KORAN MERAPI – Sungai Code kembali menjadi ruang belajar internasional. Sebanyak 138 mahasiswa asal Australia mengikuti kuliah lapangan di Sekolah Sungai Code, Yogyakarta, dalam rangka mempelajari praktik pengelolaan sungai, mitigasi bencana, serta adaptasi masyarakat perkotaan terhadap lingkungan.
Kehadiran mahasiswa Australia tersebut dilakukan secara bertahap, yakni 53 mahasiswa pada 27 November 2025, 53 mahasiswa pada 11 Desember 2025, dan 32 mahasiswa pada 20 Desember 2025. Rombongan diterima langsung oleh para pegiat Sungai Code, di antaranya Totok Pratopo, Ariyanto, Sudiarso, Muklis, Rafika, Sutanti, serta pegiat lainnya.
Sungai Code selama ini dikenal luas sebagai rujukan studi bagi peneliti dan pemerhati lingkungan, baik dari dalam maupun luar negeri. Sungai yang membelah Kota Yogyakarta ini juga merupakan ikon dan landmark kota, sekaligus kawasan penyangga Sumbu Filosofi Yogyakarta yang telah ditetapkan sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO. Sungai Code berhulu langsung di Gunung Merapi (Sleman) dan bermuara di tempuran Kali Opak (Bantul) dengan panjang sekitar 41 kilometer.
Menurut Harris Syarif Usman, pengelola Sekolah Sungai dan Bencana, para mahasiswa diajak menyusuri berbagai titik pembelajaran sekaligus berdialog langsung dengan warga dan pengelola kawasan. Lokasi yang dikunjungi antara lain Kampung Romo Mangun Gondolayu Kotabaru, Kelompok Tani Perkotaan, Bank Sampah, Ruang Terbuka Hijau Publik (RTHP), Early Warning System (EWS) kebencanaan, sistem sanitasi dan IPAL komunal, Pamsimas, IPAL portable, The World Mosquito Program, hingga Galeri Sekolah Sungai.

Dalam kuliah lapangan tersebut, mahasiswa mempelajari beragam praktik baik, mulai dari pengelolaan sungai berbasis masyarakat, mitigasi banjir dan longsor, urban farming, hingga implementasi model rumah Program M3K (Mundur, Munggah, Madhep Kali). Selain itu, mereka juga belajar tentang pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui Program Mas Jos (Jogja Olah Sampah) serta model pengelolaan ruang terbuka hijau sebagai bentuk adaptasi warga dalam melestarikan Sungai Code.
Kegiatan kuliah lapangan berlangsung interaktif dan hidup. Para mahasiswa tampak antusias berdiskusi, mencatat, serta mengamati langsung berbagai praktik pengelolaan lingkungan yang menjadikan Sungai Code sebagai laboratorium sosial-ekologis yang telah dikenal hingga tingkat internasional.
Selain pendekatan lingkungan dan teknis, pelestarian Sungai Code juga dilakukan melalui jalur budaya. Upacara Adat Merti Code, yang melibatkan pusaka Tombak Kyai Ranumurti pemberian Sri Sultan, menjadi salah satu upaya pelestarian Sungai Code dari sisi kultural.
“Model pengelolaan kawasan Code oleh warga bantaran sungai menunjukkan bahwa sungai bukan hanya ruang hidup, tetapi juga ruang belajar. Bahkan, gagasan awal berdirinya Sekolah Sungai Indonesia berangkat dari praktik-praktik baik yang berkembang di kawasan Code ini,” tandas Harris Syarif Usman. (Rls)



















