KORAN MERAPI – Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Ahmad Munir, menegaskan perjuangan mengenang Fuad Muhammad Syafruddin atau Udin tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial. Upaya tersebut tetap dilanjutkan dengan memperjuangkan keadilan atas kasus pembunuhannya sekaligus mendorong pengakuan negara terhadap pengabdiannya sebagai wartawan pejuang kebebasan pers.
Pesan tersebut disampaikan Ahmad Munir dalam sambutan pada Seminar Nasional bertema “Menelusuri Jejak Perjuangan dan Pengabdian Wartawan Fuad Muhammad Syafruddin (Udin)” yang digelar oleh PWI DIY bersama Tim Ad Hoc Udin di Gedung Induk Lantai 3 Parasamya, Bantul, Kamis (29/10/2026).
Atas nama PWI Pusat, Ahmad Munir menyampaikan apresiasi khusus kepada PWI DIY dan Tim Ad Hoc Udin yang menginisiasi seminar sebagai bagian dari upaya menggali kembali rekam jejak perjuangan Udin serta memperkuat pengusulannya sebagai Pahlawan Nasional bidang jurnalistik.
Menurutnya, Udin bukan sekadar nama dalam sejarah pers Indonesia. Wartawan Harian Bernas Yogyakarta tersebut merupakan simbol keberanian, integritas, dan pengabdian dalam menegakkan kebenaran serta memperjuangkan kepentingan masyarakat.
“Di tengah situasi ketika pers menghadapi berbagai pembatasan pada masa Orde Baru, Udin tetap berpegang pada prinsip bahwa tugas wartawan bukanlah melayani kepentingan kekuasaan, melainkan menyampaikan fakta dan memenuhi hak rakyat untuk memperoleh informasi,” demikian pesan Ahmad Munir dalam sambutannya.
Ahmad Munir menyoroti risiko besar yang dihadapi Udin ketika menjalankan tugas jurnalistik. Pada Agustus 1996, Udin mengalami penganiayaan yang berujung pada kematiannya. Peristiwa tersebut menjadi salah satu catatan kelam dalam perjalanan kebebasan pers di Indonesia.

Tragedi itu, menurut Ahmad Munir, tidak hanya menyangkut keselamatan seorang wartawan, tetapi juga menjadi ancaman terhadap kemerdekaan pers dan kehidupan demokrasi.
Hingga kini, kasus pembunuhan Udin masih menyisakan tuntutan keadilan. Belum tuntasnya pengungkapan kasus tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi berbagai pihak untuk terus mendorong penegakan hukum dan melawan impunitas.
PWI, lanjutnya, berkepentingan memastikan wartawan dapat menjalankan tugas jurnalistik tanpa intimidasi, ancaman, maupun kekerasan.
Karena itu, penghormatan terhadap Udin harus diwujudkan melalui langkah nyata, termasuk memperkuat perlindungan wartawan, meningkatkan profesionalisme, menjaga independensi redaksi, dan mendorong penegakan hukum terhadap setiap tindak kekerasan terhadap insan pers.
Ahmad Munir menegaskan, pengusulan Udin sebagai Pahlawan Nasional bidang jurnalistik memiliki makna lebih luas daripada penghormatan terhadap seorang wartawan yang meninggal setelah menjalankan tugasnya.
Upaya tersebut merupakan ikhtiar untuk mendapatkan pengakuan negara atas kontribusi insan pers dalam menjaga demokrasi, mengawal kepentingan publik, dan memperjuangkan hak masyarakat atas informasi.
Namun, proses pengusulan gelar Pahlawan Nasional harus mengikuti ketentuan yang berlaku. Karena itu, perjuangan tersebut perlu ditopang dokumentasi sejarah yang kuat, kajian akademis mendalam, kesaksian yang dapat dipertanggungjawabkan, serta dukungan masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan.
Seminar nasional yang digelar PWI DIY diharapkan menjadi ruang untuk menghimpun pemikiran, menggali kembali rekam jejak pengabdian Udin, dan memperkuat argumentasi historis mengenai kontribusinya bagi bangsa.
Ahmad Munir juga berharap diskusi dalam seminar menghasilkan rekomendasi konkret yang dapat menjadi pijakan bagi kelanjutan proses pengusulan tersebut.
“PWI Pusat mendukung upaya yang dilakukan PWI Yogyakarta dan seluruh pihak yang berkomitmen memperjuangkan pengakuan terhadap pengabdian Udin,” demikian disampaikan dalam sambutannya.
Selain mendorong pengakuan negara, Ahmad Munir mengajak seluruh insan pers Indonesia melanjutkan warisan perjuangan Udin melalui karya jurnalistik yang independen, berimbang, akurat, beretika, dan berpihak pada kepentingan publik.
Menurutnya, kemerdekaan pers bukanlah sesuatu yang perjuangannya telah selesai. Kebebasan tersebut harus terus dijaga melalui tanggung jawab, integritas, serta keberanian menyampaikan kebenaran.
Penghormatan kepada Udin, dengan demikian, tidak cukup diwujudkan melalui peringatan tahunan atau seminar. Nilai-nilai perjuangannya perlu menjadi pedoman bagi wartawan dalam menjalankan profesi sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat.
Ahmad Munir berharap seminar nasional tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan memperjuangkan keadilan bagi Udin dan mengupayakan pengakuan yang layak dari negara atas pengabdiannya.
“Mari kita jadikan semangat Udin sebagai inspirasi bagi wartawan Indonesia untuk tetap teguh menjalankan tugas profesi, menjaga kepercayaan publik, dan tidak pernah meninggalkan prinsip kebenaran serta keadilan,” pesannya.
Perjuangan Udin, menurut pesan Ketua Umum PWI Pusat tersebut, harus terus dihidupkan melalui komitmen menjaga kemerdekaan pers, melindungi wartawan, dan memperjuangkan hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar. (Rls)



















