KORAN MERAPI – Bertempat di Auditorium BRI Lt 3 Gd MD FEB UGM, Rabu (19/11/25) tampak lebih ramai daripada biasanya. Deretan pengelola kantin, pelaku UMKM kampus, dosen, dan mahasiswa memenuhi kursi yang tersusun rapi. Di panggung depan, terpampang satu pesan kunci: “Menuju Sertifikasi Halal Seluruh Kantin UGM. Di sebuah universitas yang berdiri sejak 1949, perjalanan hari itu bukan sekadar sosialisasi. Ia adalah langkah awal menuju perubahan besar, perubahan yang mungkin akan dicatat sebagai pijakan sejarah.
“Jika seluruh kantin UGM bersertifikat halal, kita akan menjadi kampus pertama di dunia yang melaksanakannya,” ujar Dr. Reni Rosari, MBA, dengan suara tenang namun tegas. Kalimat itu menggema, mematri tekad sekaligus tantangan baru bagi universitas yang sejak lama dikenal sebagai pelopor pemikiran dan kebijakan publik.

Di sinilah sains, regulasi, dan kepemimpinan bertemu. Prof. Dr. Lili Arsanti Lestari mengurai kompleksitas audit halal dengan presisi seorang peneliti. Ir. Nanung Danar Dono, Ph.D., menjelaskan prinsip halal dengan bahasa dapur yang sederhana: pisau harus terpisah, bahan jelas sumbernya, dan ketelusuran harus dijaga dari hulu sampai hilir.
Kantin bagi UGM bukan sekadar ruang makan. Ia adalah titik temu manusia, percakapan, dan nilai. Di situlah mahasiswa belajar tentang kepercayaan, keamanan pangan, dan tanggung jawab sosial tanpa mereka sadari.
Lewat Program Sertifikasi Halal PKM PIIH Sekolah Pascasarjana UGM, UGM memilih jalan pendampingan yang tidak hanya administratif tetapi juga edukatif. Ada Halal Learning Circle, ada pelatihan SIHALAL, ada skema self-declare BPJPH yang dirancang memberdayakan. Semua dijalankan sebagai proses bersama.
Namun momen paling simbolis hari itu terjadi ketika Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Aset, dan Sistem Informasi, Dr. Arief Setiawan Budi Nugroho, berdiri di panggung untuk menyerahkan sertifikat halal kepada dua tenant kantin yang telah lulus audit, masing-masing dari FEB dan Fakultas Biologi. Tepuk tangan panjang mengisi ruangan. Penyerahan itu menjadi tanda bahwa perjalanan UGM bukan lagi wacana melainkan telah bergerak, nyata dan terukur.
“Ini adalah bagian dari transformasi layanan publik UGM,” kata Dr. Arief Setiawan Budi Nugroho, Wakil Rektor, yang sejak awal memfasilitasi upaya lintas unit ini.

Jika kelak seluruh kantin tersertifikasi halal, UGM bukan hanya memenuhi regulasi. Ia sedang membangun preseden global, bahwa kampus bisa menjadi ruang belajar nilai, bukan hanya akademik. Bahwa dapur pun bisa menjadi bagian dari peradaban.
Jika kelak semua kantin UGM bersertifikat halal, dunia pendidikan mungkin akan belajar dari langkah universitas ini bahwa peradaban bisa dimulai dari hal sederhana: memastikan setiap makanan yang tersaji bersih, aman, dan membawa ketenangan.
Hari itu, di auditorium kampus, bab pertama dari perjalanan panjang itu resmi dimulai. Dan UGM memilih untuk berjalan paling depan. (Rls)



















