KORAN MERAPI — Malioboro kembali menjadi topik hangat dalam Dialog Budaya & Gelar Seni “YogyaSemesta” Seri 173 yang digelar di Pendopo Wiyatapraja, Kompleks Kepatihan, Kamis malam (11/12/25). Kegiatan ini menghadirkan diskusi lintas perspektif tentang potensi Malioboro sebagai ruang interaksi budaya, ekonomi kreatif, sekaligus kawasan sastra yang hidup dan berkelanjutan.
Dialog menghadirkan tiga pembicara utama, yakni Wawan Hermawan, SE, MM (Wakil Walikota Yogyakarta), Evi Idawati (sastrawan dan seniman), serta Agus Dayak Imron (penggiat ekonomi kreatif). Diskusi dimoderatori oleh Rommy Heryanto dari Dewan Pendidikan DIY.
Acara diawali dengan doa bersama untuk para korban bencana banjir di Sumatera, sebagai wujud empati dan solidaritas kebudayaan. Setelah itu, suasana Pendopo Wiyatapraja semakin semarak dengan berbagai penampilan seni, antara lain kelompok Cokean dari Sanggar Budaya Rasa Mulya Yogyakarta, Musik Kelompok Musik Balung Sempal, dan Kelompok Musik Congpick. Puncak gelar seni ditandai dengan musikalisasi puisi “Inilah Aku, Malioboro” karya Rommy Heryanto yang dibawakan oleh The Must Dark.
Diskusi berlangsung hangat dan akrab, dihadiri para budayawan, seniman, pelaku ekonomi kreatif, serta anak-anak muda, khususnya Generasi Z dari Piwulang Padepokan Sastra dan Seni dan komunitas seni lainnya, yang setia mengikuti acara hingga akhir.
Dalam pemaparannya, Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Hermawan, menegaskan bahwa Malioboro memiliki daya dan kekuatan sebagai ruang interaksi ekonomi, seni, dan budaya yang saling menghidupi. Malioboro bukan sekadar kawasan wisata, tetapi ruang publik dengan nilai historis dan filosofis yang terus berkembang.
Sementara itu, Evi Idawati menekankan pentingnya keseimbangan antara merawat makna filosofi dan memberi ruang ekspresi kreatif, khususnya bagi generasi muda.

Menurutnya, tidak cukup Malioboro hanya menjadi etalase seni dan budaya, tetapi perlu disiapkan ruang khusus yang melibatkan anak-anak muda untuk mengeksplorasi dan menciptakan karya sastra.
“Generasi Z adalah penjaga dan perawat sumbu filosofi di masa depan,” tegasnya.
Sejarah sastra Yogyakarta, lanjut Evi, mencatat Malioboro sebagai ruang kreatif yang melahirkan banyak sastrawan besar, seperti Emha Ainun Nadjib, Linus Suryadi AG, Iman Budhi Santosa, dan lainnya. Jejak Malioboro dalam sejarah sastra Yogyakarta adalah sesuatu yang tidak mungkin dihapuskan.
Namun pertanyaannya, bagaimana generasi sastra muda hari ini memaknai sumbu filosofi tersebut? Apakah cukup hanya memandang dari kejauhan, mengutip referensi, lalu menulis tentang ruang yang belum benar-benar mereka akrabi?
Dari kegelisahan itulah, Evi Idawati menawarkan konsep “Wisata Sastra Malioboro”, sebuah gagasan yang melibatkan anak-anak muda Yogyakarta secara langsung untuk membaca, menelusuri, mendokumentasikan, dan mencipta karya sastra berbasis pengalaman ruang Malioboro.
Menanggapi hal tersebut, Agus Dayak Imron memberikan wacana penguatan melalui museum digital Malioboro, sebagai upaya mendokumentasikan sejarah, memori kolektif, serta denyut kreatif Malioboro dalam format yang relevan dengan perkembangan teknologi dan minat generasi muda.
Sebelum sesi tanya jawab dibuka, suasana diskusi ditutup sementara dengan pembacaan puisi “Malioboro, Jejak Kaki dan Lalu Lalang Orang” oleh Evi Idawati, yang menjadi penanda bahwa Malioboro bukan sekadar ruang fisik, melainkan ruang batin, ingatan, dan perjumpaan yang terus hidup.
Dialog Budaya YogyaSemesta Seri 173 ini menegaskan satu pertanyaan reflektif sekaligus provokatif: Wisata Sastra Malioboro, mengapa tidak?
Sebuah gagasan yang menantang semua pihak untuk kembali merawat Malioboro sebagai ruang sastra, ruang generasi, dan ruang masa depan. (Rls)



















