KORAN MERAPI – Seniman sekaligus sastrawan senior Evi Idawati kembali hadir lewat karya teater terbaru berjudul Sindikat Tuak Perempuan, yang akan dipentaskan dalam rangka Festival Teater Perempuan Yogyakarta 2025. Pertunjukan ini dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 20 September 2025 mendatang pukul 19.00 WIB di Auditorium WS Rendra, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Pertunjukan ini gratis dan terbuka untuk umum.

Dikenal sebagai penulis, aktor, sekaligus sutradara, Evi Idawati telah berkiprah selama lebih dari tiga dekade di dunia seni dan sastra Indonesia. Sejak angkatan 2000, Evi tidak hanya menulis tetapi juga mementaskan karya-karyanya dalam bentuk kolaboratif lintas seni, menjadikannya salah satu figur penting dalam dunia pertunjukan sastra di Yogyakarta.
Dalam bincang-bincang eksklusif bersama media koranmerapi.id di Rumah Sastranya, Senin (8/9), Evi memaparkan bahwa Sindikat Tuak Perempuan adalah bentuk “teriakan” terhadap berbagai wajah kebohongan, keserakahan, dan penindasan yang kerap dibalut simbol kesalehan.
Naskah ini mengkritik cara sebagian masyarakat menyembunyikan tindakan jahat di balik simbol keagamaan demi meraih legitimasi sosial, salah satunya melalui penggunaan kerudung.

“Ini adalah cara saya merekonstruksi ulang nilai-nilai kesalehan yang telah terdistorsi. Lewat teater, saya ingin menyuarakan suara-suara perempuan yang selama ini dibungkam oleh sistem yang hipokrit,” ujar Evi.
Pementasan berdurasi 45 menit ini melibatkan 20 pemain dari Rumah Sastra EID, komunitas yang didirikan Evi sebagai ruang edukasi dan apresiasi seni-sastra bagi anak-anak dan remaja di DIY. Selain pembinaan sastra, komunitas ini juga mengasah kemampuan panggung dan film bagi anggotanya.

Dalam pertunjukan ini, Evi menggandeng sejumlah kolaborator muda, antara lain Maharani Khan Jade, Muhammad Abdul Aziz, dan Kiu Illyasa untuk penataan artistik, serta Metta sebagai koreografer. Sementara musik ditata oleh Hari Macan dan Antero Ideawork.
Karya Sindikat Tuak Perempuan tidak hanya menjadi perayaan estetika teater dan sastra, tetapi juga panggilan untuk menyadarkan publik akan realitas sosial yang kerap ditutupi. Sebuah pementasan yang tidak hanya menyentuh, tetapi juga menggugah. (Ags)


















