KORAN MERAPI — Departemen Teknik Sipil Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM) kembali menyelenggarakan kegiatan tahunan Civil Creative and Action (CREATION) 2025, sebagai wadah ide dan inovasi dalam pengembangan ilmu teknik sipil yang berkelanjutan. Salah satu rangkaian kegiatan tersebut adalah Eco Infrastruktur Festival (EIF) atau Festival Kayen Lestari, yang digelar pada Sabtu (25/10/25) di Pendopo Green Kayen, Jalan Kaliurang Km 6,5, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta.
Dalam sambutannya, Ketua Panitia CREATION 2025, Dito Pamungkas, didampingi oleh Koordinator Sie Acara, Jonathan, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian 9th Civil Creative and Action (9th CREATION) SV UGM dengan tema besar “Perkembangan Konstruksi Digital dan Bangunan Hijau Berkelanjutan untuk Era Indonesia Emas.”
“Melalui Eco Infrastruktur Festival ini, kami ingin menumbuhkan kesadaran pentingnya penerapan teknologi dan inovasi ramah lingkungan dalam bidang teknik sipil, sekaligus memberdayakan masyarakat desa agar turut aktif menjaga kelestarian lingkungan,” ujar Dito.
Eco Infrastruktur Festival 2025 terbagi menjadi dua subacara utama, yaitu Seminar Nasional dan Program Pengabdian Masyarakat. Salah satu kegiatan unggulan dalam program pengabdian masyarakat adalah Festival Kayen Lestari, yang dilaksanakan di Desa Kayen pada 20–27 September 2025 dan mencapai puncaknya pada kegiatan hari ini.
Acara puncak menghadirkan Talk Show Interaktif Festival Kayen Lestari dengan narasumber, Harris Syarif Usman, S.H., M.Kn. (Pokja Boyong Code), Ir. Agus Prasetya, M.Eng.Sc., Ph.D. (Dosen Teknik Kimia UGM), Titik Ai Luh (Pengelola Ekowisata Pasar Kebon Empring, Piyungan, Bantul) dan Dadang Hermawan (Ketua Pokdarwis Green Kayen)
Sementara itu, Keynote Speaker pada kegiatan ini adalah Prof. Dr. Ing. Agus Maryono, IPM., ASEAN Eng., selaku Dekan Sekolah Vokasi UGM.
Hadir dalam kegiatan ini sejumlah tokoh dan pemangku kepentingan, antara lain perwakilan REC, Dukuh Kayen, Babinkamtibmas, para pelaku ekowisata Green Kayen, anggota Pokdarwis, tokoh masyarakat, Karang Taruna, PKK, pegiat komunitas sungai se-DIY, serta mahasiswa Sekolah Vokasi UGM.
Dalam sesi diskusi, Harris Syarif Usman menekankan pentingnya menjaga kelestarian sungai Boyong dan Code sebagai sumber kehidupan sekaligus potensi ekonomi bagi masyarakat.
“Sungai memiliki peran vital, terutama sebagai sumber pendapatan bagi desa wisata berbasis sungai. Namun meningkatnya aktivitas wisata juga menimbulkan tantangan baru, seperti bertambahnya sampah. Ini harus dikelola dengan bijak agar tidak mencemari sungai dan merusak ekosistem,” jelas Harris.
Ia menambahkan bahwa kelompok sadar wisata (Pokdarwis) harus tanggap terhadap isu lingkungan dengan membuat program pengelolaan sampah, pembentukan bank sampah, serta memanfaatkan teknologi tepat guna agar tercipta desa wisata sungai yang ramah lingkungan, lestari, dan berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, Sekolah Vokasi UGM menegaskan komitmennya dalam mendorong inovasi teknik sipil yang berpihak pada keberlanjutan lingkungan serta pemberdayaan masyarakat. Diharapkan kegiatan seperti Eco Infrastruktur Festival dapat menjadi model sinergi antara perguruan tinggi, masyarakat, dan pemerintah dalam mewujudkan pembangunan infrastruktur hijau menuju Indonesia Emas 2045. (Rls)



















