuliah tamu tersebut, Ihsan membagikan perspektif mengenai identifikasi peluang usaha melalui inovasi, khususnya pengembangan wastra berbasis komoditas perkebunan. Pengalaman Smart Batik Indonesia menjadi contoh bagaimana batik sebagai warisan budaya Indonesia dapat terus dikembangkan melalui inovasi material, desain, proses produksi, dan model bisnis yang relevan dengan kebutuhan pasar.
Menurut pendekatan yang diperkenalkan dalam materi kewirausahaan tersebut, membangun usaha tidak cukup hanya dengan memiliki ide kreatif. Calon wirausaha perlu memahami persoalan yang dihadapi konsumen, mengidentifikasi kebutuhan pasar, merumuskan nilai produk, dan menguji apakah solusi yang ditawarkan benar-benar memiliki peluang komersial.
Salah satu contoh inovasi yang relevan dengan materi kuliah tersebut adalah Batik Sawit, produk unggulan Smart Batik Indonesia yang mengembangkan pemanfaatan turunan kelapa sawit dalam proses pembatikan, termasuk melalui malam batik berbasis sawit.
Inovasi ini menunjukkan bahwa komoditas perkebunan memiliki peluang untuk dikembangkan lebih jauh melalui industri kreatif. Kelapa sawit tidak hanya dipandang sebagai komoditas bahan baku industri, tetapi juga dapat menjadi bagian dari pengembangan produk fesyen dan wastra yang menggabungkan kreativitas, tradisi, serta inovasi material.

Selain kelapa sawit, kakao juga memiliki potensi untuk dieksplorasi dalam pengembangan produk kreatif. Pemanfaatan bahan atau produk samping kakao yang sesuai, misalnya untuk penelitian pewarna alami, dapat membuka peluang pengembangan wastra berbasis sumber daya lokal. Penggunaannya tetap memerlukan pengujian untuk memastikan kualitas, keamanan, dan konsistensi hasil produksi.
Melalui contoh tersebut, mahasiswa diajak melihat bahwa peluang bisnis dapat ditemukan dengan menghubungkan potensi sektor hulu, seperti perkebunan, dengan kebutuhan sektor hilir, seperti fesyen, kerajinan, dan industri kreatif.
Dalam pengembangan kewirausahaan, Ihsan menekankan pentingnya proses berpikir yang sistematis untuk mengubah ide menjadi peluang bisnis. Proses tersebut dapat dirumuskan melalui tahapan Idea → Insight → Problem → Customer → Value → Opportunity. Ide merupakan titik awal, sedangkan insight membantu wirausaha memahami kondisi dan kebutuhan secara lebih mendalam. Selanjutnya, identifikasi masalah menjadi dasar untuk menentukan pelanggan yang tepat dan merumuskan nilai yang ditawarkan. Setelah itu, peluang usaha perlu divalidasi melalui riset pasar, pengujian produk, serta evaluasi kelayakan bisnis.
Kerangka tersebut relevan bagi mahasiswa yang ingin memulai usaha, sebab tidak semua ide dapat berkembang menjadi bisnis yang berkelanjutan. Peluang yang baik perlu didukung oleh kebutuhan pelanggan yang jelas, keunggulan produk, kemampuan operasional, dan model bisnis yang memungkinkan usaha bertahan serta berkembang. (Rls)




















